Menhub Ajak Anak Usaha Telkom Awasi Angkutan Laut dan Udara

0
255
Budi Karya Sumadi.
Budi Karya Sumadi.

Jakarta, Nawacita Kementerian Perhubungan (Kemenhub) jajaki kerja sama dengan anak usahaTelkom Indonesia, PT Patra Telekomunikasi Indonesia (Patrakom) untuk memperkuat sektor laut dan udara khususnya mengawasi  angkutan laut dan udara.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menerangkan banyak perubahan yang harus dilakukan dalam angkutan laut dan udara. Salah satunya pengawasan, karena pengawasan yang berjalan masih dianggap sangat lemah. Hal itu juga berkaitan dengan konektivitas dan data.

“Kita harus perkuat monitoring di angkutan laut seperti kapal perintis, kapal logistik, kapal navigasi, dan kapal keamanan. Sementara di udara kita punya konektivitas berkaitan dengan airlines, dan sebagainya,” ujar Budi dalam keterangan tertulis, Kamis (22/3/2018).

Pada kesempatan tersebut terkait dengan angkutan laut, Budi meminta dukungan Patrakom untuk mengawasi Kapal Perintis dalam hal volume penumpang, lokasi tujuan kapal perintis, serta barang-barang yang dibawa oleh penumpang.

“Untuk kapal perintis, kita keluar uang ratusan miliar.  Akan tetapi kita tidak bisa pantau berapa volumenya, ke mana saja, apa saja yang dibawa. Itu musti dipantau,” tutur Budi.

Sementara dalam angkutan udara, Budi akan bekerjasama untuk melakukan monitor navigasi pesawat. Salah satunya akan dilakukan di Papua karena pesawat yang beroperasi merupakan pesawat-pesawat kecil yang harus di monitor lebih detail.

“Navigasi harus lebih sensitif lagi, karena kita punya konektivitas di udara maka ini harus dipantau. Salah satunya di Papua, karena baru pesawat-pesawat kecil yang bisa beroperasi dan menjangkau daerah tersebut.” tambah Budi.

PT Patra Telekomunikasi Indonesia yang merupakan anak usaha Telkom menyediakan sistem Vessel Information System dalam bentuk aplikasi mobile yang dapat memonitor pergerakan kapal secara real time yang ditampilkan dalam peta secara presisi, putaran mesin kapal, konsumsi BBM, dan juga mendukung penyediaan layanan IT diatas kapal seperti internet dan banking.

Menhub: 40 Perdagangan Dunia Lewat Indonesia

Sebelumnya, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan, 90 persen dari jalur perdagangan dunia diangkut melalui laut dan 40 persen dari perdagangan tersebut melewati Indonesia.

Ia mengatakan, ini merupakan kesempatan Indonesia untuk menjadi negara poros maritim dunia dengan meningkatkan sistem transportasi laut yang terintegrasi.

“Ini kesempatan bagi Indonesia untuk menjadi negara poros maritim dunia. Untuk itu, kita perlu meningkatkan sistem transportasi laut yang terintegrasi karena poros maritim yang terintegrasi sangat diperlukan dalam penyelenggaraan rantai pasok yang maksimal,” jelas Menhub dalam keterangannya, Sabtu 3 Maret 2018.

Menhub menjelaskan, pada 2017 yang lalu, Indonesia menduduki peringkat ke-36 dalam persaingan global di dunia. Peringkat tersebut meningkat dari tahun sebelumnya yang berada di posisi 41.

“Indeks tersebut memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki daya saing global yang semakin meningkat, yang ditandai dengan adanya pembangunan infrastruktur secara masif. Kementerian Perhubungan memiliki peranan penting, yaitu dengan pembangunan infrastruktur perkeretaapian, pelabuhan dan bandar udara yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia,” ujar Menhub.

Lebih lanjut, pemerintah telah membangun 124 unit kapal untuk kapal perintis serta penyelenggaraan program tol laut yang bertujuan untuk menurunkan tingkat disparitas harga di wilayah Barat dan Timur Indonesia.

Hal ini sejalan dengan Nawacita Presiden Jokowi yang bertujuan untuk menjadikan Indonesia berdaulat secara politik, mandiri dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.

“Kita membangun 124 kapal untuk kapal perintis, kapal rede, kapal pelra, kapal ternak dan kapal kontainer serta tol laut. Di tahun 2018 ini tol laut sudah mencapai 15 trayek yang diharapkan nantinya dapat menjangkau dan mendistribusikan bahan kebutuhan pokok di seluruh wilayah Indonesia,” tutur Menhub.

Pada 2017, program tol laut telah memberikan hasil melalui penurunan disparitas harga sampai dengan 23 persen di wilayah Timur Indonesia. Hal ini tentunya meningkatkan kesejahteraan yang merata bagi masyarakat Indonesia.

lpt6

LEAVE A REPLY