BPS Sebut Defisit Neraca Perdagangan Jadi “Warning”

0
537
Ilustrasi.
Ilustrasi.
JAKARTA, Nawacita –Badan Pusat Statistik mengemukakan defisit neraca perdagangan tiga kali berturut-turut menjadi ‘warning’ bagi semua pihak.
Pasalnya, kondisi ini dapat mengerek posisi neraca perdagangan Indonesia menjadi defisit dari posisi surplus US$11,84 miliar sepanjang 2017.
Tidak hanya itu, posisi defisit dalam neraca perdagangan dapat menekan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2017.
Per Desember 2017, Indonesia mengalami defisit US$270 juta. Defisit ini berlanjut pada Januari dan Februari 2018 sebesar masing masing US$680 juta dan US$120 juta.
Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia Januari-Februari 2018 mencapai US$870 juta.  Sementara itu, pada periode yang sama tahun lalu, neraca perdagangan Indonesia berada di posisi surplus sebesar US$2,75 miliar.
Ketua Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto mengatakan pihaknya tidak berharap kondisi defisit ini berlanjut hingga ke bulan Maret.
Dia menambahkan pihaknya optimis karena angka defisit dari Desember 2017 sampai Januari 2018 semakin mengecil.
“Saya berharap ke depan jangan defisit lagi karena ini akan berpengaruh. Januari dan Februari defisit, kita hanya punya sisa bulan Maret supaya pertumbuhan ekonomi kita triwulan I tidak ketarik ke bawah,” tegas Kecuk, Kamis (15/3/2018).
Jika dilihat kontribusinya terhadap ekonomi, share ekspor masih lebih besar sekitar 21%, sementara impor sekitar 19,5%-20%. Dalam hitungannya, ekspor ada pendorong pertumbuhan dan impor faktor pengurangnya.
Idealnya, ekspor harus tinggi sehingga mengerek nilai surplus neraca perdagangan.
“Itu baru akan berpengaruh besar kepada pertumbuhan ekonomi.”
Ke depannya, BPS menilai diversifikasi produk harus digenjot karena ekspor Indonesia masih terpaku pada sumber daya alam dan komoditas.
“Itu merupakan PR besar kita bagaimana kita bisa membuat nilai tambah dari produk eskpor kita. Kalau tidak kita susah.”
Selain itu, Kecuk berharap produk ekspor kita harus memiliki nilai tambah agar berdaya saing tinggi di pasar internasional
Dia menambahkan ekonomi Indonesia yang  masih diwarnai dengan biaya tinggi perlu diperbaiki dari sisi regulasi dan lain sebagainya.
Berkaca dari tahun lalu, BPS mewaspadai defisit yang terjadi pada Juli dan Desember. Khusus defisit Juli, faktor penyebabnya adalah musiman, yaitu Lebaran.
M. Faisal, Direktur Eksekutif Core Indonesia, mengungkapkan meskipun dalam beberapa bulan ke depan ada potensi untuk kembali surplus, struktur neraca perdagangan masih sangat rentan mengalami defisit karena masih lemahnya peran ekspor manufaktur.
“Apalagi, defisit migas masih cenderung melebar karena dorongan kenaikan harga minyak dan peningkatan volume impor migas antisipasi lebaran,” kata Faisal.
Sementara itu, ekspor komoditas sawit yang menjadi andalan utama Indonesia menghadapi berbagai ancaman proteksi di berbagai negara, khususnya Eropa, Amerika, bahkan negara importir terbesar India yang akan menerapkan bea masuk sebesar 44% untuk komoditas sawit Indonesia.
“Kondisi ini sekali lagi menjadi warning bagi pemerintah untuk segera menempatkan upaya peningkatan daya saing industri manufaktur secara komprehensif sebagai agenda utama ke depan”.
Bukan sekedar untuk memperkuat neraca perdagangan, Faisal menambahkan upaya ini juga dimaksud untuk mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi.
bsn

LEAVE A REPLY