Tuesday, May 26, 2026

PHE Gandeng PGN dan Pupuk Indonesia Kembangkan CCS untuk Amonia Rendah Karbon

PHE Gandeng PGN dan Pupuk Indonesia Kembangkan CCS untuk Amonia Rendah Karbon

Tangerang, Nawacita – Upaya pengembangan industri rendah karbon di Indonesia terus diperkuat. PT Pertamina Hulu Energi (PHE) bersama PT Pertamina (Persero), PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, dan PT Pupuk Indonesia (Persero) resmi menjalin kerja sama studi pengembangan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) guna mendukung produksi amonia rendah karbon.

Kesepakatan tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Joint Study Agreement (JSA) dalam rangkaian Indonesia Petroleum Association Convention and Exhibition 2026 di ICE BSD, Tangerang, Kamis (21/5/2026).

Kolaborasi antarperusahaan nasional ini menjadi langkah strategis dalam membangun rantai nilai dekarbonisasi industri. Melalui skema tersebut, emisi CO₂ dari pabrik amonia milik Pupuk Indonesia dan afiliasinya akan ditangkap, diangkut, lalu diinjeksi ke wilayah kerja Pertamina yang memiliki potensi penyimpanan karbon.

Penandatanganan dilakukan oleh Senior Vice President Technology Innovation & Implementation Pertamina Hana Timoti, Direktur Investasi dan Pengembangan Bisnis PHE Dannif Utojo Danusaputro, PTH Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN Hery Murahmanta, serta Direktur Teknik dan Pengembangan Bisnis Pupuk Indonesia Jamsaton Nababan.

Prosesi tersebut turut disaksikan VP Business Support SKK Migas Firera, Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza, dan Direktur Utama PHE Awang Lazuardi.

Melalui studi bersama ini, para pihak akan mengeksplorasi potensi pengembangan CCS untuk mendukung produksi amonia rendah karbon sebagai bagian dari transisi energi dan pengurangan emisi sektor industri nasional.

Skema kerja sama itu mencakup integrasi rantai CCS mulai dari penangkapan karbon di fasilitas produksi amonia milik Pupuk Indonesia, proses transportasi CO₂, hingga injeksi ke lokasi penyimpanan potensial di wilayah kerja Pertamina.

Ruang lingkup studi juga mencakup pengembangan fasilitas produksi amonia rendah karbon pada aset eksisting milik Pupuk Indonesia dan afiliasinya. CO₂ berlebih dari fasilitas tersebut nantinya akan dikaji untuk disalurkan ke area penyimpanan potensial di sekitar Jawa Barat dan Jawa Timur.

Direktur Investasi dan Pengembangan Bisnis PHE, Dannif Utojo Danusaputro, menyebut kerja sama lintas sektor ini menjadi langkah penting dalam membangun ekosistem CCS terintegrasi di Indonesia.

“Kerja sama lintas sektor ini menunjukkan komitmen bersama dalam menghadirkan solusi dekarbonisasi yang nyata untuk industri strategis nasional. Sinergi ini diharapkan dapat membuka peluang pengembangan CCS yang lebih luas sekaligus mendukung target net zero emission Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Senior Vice President Technology Innovation & Implementation Pertamina, Hana Timoti, menegaskan pengembangan CCS untuk amonia rendah karbon menjadi langkah strategis dalam memperluas penerapan teknologi rendah karbon di sektor industri nasional.

“Studi bersama ini merupakan wujud sinergi antarentitas dalam Pertamina Group dan mitra strategis nasional untuk mengembangkan rantai nilai karbon yang terintegrasi,” ujar Hana.

Melalui pemanfaatan teknologi CCS, kami berharap dapat mendukung pengembangan produk rendah karbon seperti amonia. “Sekaligus memperkuat daya saing industri nasional dalam menghadapi transisi energi global,” imbuhnya.

Melalui kolaborasi ini, PHE bersama mitra strategis berharap implementasi teknologi CCS dapat dipercepat sebagai bagian dari pengembangan bisnis rendah karbon sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan solusi energi berkelanjutan di kawasan regional.

PHE juga menegaskan komitmennya terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam pengelolaan bisnis hulu migas. Selain itu, perusahaan menerapkan kebijakan Zero Tolerance on Bribery melalui implementasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) yang telah terstandarisasi ISO 37001:2016.

Reporter: Parto Sasmito

 

- Advertisement -
RELATED ARTICLES

Terbaru