Dirut Garuda Jawab Berbagai Kekhawatiran Masalah Kebangkrutan Maskapai

0
453
Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Pahala N Mansury
Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Pahala N Mansury

JAKARTA, Nawacita – PT Garuda Indonesia Tbk mendapat sorotan dari sejumlah pihak karena munculnya kekhawatiran bahwa maskapai tersebut akan bangkrut akibat terbebani utang.

Namun, apakah Garuda memang akan bangkrut karena utang? Untuk mengetahui hal itu, Kompas.com mewawancarai Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala Mansury pada Rabu (14/6/2017). Berikut petikannya:

Bisa dijelaskan kondisi keuangan Garuda Indonesia saat ini yang disebut-sebut akan bangkrut?

Kalau dari kami, struktur keuangan Garuda Indonesia baik dan sehat. Jadi kami punya likuiditas yang masih baik. Tingkat utang juga masih rendah untuk saat ini. Debt to equity ratio (rasio utang terhadap ekuitas) itu di bawah 2,5 kali. Biasanya di industri perbankan rasio tersebut dijaga di bawah 3 kali. Kalau mau konservatif di bawah 2,5 kali.

Dari sisi itu, tidak ada masalah. Yang justru diperlukan saat ini adalah perbaikan dari sisi operasional yang berpengaruh terhadap kinerja keuangannya.

Perbaikan dari sisi operasional bagaimana caranya?

Pertama mengoptimalkan biaya pesawat. Biayanya sekarang 30-35 persen dari total cost perusahaan. Dari sisi itu, kami seharusnya bisa mengoptimalkan utilisasi pesawat-pesawat yang kami miliki. Opsi lainnya adalah menurunkan biaya tersebut. Ini yang memang harus dilakukan untuk optimalisasi pesawat. Sehingga biaya atau cost per seat itu lebih murah.

Kedua melakukan peningkatan kualitas pelayanan kami. Dari pelayanan kabin memang sudah baik, ini yang harus dijaga. Pelayanan dan produk itu harus lebih unggul dari airlines lain, seperti ketepatan terbang, waktu package handling, termasuk berapa banyak penumpang yang bisa menggunakan garbarata.

Bagaimana dengan rute penerbangan?

Kami akan merestrukturisasi rute dan network yang ada. Ini dilakukan untuk memastikan agar rute-rute kami menguntungkan. Sekarang ada sekitar 10 rute dan 10 rute internasional yang kinerjanya buruk. Bukan berarti rute-rute tersebut akan dihapuskan, tapi direstrukturisasi saja. Caranya, memastikan apakah itu jenis pesawatnya sudah tepat? Atau misalnya apakah rotasi pesawatnya sudah tepat?

Bisa disebutkan salah satu rute yang kinerjanya buruk?

Salah satunya ke London. Selama ini kerugiannya cukup besar. Load factor lumayan di atas 62 persen. Tapi dengan kondisi sekarang perlu perbaikan, utamanya konektivitas.

Ada rute-rute internasional yang sudah tinggi load factornya dan itinggal mengoptimalkan. Itu yang memang harus ditingkatkan.

Terkait dengan sistem penjualan tiket, apa yang akan dilakukan?

Kami memperbaiki channel penjualan. Kami punya channel digital, ada outlet penjualan. Bagaimana saluran digital bisa lebih baik lagi. Outlet kita juga perlu peningkatan produktivitas. Yang juga akan kami lakukan adalah memperbaiki revenue management system.

Untuk penerbangan ke Amerika Serikat, apakah Garuda tetap memiliki rencana tersebut?

Ke AS, kami tinggal menunggu izin dari Department of Transportation. Sertifikasi dari FAA untuk kelayakan penerbangan kami sudah dapatkan.

Rute mana yang akan dilalui?

Recananya lewat Jepang, dan itu yang ingin kami peroleh. Namun, lewat Jepang itu ada aturannya, dan kami belum bisa mengambil penumpang di sana. Istilahnya Five Redeem. Padahal kalau dilihat di Indonesia, banyak sekali airlines Jepang yang beroperasi ke Indonesia dan mengangkut penumpang. Harusnya itu resiprokal.

Dulu ada rencana beli Airbus 350, apakah masih?

Itu belum ada rencana. Kalau 350 tidak ada. Yang ada adalah rencana penambahan pesawat di Citilink tapi pengadaannya lewat Garuda. Yang wide body tidak ada. Pertimbangannya, kami masih ingin optimalisasi pesawat yang ada.

Sumber: kompas

LEAVE A REPLY