Monday, June 15, 2026

Renovasi Istana Gebang Jadi Sarana Edukasi Sejarah, PDI Perjuangan Ajak Generasi Muda Gemar Membaca

Renovasi Istana Gebang Jadi Sarana Edukasi Sejarah, PDI Perjuangan Ajak Generasi Muda Gemar Membaca

BLITAR, Nawacita – Renovasi Istana Gebang, rumah masa kecil Proklamator RI Bung Karno di Kota Blitar, diharapkan tidak hanya menjadi upaya pelestarian bangunan bersejarah, tetapi juga sarana edukasi bagi generasi muda untuk mengenal lebih dekat sosok dan pemikiran pendiri bangsa.

Sekretaris DPD PDI Perjuangan menegaskan bahwa salah satu nilai penting yang dapat dipetik dari perjalanan hidup Bung Karno adalah semangat belajar yang tidak pernah padam hingga akhir hayatnya.

“Jadi ini sebenarnya juga menjadi salah satu pesan bahwa bagaimana Bung Karno sampai usia akhir hayatnya itu masih kemudian terus belajar,” ujarnya usai peresmian renovasi Istana Gebang, Senin (15/6/2026).

Menurutnya, budaya belajar dan membaca saat ini mulai tergerus oleh perkembangan teknologi digital yang membuat banyak anak muda lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai dan media sosial.

Baca Juga: PDIP Kritik Koperasi Merah Putih yang Diseragamkan, Hasto: Harus Tumbuh Organik Sesuai Potensi Daerah

“Ini yang kemudian juga mungkin hari-hari ini budaya belajar dan membaca khususnya di anak-anak muda mulai tergerus dengan budaya gadget, dengan budaya teknologi yang kemudian mengesampingkan kebiasaan membaca. Ini juga pesan bagi anak-anak muda khususnya untuk terus belajar dan mau membaca,” katanya.

Ia menambahkan, budaya membaca merupakan fondasi penting bagi generasi muda untuk memperluas wawasan dan memahami pemikiran para pendahulu bangsa.

“Budaya membaca menjadi salah satu fondasi kekuatan anak muda di Indonesia sehingga pengetahuan bisa komplit, pengetahuan lengkap khususnya pengetahuan dan pemikiran-pemikiran dari pendahulu-pendahulu bangsa,” lanjutnya.

Melalui keberadaan Istana Gebang yang telah direnovasi, masyarakat khususnya generasi muda diharapkan dapat mempelajari sejarah perjuangan Bung Karno secara lebih mendalam.

“Di dalam Istana Gebang ini akan banyak sekali yang bisa dipelajari. Kami mengundang anak-anak muda untuk jangan hanya bermain game, gadget, dan media sosial, tetapi juga harus belajar sejarah dan memahami pemikiran serta perjuangan para pendiri bangsa,” ujarnya.

Selain menampilkan berbagai koleksi foto dan dokumentasi sejarah, Istana Gebang juga dilengkapi patung Bung Karno setinggi lima meter yang menjadi salah satu daya tarik baru bagi pengunjung.

“Masyarakat Jawa Timur dan Indonesia khususnya anak-anak muda yang ingin belajar sejarah, belajar bagaimana mengetahui Bung Karno ketika muda itu seperti apa, bisa melihat banyak foto-foto dan berbagai hal yang bisa dipelajari. Pengunjung juga bisa berfoto dengan patung Bung Karno setinggi lima meter yang terbuat dari logam dan proses pembuatannya memakan waktu enam bulan,” katanya.

Sementara itu, pemilik Studio Satiaji Yogyakarta, Dunadi, mengungkapkan bahwa pembuatan patung Bung Karno tersebut merupakan proses yang penuh tantangan. Menurutnya, dedikasi dan perjuangan Bung Karno menjadi inspirasi yang layak diteladani oleh generasi muda.

“Beliau sangat luar biasa. Dedikasinya dan perjuangannya ini perlu kita contoh. Anak-anak muda sekarang perlu mencontoh beliau sebagai seorang proklamator yang sangat luar biasa. Beliau juga seorang seniman dan presiden yang benar-benar memperhatikan seni dan budaya,” ujarnya.

Dunadi menjelaskan, patung tersebut dibuat menggunakan hampir empat ton logam yang dicor secara mandiri di Studio Satiaji Yogyakarta. Studio tersebut sebelumnya juga mengerjakan sejumlah patung Bung Karno yang berada di berbagai lokasi strategis di Indonesia.

“Proses ini menggunakan hampir empat ton logam. Semua kami cor sendiri di Studio Satiaji Jogja. Selama ini kami juga banyak mengerjakan patung Bung Karno yang ada di Lemhannas, Kementerian Pertahanan, IKN, hingga PIK,” jelasnya.

Menurut Dunadi, tantangan terbesar dalam pembuatan patung bukan terletak pada material, melainkan menghadirkan karakter dan ekspresi yang menyerupai sosok asli Bung Karno.

“Sebenarnya bagian tersulit itu ada di karakter. Semua orang punya hidung, mata, dan bibir, tetapi bentuk dan karakternya berbeda. Bung Karno memiliki karakter yang sangat kuat dan proporsi wajah yang ideal. Itu yang paling sulit untuk diwujudkan,” pungkasnya.

Reporter : Rovallgio

- Advertisement -
RELATED ARTICLES
Bank Jatim Jconnect

Terbaru