Friday, June 5, 2026

Redam Gejolak Dolar AS, Mendag Ungkap Rencana Barter dengan Filipina

Redam Gejolak Dolar AS, Mendag Ungkap Rencana Barter dengan Filipina

Jakarta, Nawacita | Nilai tukar rupiah telah menyentuh level Rp 18.000 per dolar AS. Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso membuka alternatif lain untuk mengurangi gejolak nilai tukar terhadap perdagangan Indonesia, termasuk sistem barter dengan Filipina.

Budi mengatakan upaya ini diinisiasi setelah adanya pertemuan dengan pengusaha asal Filipina dalam gelaran ASEAN beberapa waktu lalu. Menurutnya, pelemahan mata uang tidak hanya dirasakan Indonesia, tapi juga dengan Filipina.

“Jadi, waktu kemarin waktu acara ASEAN kami ketemu salah satu pengusaha dari Filipina. Dia impor barang kita selama ini, karena di Filipina kan juga nilai tukarnya kan juga lagi kurang bagus. Jadi, bagaimana kalau kita pakai cara barter,” ujar Budi di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2026).

Baca Juga: Mendag: Bantuan Pangan Tak Harus Beras, Telur Bisa Jadi Alternatif

Ia memastikan bahwa pembeli (buyer) untuk skema barter ini sudah siap. Penandatanganan kontrak rencananya akan dilakukan pada pertengahan bulan ini. Namun, ia belum menyebut jenis komoditas apa saja yang akan masuk dalam skema barter tersebut.

“Nah, ini sudah kita carikan buyer-nya udah ketemu, nanti tanggal 12 kita akan tandatangan kontrak dengan buyer,” jelas ia.

Melemahnya nilai tukar rupiah mau tidak mau berdampak meroketnya harga barang-barang impor, mulai dari bahan baku pupuk, kedelai, hingga suku cadang (sparepart). Menanggapi hal tersebut, Budi mengklaim harga dan stok bahan pokok di pasar domestik terpantau masih stabil. Ia akan terus memantau importasi bahan baku dan berkoordinasi dengan produsen.

Baca Juga: Bahas Aturan Baru, Mendag akan Panggil Platform e-Commerce dan Seller

“Dari importasi bahan baku itu kita monitor, kita terus komunikasi dengan para produsen jangan sampai itu pun terganggu gitu kan jangan sampai stok nggak ada,” imbuh ia.

Sejauh ini dampak pelemahan mata uang Garuda belum dirasakan ke kinerja perdagangan internasional. Menurut Budi, kondisi perdagangan Indonesia dinilai masih bagus. Hal tersebut dapat dibuktikan oleh ekspor Indonesia tumbuh 5,48% secara tahunan.

“Sebenarnya kita kondisinya masih bagus dengan kondisi sekarang ekspor kita tetap naik 5,48%,” tambah Budi. dtk

- Advertisement -
RELATED ARTICLES
Bank Jatim Jconnect

Terbaru