Surabaya, Nawacita.co – Walikota Surabaya Eri Cahyadi mengungkap bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melakukan pemerataan nominal beasiswa Pemuda Tangguh lantaran banyak ketidakjujuran terkait data penghasilan orang tua yang digunakan untuk menentukan besaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) mahasiswa.
Eri menyebut, dalam proses pendaftaran perguruan tinggi, terdapat skema pengelompokan UKT berdasarkan kemampuan ekonomi keluarga.
Namun, ia menemukan adanya praktik menaikkan data penghasilan orang tua agar mempermudah peluang masuk ke universitas.
“Setiap masuk ke dalam perguruan tinggi pasti ada ringnya. Anak-anak itu untuk memasukkan ringnya ayahnya dinaikkan, gaji sampai puluhan juta, akhirnya kenalah dia Rp7 juta untuk UKT. Berarti kan dimulai ketidakjujuran,” jelasnya, Sabtu (17/1/2026).
Baca Juga: Walikota Eri Cahyadi: Surabaya Harus Dibangun dengan Kemanusiaan dan Semangat Bung Karno
Ia juga mencontohkan adanya mahasiswa yang mengakui telah menaikkan data penghasilan orang tuanya saat mengisi formulir.
“Saya tanya, waktu memasukkan nilai gaji orang tua bagaimana? Dia menjawab, iya dinaikkan. Berarti kan tidak dengan hati yang baik, maka yang seperti-seperti ini harus kita hilangkan. Kita mulai dengan kejujuran,” tegas Eri.
Tak hanya itu, ia mengungkap adanya penerima beasiswa yang berasal dari keluarga mampu, bahkan anak mantan pejabat, namun tetap dibiayai oleh Pemerintah Kota Surabaya.
Sehingga pihaknya memperketat proses verifikasi data penerima beasiswa Pemuda Tangguh, harapannya dengan cara tersebut beasiswa tersebut dapat tepat sasaran.
“Hari ini saya harus berani bongkar itu. Ada anak-anak mantan pejabat dibayar Pemkot, UKT-nya Rp15 juta per semester. Padahal orang yang tidak mampu banyak, maka kita harus merubah ini,” katanya.
Baca Juga: Rocky Gerung: NKRI Berdiri Karena Spirit of Humanity dan Human Solidarity
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemkot Surabaya kini memperketat sistem verifikasi penerima beasiswa Pemuda Tangguh.
Seluruh data ekonomi keluarga akan dikontrol dan dicocokkan secara menyeluruh agar bantuan tepat sasaran dan jumlah penerima beasiswa dapat lebih banyak.
Eri menegaskan, mahasiswa dari keluarga prasejahtera tetap akan menjadi prioritas utama dan Pemkot siap menjamin biaya pendidikan mereka.
“Kalau dia termasuk orang yang tidak mampu nanti saya yang tanggung jawab. Kalau dia masuk keluarga prasejahtera, saya yang datang ke kampusnya untuk dimasukkan. Kampus punya perjanjian dengan kita,” jelasnya.
Sementara bagi mahasiswa dari keluarga mampu, bantuan akan disesuaikan dan sebagian biaya kuliah tetap harus ditanggung sendiri.
“Tapi untuk yang mampu, ya kalian digeser, dikasih duit segitu, sisanya bayar sendiri, kan dia mampu,” tandas Eri.
Pemkot Surabaya berharap dengan pengawasan ketat dan penegakan prinsip kejujuran, program beasiswa Pemuda Tangguh dapat benar-benar dinikmati oleh warga yang membutuhkan dan mendorong pemerataan akses pendidikan di Kota Surabaya.
Reporter : Rovallgio


