Pengamat sebut Kasus Korupsi Wawali Bandung Erwin Jadi Anomali di Tengah Efisiensi
Bandung, Nawacita – Pengamat Politik dari Universitas Pasundan memberikan sorotan terkait kasus korupsi dan penyalahgunaan wewenang yang menjerat Wakil Walikota Bandung sekaligus Ketua PKB Kota Bandung Erwin.
Fahmi menilai bahwa kasus yang mencuat itu merupakan sebuah anomali di tengah efisiensi anggaran yang terus dilakukan oleh pemerintah sejak awal tahun 2025.
“Sekarang itu agak anomali sebetulnya, di tengah misalnya efisiensi, pengurangan di berbagai sektor, ada transfer daerah yang berkurang. Otomatis APBD termasuk Kota Bandung kan berkurang,” ungkap Fahmi saat dihubungi melalui saluran telepon, Kamis (11/12/2025).
Baca Juga: Farhan Siap Dipanggil Kejari Bandung Soal Korupsi yang Menjerat Erwin Jika Diperlukan
Menurut dia, dengan kondisi efisiensi anggaran ini seharusnya praktek-praktek korupsi di tubuh birokrasi seharusnya bisa dicegah. Mengingat anggaran yang kemudian banyak dialihkan bahkan dipangkas.
“Nah, dalam konteks demikian harusnya sebetulnya tidak banyak begitu perilaku-perilaku yang begini itu terjadi karena anggarannya memang kecil,” ucap dia.
Fahmi berpendapat bahwa, jika praktek korupsi masih terjadi di tengah kondisi efisiensi, maka kondisi tersebut lebih mencemaskan. Bahkan hal tersebut menunjukan permasalahan korupsi di Kota Bandung sudah akut dan kronis serta perlu adanya perlakuan atau perhatian khusus.
Baca Juga: Wakil Walikota Bandung Jadi Tersangka Korupsi, PKB Siapkan Praperadilan dan Bantuan Hukum
“Saya kira berarti memang masalahnya sudah akut dan kronis sehingga perlu treatment lebih jauh,” kata Fahmi.
Meski demikian, Fahmi menjelaskan praktek korupsi di tubuh Pemkot Bandung sendiri bisa terjadi karena berbagai faktor. Seperti minimnya pengawasan, adanya peluang praktek yang besar serta karakter birokrasi yang terbiasa dengan model transaksi.
“Misalnya minimnya pengawasan, kedua adanya peluang kemudian karakter misalnya birokrasi yang terbiasa dengan model transaksi dan seterusnya seterusnya,” jelas dia.
Reporter: Niko

