Menaker Ajak Generasi Muda Jadikan Pancasila Ideologi Hidup
JAKARTA, Nawacita – Menaker Ajak Generasi Muda, Peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 dinilai menjadi momentum penting untuk memperkuat kembali relevansi nilai-nilai kebangsaan di tengah tantangan global yang terus berkembang, mulai dari disrupsi teknologi hingga dinamika geopolitik.
Pesan tersebut disampaikan Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli saat memimpin upacara Hari Lahir Pancasila bertema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia” di Plaza Kantor Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), Jakarta.
Dalam amanatnya, Yassierli mengajak seluruh elemen bangsa, terutama generasi muda, menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang hidup atau living ideology yang tidak berhenti sebagai simbol maupun teks sejarah.
“Nilai-nilai luhur Pancasila tidak boleh hanya menjadi hiasan dinding kantor atau sekadar teks di buku sejarah, melainkan harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Yassierli.
Menurut Menaker, Hari Lahir Pancasila tidak semestinya dipahami sebagai seremoni tahunan semata, melainkan ruang refleksi nasional untuk memastikan nilai-nilai dasar bangsa tetap menjadi panduan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Ia menegaskan tema tahun ini mengandung pesan kuat bahwa Pancasila bukan hanya relevan menjaga keutuhan Indonesia yang terdiri atas lebih dari 17 ribu pulau dan ratusan etnik, tetapi juga memiliki nilai universal yang dapat menjadi fondasi perdamaian dunia.
“Pancasila adalah bintang penuntun yang telah membuktikan ketangguhannya. Pancasila juga menjadi jangkar moral kita dalam menghadapi turbulensi global, mulai dari disrupsi teknologi hingga dinamika geopolitik,” kata Yassierli.
Dalam konteks pemerintahan, Menaker memberikan penekanan khusus kepada seluruh pegawai Kemnaker agar nilai-nilai Pancasila tercermin dalam setiap pelayanan dan kebijakan publik yang dihasilkan.
Ia meminta setiap kebijakan disusun dengan semangat keadilan sosial, menjamin hak masyarakat, serta memastikan tidak ada kelompok yang tertinggal dalam pembangunan.
“Saya titipkan Pancasila di tangan kalian. Pastikan setiap kebijakan publik yang lahir berlandaskan keadilan sosial, memenuhi rasa keadilan publik, menjamin hak-hak masyarakat terkecil, dan tidak membiarkan ada rakyat yang merasa ditinggalkan,” tegasnya.
Yassierli juga mengingatkan pentingnya menjaga harmoni kebangsaan melalui penolakan terhadap segala bentuk intoleransi dan radikalisme yang berpotensi mengganggu persatuan nasional.
“Kita harus terus melawan segala bentuk intoleransi dan radikalisme yang dapat merusak harmonisasi kebangsaan kita,” lanjutnya.
Ajakan tersebut dinilai relevan di tengah perubahan sosial dan arus informasi yang semakin cepat, terutama bagi generasi muda yang akan menjadi penjaga arah masa depan bangsa.
Melalui peringatan Hari Lahir Pancasila, pemerintah berharap penguatan nilai-nilai kebangsaan tidak hanya berlangsung dalam ruang seremonial, tetapi benar-benar menjadi pedoman etika sosial dan dasar penyusunan kebijakan publik yang berpihak pada persatuan, keadilan, dan kesejahteraan masyarakat. (Kemnaker)


