Transformasi Sekolah Katolik, Uskup Surabaya Ajak Semua Pihak Jaga Keberlanjutan Yayasan Yohanes Gabriel
Surabaya, Nawacita | Uskup Keuskupan Surabaya, Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga keberlanjutan karya pendidikan Katolik melalui transformasi Yayasan Yohanes Gabriel yang kini memasuki usia 100 tahun.
Hal tersebut disampaikannya dalam peringatan satu abad Yayasan Yohanes Gabriel bertajuk “A New Light for Tomorrow: Satu Abad Yayasan Yohanes Gabriel Menyalakan Cahaya Baru Pendidikan Katolik.” yang diselenggarakan di Hotel Mercure Surabaya Grand Mirama, Jumat (22/5/2026). Menurutnya, sejak awal para misionaris melihat pendidikan sebagai strategi membangun bangsa dan mengembangkan masyarakat.
“100 tahun yang lalu, gereja melihat untuk membangun bangsa ini, para misionaris melihat bidang karya pendidikan sebagai strategi pengembangan masyarakat,” ujar Uskup Didik.
Ia juga mengisahkan sejarah Santo Yohanes Gabriel yang menjadi inspirasi lahirnya sekolah-sekolah Yohanes Gabriel. Pada 14 Juli 1835, santo tersebut sempat singgah di Surabaya dalam perjalanan misi menuju Cina karena cuaca buruk yang membuat pelayaran tertunda selama dua bulan.
“Orang suci itu adalah Santo Yohanes Gabriel yang telah menjadi martir di Cina” katanya.
Nama Santo Yohanes Gabriel kemudian digunakan dan menjiwai sekolah-sekolah Katolik sejak tahun 1925. Namun, saat masa pendudukan Jepang, sekolah-sekolah Katolik mengalami kehancuran total. Para misionaris kemudian membangun kembali sekolah-sekolah tersebut dengan dukungan umat Katolik di Belanda.
Baca Juga: Yayasan Yohanes Gabriel Transformasi 149 Sekolah Katolik, Libatkan Umat dan Pengusaha hingga 2030
Uskup Didik menjelaskan, para misionaris mengirimkan kisah kehidupan anak-anak di Jawa kepada umat Katolik di Belanda. Dari sana muncul gerakan solidaritas berupa pengumpulan dana melalui celengan kecil yang hasilnya dikirim ke Hindia Belanda untuk membangun kembali sekolah-sekolah Katolik.
“Sehingga akhirnya sampai hari ini, masih tersisa 149 sekolah, baik di Kota Surabaya maupun kota-kota kecil di luar Surabaya, bahkan di desa-desa di pelosok,” ujarnya.
Menurutnya, Yayasan Yohanes Gabriel selama ini melayani tiga lapisan masyarakat, mulai dari sekolah di kota besar bagi kalangan mampu hingga sekolah-sekolah di desa untuk masyarakat menengah ke bawah. Sekolah di kota besar, kata dia, turut membantu menopang operasional sekolah-sekolah di daerah yang kekurangan dana.
Namun, ia mengakui banyak sekolah di desa kini terancam tutup karena keterbatasan biaya operasional dan ketidakmampuan murid membayar gaji guru.
Ia juga mengenang berbagai gerakan solidaritas yang pernah dibangun para uskup sebelumnya. Pada masa Monsinyur Dibyakaryono, lahir Solidaritas Sekolah Minus untuk membantu renovasi fasilitas sekolah. Kemudian di era Monsinyur Hadisumarto, dibentuk Gracia yang menghimpun dana umat guna membantu biaya pendidikan siswa di sekolah-sekolah Yohanes Gabriel.
Sementara pada masa Monsinyur Sutikno tahun 2008, muncul gerakan kolekte kedua setiap minggu pertama untuk membantu subsidi gaji guru di sekolah-sekolah Katolik.
“Memang menjaga sustainability tidak gampang. Karena ada banyak faktor, terutama perubahan lingkungan dan perubahan politik pendidikan saat ini,” katanya.
Baca Juga: Uskup Surabaya Sambut Bhikkhu IWPF 2026, Tegaskan Semangat Perdamaian dan Persaudaraan Lintas Iman
Karena itu, dalam momentum 100 tahun Yayasan Yohanes Gabriel, pihaknya ingin melakukan transformasi besar agar sekolah-sekolah Katolik tetap relevan dan dipercaya masyarakat.
Transformasi tersebut meliputi penggabungan sekolah yang dinilai tidak lagi efektif, pembaruan citra dan branding sekolah, hingga peningkatan kualitas layanan pendidikan agar semakin diminati masyarakat.
“Maka malam hari ini kita akan memperbaiki sekolah-sekolah kita yang utuh. Ada yang di-merge karena sudah terlalu banyak sekolah dan tidak efektif, tidak efisien. Ada yang harus diubah image dan harus di-branding ulang supaya menjadi dikenal oleh masyarakat,” tuturnya.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan anak muda dalam proses transformasi tersebut, mulai dari kontribusi desain seragam hingga keterlibatan dalam paduan suara dan ansambel orkestra sebagai bentuk dukungan terhadap karya pendidikan Gereja Katolik.
Di akhir sambutannya, Uskup Agustinus menyampaikan terima kasih kepada seluruh donatur, relawan, dan masyarakat yang selama ini mendukung keberlangsungan sekolah-sekolah Yohanes Gabriel di berbagai daerah.
Reporter : Rovallgio

