Surabaya, Nawacita.co – Di tengah derasnya perubahan sosial dan tekanan era digital, peran keluarga kembali disorot sebagai fondasi utama pembentukan generasi. Perempuan Bangsa, salah satu badan otonom PKB, menggaungkan kampanye “Return to Family” jelang peringatan Hari Kartini 21 April di kawasan Car Free Day Jalan Darmo, Surabaya, Minggu (19/4/2026).
Gerakan ini menekankan bahwa tanggung jawab pengasuhan anak tidak bisa lagi dibebankan pada satu pihak. Ketahanan keluarga, menurut mereka, harus dibangun secara kolektif oleh seluruh anggota keluarga.
Pembina DPP Perempuan Bangsa, Rustini Muhaimin Iskandar, menegaskan pentingnya keterlibatan aktif orang tua dan lingkungan dalam memastikan tumbuh kembang anak berjalan optimal. “Bagaimana kita memastikan anak tumbuh dalam lingkungan yang aman dan sehat, itu yang ingin kita dorong melalui gerakan ini,” ujarnya.
Minimnya komunikasi dalam keluarga bahkan berpotensi memicu fenomena fatherless yang berdampak pada perkembangan anak.
“Orang tua adalah sekolah pertama. Kehadiran dan perhatian mereka tidak bisa digantikan,” tegasnya.
Senada, Pembina Perempuan Bangsa Jawa Timur, Lilik Abdul Halim Iskandar, menilai kualitas generasi masa depan sangat ditentukan oleh pola asuh dalam keluarga. Pendidikan karakter, kata dia, justru lebih banyak terbentuk dari ruang informal di rumah.
Di tengah wacana pembangunan yang sering berfokus pada infrastruktur dan ekonomi, gerakan ini menjadi pengingat bahwa kualitas manusia tetap berakar dari rumah. “Sekarang tantangannya, kapan perempuan punya andil besar dalam keluarga untuk mengembalikan fungsi utamanya,” pungkas Lilik Abdul Halim. Alus
- Advertisement -