ISTTS Kembangkan AI Canggih untuk Deteksi dan Visualisasi Infeksi Covid-19 pada Paru-paru!

top banner

Surabaya – Nawacita.co, Masa Covid-19 ternyata masa dimana perkembangan Artificial Intelligence (AI) ini begitu pesat di berbagai sektor. Antaranya dari pendidikan, ekonomi, hingga kesehatan.

Penelitian yang dibuat oleh Wakil Rektor III ISTTS, Ferdinandus dengan judul ‘Rekonstruksi Permukaan 3D Infeksi Covid-19 pada Citra Paru-paru CT-SCAN Menggunakan Alpha Shape Berbasis Segmentasi U-NET’. Memanfaatkan dataset gambar CT-SCAN 20 pasien Covid-19 untuk membuat model AI agar dapat melakukan segmentasi bagian dari paru-paru pasien yang terinfeksi oleh virus.

Hasil dari segmentasi ini akan diumpankan ke model 3D untuk mempermudah visualisasi infeksi virus pada paru-paru pasien. “Jadi tahap pertama pada projek ini adalah membangun model AI melalui pelatihan Deep Learning, proses pelatihan ini memerlukan resourses komputasi yang cukup berat. Awalnya model ini dilatih dengan dataset pasien Covid-19 untuk menjadi pandai. Setelah masa pelatihan selesai maka model AI ini menjadi akan pandai untuk mendeteksi dan mendapatkan lokasi infeksi Covid-19 pada paru-paru pasien. Model AI yang sudah pandai ini diuji coba dengan data baru dari pasien yang terinfeksi Covid-19 dan hasilnya dinyatakan baik,” jelas Ferdinandus.

“Pada tahap kedua untuk menyempurnakannya agar membantu petugas medis dalam diagnosa maka infeksi virus Covid-19 divisualisasi menjadi animasi 3D untuk melihat luasan dan persentase infeksi virus dalam paru-paru pasien,” lanjut Ferdinandus.

Projek tersebut dapat dijadikan pengembangan di bidang teknologi kesehatan. Membantu para dokter dan petugas medis untuk menganalisa seberapa parah pasien penderita virus Covid-19 tersebut.

Tentang perkembangan AI yang terkesan mengancam tenaga kerja manusia untuk digantikan dengan mesin berbasis AI. Ferdinandus mengatakan bahwa, dengan keberadaan AI ini jangan diasumsikan sebagai saingan manusia. Karena AI juga merupakan buatan manusia. Oleh sebab itu, manusia pada semua golongan harus bisa memanfaatkan teknologi ini dan menjadi pekerja yang lebih tinggi levelnya.

“Jangan sampai kita diperbudak oleh teknologi, kita harus dapat menggunakan teknologi tersebut dengan semaksimal mungkin.” Pungkasnya. (Al)

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here