Harga Nikel Hingga Tembaga Melonjak Tinggi, Apa Penyebabnya?

Harga Nikel Hingga Tembaga Melonjak Tinggi
Harga Nikel Hingga Tembaga Melonjak Tinggi, Apa Penyebabnya?
top banner

Harga Nikel Hingga Tembaga Melonjak Tinggi, Apa Penyebabnya?

JAKARTA, Nawacita – Harga Nikel Hingga Tembaga Melonjak Tinggi, Harga nikel melonjak ke level tertinggi dalam sembilan bulan pada hari Jumat akibat kerusuhan di produsen nikel Kaledonia Baru, sementara harga tembaga juga naik ke puncak dalam 25 bulan setelah China mengumumkan dukungan baru untuk sektor properti yang sedang mengalami krisis.

Harga nikel untuk pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) melonjak 6,4% menjadi US$21.080 per metrik ton, setelah sempat menyentuh US$21.150, level tertinggi sejak Agustus 2023.

Melansir Business Recorder, Analis Dan Smith menyatakan bahwa lonjakan harga nikel dan tembaga mungkin akan terus berlanjut dalam jangka pendek karena spekulan terus membeli, namun pada akhirnya keseimbangan permintaan dan pasokan akan memicu koreksi, terutama pada nikel.

“Kita telah melihat beberapa lonjakan yang aneh di mana investor tampaknya tidak terlalu peduli dengan fundamental,” Ungkap Smith. “Kami agak skeptis tentang seberapa jauh lonjakan harga nikel bisa berlanjut.

Baca Juga: Harta Karun Indonesia Bertambah, 2 Miliar Ton Emas dan Tembaga di NTB

Jika melihat logam dasar, yang memiliki fundamental terburuk adalah nikel.” Kerusuhan di Kaledonia Baru, yang berada di bawah kekuasaan Prancis, mendorong operasi besar-besaran untuk mengendalikan kembali ibu kota Noumea di negara yang menyumbang 6% dari produksi nikel tambang global tahun lalu.

Harga Nikel Hingga Tembaga Melonjak Tinggi
Harga Nikel Hingga Tembaga Melonjak Tinggi, Apa Penyebabnya?

Harga Tembaga Dekati Rekor Tertinggi

LME copper meningkat 2,3% menjadi US$10.668 per ton, level tertinggi sejak Maret 2022. Pasar terdongkrak setelah China mengumumkan langkah-langkah “bersejarah” untuk menstabilkan sektor properti yang dilanda krisis, yang merupakan konsumen utama logam industri.

Pengumuman tersebut datang setelah China merilis data pada hari Jumat, menunjukkan output pabrik yang lebih baik dari perkiraan, namun penjualan ritel secara tak terduga melambat dan sektor properti tetap menjadi hambatan bagi perekonomian.

Sebagian dari dorongan pasar AS mereda ketika beberapa pihak dengan posisi jual dengan terus menambah posisi daripada menutupnya dengan kerugian, kata para pedagang dikutip dari Brecorder.

Pada logam lainnya, aluminium di LME naik 0,4% menjadi US$2.598 per ton, seng naik 0,2% menjadi US$2.967, timah naik 0,5% menjadi US$33.885, sementara timbal turun 0,5% menjadi US$2.281,50.

cnbnws.

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here