Menkes: Digitalisasi Bantu Selesaikan Masalah Kesehatan

Digitalisasi masalah kesehatan
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin
top banner

Menkes: Digitalisasi Bantu Selesaikan Masalah Kesehatan

Jakarta, Nawacita | Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan proses digitalisasi membantu memudahkan masalah kesehatan.

“Datang ke dokter Indonesia operasi usus buntu Rp5 juta, ke Singapura Rp50 juta. Informasi itu tidak transparan. Digitalization helps (digitalisasi membantu),” katanya dilansir Antara, Kamis (30/11/2023).

Menkes ingin membuat berbagai hal terkait kesehatan di Indonesia menjadi terdigitalisasi. Salah satu langkah awalnya diawali saat pandemi Covid-19 di Indonesia. Kala itu Kemenkes memfasilitasi masyarakat Indonesia dengan konsultasi melalui telemedisin.

Saat pandemi berlangsung, hasil tes virus didigitalisasi dan dikirimkan kepada Kemenkes untuk kemudian diteliti.

Digitalisasi masalah kesehatan
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin

Jika terdiagnosis positif, kemudian Kemenkes mengirimkan pesan melalui WhatsApp (WA) kepada pasien untuk melakukan konsultasi dengan beberapa penyedia layanan telemedisin yang sudah bekerja sama untuk diberikan resep obat.

Kemudian, sambungnya, resep obat tersebut dikirimkan kepada pihak apotek secara digital, lalu pihak apotek mengirimkan obatnya kepada pasien melalui jasa pengiriman barang.

“Jadi orang sakit tiga hari tanpa tahu dia ngapa-ngapain, tahunya dapat obat. Karena tanpa ia sadari, ada proses digitalisasi di belakang seperti itu,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, upaya digitalisasi kesehatan terinspirasi dari sistem perbankan. Di mana data transaksi yang dikirim memiliki alur yang jelas dari toko/pedagang, yang kemudian dikirimkan ke peladen (server) pusat, lalu dikirim ke bank terkait untuk memastikan saldo tersedia dan akhirnya dikembalikan melalui rute semula sehingga transaksi dapat terselesaikan.

Dengan sistem serupa, sambungnya, sistem kesehatan di Indonesia seharusnya dapat diperbaiki. Salah satunya jika ingin berpindah rumah sakit ketika berobat, di mana pasien tidak perlu lagi direpotkan dengan sistem administrasi yang rumit.

Baca Juga: Turunkan Kasus DBD, Kemenkes Tebar Jentik Nyamuk Wolbachia

“Itu memindahkan datanya harus bawa setumpuk kertas. Datanya tidak digital, tidak standar, tidak aman, kan merasa bobol. Jadi digitalization helps,” tuturnya.

Diketahui, digitalisasi kesehatan menjadi fokus utama Kemenkes yang tercantum dalam pilar keenam transformasi kesehatan, yaitu transformasi teknologi kesehatan.

Salah satu transformasi tersebut diwujudkan dalam Rekam Medis Elektronik (RME) yang terintegrasi ke dalam aplikasi SATUSEHAT yang diluncurkan pada 11 November 2023 silam.

Teknologi tersebut memungkinkan pasien dapat melihat riwayat kunjungan, diagnosis dokter, hingga obat yang diberikan di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) di 2.498 fasyankes yang telah terintegrasi dalam aplikasi SATUSEHAT. ss

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here