Tambang Emas Terbesar di Jawa Timur, Milik Siapa?

Tambang Emas Terbesar di Jawa Timur
Tambang Emas Terbesar di Jawa Timur, Milik Siapa?
top banner

Tambang Emas Terbesar di Jawa Timur, Milik Siapa?

JAKARTA, Nawacita – Tambang Emas Terbesar di Jawa Timur, Iring-iringan alat berat tambang terlihat dari kejauhan, dari excavator hingga truk pengangkut raksasa. Pagi itu, Kamis (7/9/2023) lalu lalang produktifitas pertambangan di area bukit, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur terlihat padat.

Excavator mengeruk ‘tanah’ disambut truk di jalan yang meliuk-liuk-sudah dibuat rapih oleh pemilik Izin Usaha Pertambangan (IUP). Yang terlihat, warnanya putih dan kuning dengan ukuran yang besar.

Area tambang itu merupakan penghasil mineral emas di open pit atau tambang terbuka bernama Tambang Emas Tujuh Bukit. Menariknya, dari bukit tambang ini terlihat Pantai Pulau Merah, dengan cahaya pasir yang ‘berpendar’ merah dari atas.

Tambang Emas Tujuh Bukit berdiri di lahan seluas 4.998 hektar di area hutan produksi sejak mendapatkan IUP Operasi Produksi oleh pemerintah pada tahun 2012.

Tambang Emas Tujuh Bukit ini dioperasikan oleh PT Bumi Suksesindo (BSI), anak usaha dari PT Merdeka Copper Gold Group Tbk. PT BSI sendiri memulai tambang mineral ini pada 2016, pada saat perusahaan menerima persetujuan Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) dengan luas sisa area sebesar 794 hektar.

Setelah itu, penambangan pertama bijih mineral di area terbuka pun dilakukan pada 1 Desember 2016. Lalu, PT BSI memulai produksi emas pertamanya pada 2017 yang menandai transisi perusahaan dari tahap konstruksi ke tahap produksi.

Dari segi operasi, hingga Juni 2023, PT BSI berhasil mencatatkan produksi 1 juta ounce emas dari tambang terbuka Tujuh Bukit. Sementara hingga Agustus, realisasi produksi emas perusahaan dari tambang ini telah mencapai 96 ribu ounce dari target yang ditetapkan sebesar 139 ribu ounce.

Ditemui di area Tambang Emas Tujuh Bukit, Chief of External Affairs PT Merdeka Copper Gold Tbk, Boyke Poerbaya Abidin menyampaikan mengatakan keberlangsungan produksi dari open pit Tambang Emas Tujuh Bukit akan selesai pada 2026 mendatang. Kelak, perusahaan akan beralih dengan menggenjot cadangan mineral di bawah tanah (underground mining) yang diproyeksikan mulai berproduksi pada 2027.

Baca Juga: Ban Alat Berat Tambang Langka, Pengusaha Batu Bara Mulai Kuatir

Menurut Boyke, apabila di area tambang open pit sebelumnya terdapat kandungan emas dan perak, maka untuk tambang bawah tanah yang akan digarap itu lebih banyak mengandung mineral jenis tembaga dan ikutan emas.

Tambang Emas Terbesar di Jawa Timur
Tambang Emas Terbesar di Jawa Timur, Milik Siapa?

“Berdasarkan studi kelayakan yang kita lakukan sebelumnya, itu akan berakhir 2026. Kemudian nanti kita akan lanjutkan dengan proyek underground sendiri untuk tembaganya. Itu yang ada potensi di area Tujuh Bukit. Jadi setelah tambang emas, kita akan lanjutkan ke tambang tembaga,” kata Boyke, Jumat (8/9/2023)

Media pun berkesempatan untuk menengok progres pembangunan proyek tambang tembaga bawah tanah yang memiliki kedalaman 1.890 meter horizontal tersebut. Terlihat dua orang pekerja tengah bertugas untuk mengamati dan memastikan keamanan di sekitar area.

Umur Panjang Tambang Emas Tujuh Bukit

Kelak, cadangan mineral berupa tembaga yang berasal dari tambang bawah tanah ini merupakan proyek tembaga kelas dunia. Boyke memperkirakan, umur proyek ini bisa mencapai 20-30 tahun ke depan.

Mengutip bahan paparan perusahaan, berdasarkan hasil Pra-Studi Kelayakan Proyek Tembaga Tujuh Bukit yang diumumkan pada kuartal dua, menunjukkan potensi proyek ini untuk menjadi tambang bawah tanah kelas dunia, dengan total kapasitas produksi 24 juta ton bijih per tahun dan dapat memberikan produksi maksimal 112 ribu ton tembaga dan 366 ribu ounce emas dalam konsentrat per tahun.

Kandungan bijih kelas dunia tersebut dapat dibandingkan dengan Tambang Tembaga Emas Batu Hijau di Sumbawa dan Tambang Grasberg di Kabupaten Mimika, Papua.

“Yang jelas dari data awal yang ada, proyeksi tambang tembaga kita yang underground ini kategorinya cukup besar, bahkan kategorinya kelas dunia. Kelas dunia itu artinya umur tambangnya bisa 20 sampai 30 tahun,” kata Boyke menambahkan.

Boyke menyebut proyek tambang tembaga ini telah menelan biaya hingga mencapai US$ 150 juta. Ia pun memprediksi kebutuhan dana untuk pengerjaan proyek ini akan semakin besar kedepannya.

“Capex untuk pekerjaan underground ini, yang jelas sekarang aja sampai hari ini sudah sampai US$ 150 juta-an. Ke depannya kita juga membutuhkan Capex yang cukup besar,” ujarnya.

Di kesempatan yang sama, General Manager of Operations PT BSI Roelly Fransza menjelaskan hingga akhir Agustus 2023, PT BSI telah mencapai 21,3 juta jam kerja tanpa Lost Time Injury atau LTI. Menurutnya, torehan ini merupakan kinerja K3 yang cukup membanggakan bagi perusahaan.

Adapun, dalam melaksanakan tanggung jawab sosialnya, PT BSI juga berkomitmen melalui Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM). Setidaknya terdapat delapan pilar dalam program ini yaitu, pendidikan, kesehatan, peningkatan pendapatan riil, kemandirian ekonomi, sosial budaya, lingkungan, kelembagaan komunitas, dan infrastruktur.

Sejak tahun 2016 hingga Kuartal I 2023, PT BSI telah berkontribusi sebesar Rp 150,6 miliar untuk PPM. Tak hanya itu, perusahaan juga selalu meningkatkan performa di bidang lingkungan.

Baca Juga: Indonesia Punya Pabrik Nikel Sulfat Terbesar di Dunia, Siapa Pemiliknya?

“Salah satu capaian kami adalah sejak 2016, kami telah merehabilitasi lahan seluas 67,69 hektare dan telah mendapat skor 100 persen dari Kementerian ESDM seluas 42,83 hektar sesuai Rencana Reklamasi Tahap I 2015-2019.” katanya.

Listrik Energi Hijau

Bersinggungan dengan itu, PT BSI memiliki komitmen dalam menjalankan kegiatan pertambangan yang berkelanjutan. Misalnya, dengan penggunaan listrik yang berasal dari energi baru dan terbarukan (EBT).

Adapun, listrik bersih yang diperoleh perusahaan berasal dari Renewable Energy Certificate (REC). REC sendiri merupakan sertifikat yang membuktikan bahwa produksi tenaga listrik per megawatt-hour berasal dari pembangkit EBT dan dikeluarkan oleh PT PLN (Persero).

“Fokus kita juga pada perintah green energy. BSI sudah perintahkan itu dengan membeli listrik dari PT PLN yang berbasis renewable energy. Ini satu komitmen bagaimana Merdeka Copper Gold ikut dalam menjalankan visi pemerintah ke depan menjadi perusahaan berbasis green energy,” terang Boyke.

Hidup Rukun Tambang Bertetangga dengan Objek Wisata

Dunia pertambangan acap kali bertabrakan dengan lingkungan. Apalagi misalnya Tambang Emas Tujuh Bukit yang berdampingan langsung dengan objek wisata Pantai Pulau Merah. Lalu apakah tambang ini disambut baik?

“Jadi tambang tujuh bukit adalah tetangga langsungnya pariwisata tapi yang menikmati sendiri adalah karyawan. Jadi ini lah yang kita dorong sebelum wisatawan lokal datang dan mancanegara datang yang menikmati pertama tentunya adalah karyawan kita sendiri. Ini lah yang membuat ekonomi pariwisata tumbuh dengan cepat,” kata Roelly menambahkan.

Manajer Departemen Lingkungan PT BSI Doni Roberto tak menampik hampir semua proyek tambang di Indonesia pasti mempunyai pro dan kontra dengan masyarakat. Meski demikian, ia memastikan dalam menjalankan operasinya, perusahaan selalu mengedepankan prinsip-prinsip berkelanjutan.

“Yang menjadi landasan kita adalah satu perizinan, setelah kita memiliki izin resmi dari pemerintah sehingga kita bisa beroperasi. Kedua adalah pengelolaan lingkungannya, karena pengelolaan lingkungan itu diatur di dalam dokumen amdal. Nah itu yang harus kita patuhi,” katanya.

Selain itu, dalam menjalankan aktivitasnya, PT BSI juga selalu melibatkan peran dari masyarakat yang ada di lingkar tambang. Baik itu anak sekolah, pemuka agama, masyarakat umum, mahasiswa, hingga pemerintah daerah.

“Mereka rutin ke sini melihat seperti apa sih praktiknya. Setelah mereka ke sini, oh iya ya, jadi artinya berbeda dengan pikiran di luar sebelum masuk, ternyata dihijaukan lagi ya, ternyata air ini dikelola ya, apalagi di sini ketika melihat suka ada burung rangkong, ini kami laporkan juga termasuk ke BKSDA, KLHK,” ujarnya.

Perusahaan juga mempunyai beberapa program kolaboratif bersama masyarakat lingkar tambang. Salah satunya berupa pemanfaatan limbah sisa makanan.

“Kan ini semua karyawan disuplai makanan ya, sisa-sisanya termasuk yang di dapur itu dikumpulkan secara cuma-cuma, itu kemudian diserahkan ke mereka secara cuma-cuma dimanfaatkan jadi pakan ulat maggot. Itu tiap hari kita kasih ke mereka sisa-sisa makanan, dan itu kami kumpulkan setiap hari. Itu menghasilkan pemasukan untuk mereka, ada maggot basah ada maggot kering,” kata Doni.

cnbnws.

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here