Kasus DBD di Kabupaten Mojokerto Mulai Menurun, Berbanding Dengan ISPA

Petugas Puskesmas Pesanggaran Kutorejo saat melakukan fonging. Foto : Puskesmas Pesanggaran
Petugas Puskesmas Pesanggaran Kutorejo saat melakukan fonging. Foto : Puskesmas Pesanggaran
top banner

Kasus DBD di Kabupaten Mojokerto Mulai Menurun, Berbanding Dengan ISPA

Mojokerto, Nawacita – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di kabupaten Mojokerto mengalami penurunan sejak awal Maret 2023, dibandingkan tahun lalu. Namun demikian, kasus demam berdarah dengue (DBD) selama tiga bulan masih tercatat 39 orang yang terjangkit DBD.

“dibandingkan tahun lalu, tahun ini DBD terus mengalami penurunan secara signifikan, meskipun selama tiga bulan ini sudah tercatat ada 39 orang yang terjangkit DBD,” kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto dr Agus Dwi Cahyono, Jum’at (31/3/2023).

kemunculan kasus DBD beriringan dengan musim penghujan. Pada bulan Januari saja sudah tercatat sudah ada 25 kasus yang dilaporkan tergigit nyamuk aides aegypti.

Hingga kini, Agus menyebut jumlah kasus DBD masih bertambah, meskipun trennya sudah mulai mengalami penurunan seiring intensitas hujan yang mulai mereda.

Agus menjelaskan, sebaran kasus terbanyak di awal tahun dilaporkan dari wilayah Puskesmas Puri dan Puskesmas Kupang, Kecamatan Jetis. “Memasuki bulan Januari terlapor ada 4 kasus di Kecamatan Puri dan di Februari ada 4 kasus dari Kupang, Kecamatan Jetis”, ucapnya.

Baca Juga: Musrenbang RKPD Kabupaten Mojokerto 2024, Prioritaskan Empat Program

Namun, kasus tersebut berangsur turun setelah kesadaran masyarakat soal kebersihan semakin tinggi. Selain itu, beberapa puskesmas juga gencar melakukan fogingisasi di sejumlah desa.

“Sekarang (DBD) trendnya memang turun. Karena masyarakat sudah mulai sadar 3M plus dan Dinkes juga terus mengkampanyekan program pemberantasan sarang nyamuk (PSN),” tandasnya.

Menurutnya, sebaran kasus DBD meski bertambah namun trennya mulai menurun, dalam artian kasus DBD sudah ada perkembangan penurunan. “Berbanding dengan ISPA, ISPA di kabupaten Mojokerto masih dibilang stabil, tidak ada penurunan dan peningkatan,” ujarnya.

penyakit yang cenderung naik di akhir Maret ini adalah ISPA, mengingat timbulnya ISPA lantaran adanya perubahan cuaca atau pancaroba. Selain karena perubahan iklim, penyakit ini juga karena debu dan sejumlah penyebab lainnya.

“Himbauan kepada masyarakat harus tetep waspada, jaga kesehatan dan jaga pola hidup sehat serta menerapkan program 3M plus,” pungkasnya.

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here