Menteri PPPA Dukung Kakek Pemerkosa Anak dan Cucu Divonis Seumur Hidup

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga
top banner

Menteri PPPA Dukung Kakek Pemerkosa Anak dan Cucu Divonis Seumur Hidup

Jakarta, Nawacita | Majelis Hakim PN Ambon jatuhkan vonis penjara seumur hidup terhadap kakek pemerkosa anak dan cucu atau Roby Hitipeuw (51 tahun). Roby merupakan terdakwa kekerasan seksual terhadap lima anak kandung dan dua cucunya yang berusia di bawah lima tahun.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga menyambut baik putusan Majelis Hakim tersebut. Bintang menegaskan kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak merupakan perbuatan yang tidak manusiawi.

“Putusan tersebut menambah harapan besar terhadap penegakan hukum yang berkeadilan dalam kasus-kasus kekerasan seksual sehingga diharapkan dapat menjadi efek jera,” kata Bintang dalam keterangannya pada Kamis (2/2/2023).

Roby Hitipeuw, terdakwa kekerasan seksual terhadap lima anak kandung dan dua cucunya yang berusia di bawah lima tahun.
Roby Hitipeuw, terdakwa kekerasan seksual terhadap lima anak kandung dan dua cucunya yang berusia di bawah lima tahun.

Bintang menyebut penegakan hukum yang adil bagi korban penting untuk mendorong korban berani bicara. Ia berharap keberpihakan terhadap korban terjadi dalam seluruh proses penegakan hukum mulai dari penyelidikan hingga penuntutan.

“Kekerasan seksual merupakan kejahatan terhadap martabat dan HAM. Tindakan yang tidak manusiawi layak mendapat ganjaran hukuman berat,” ujar Bintang.

Dalam perkara ini, putusan majelis hakim PN Ambon sama dengan tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum. Hal ini menurut Bintang menunjukkan adanya perspektif yang sama dari institusi penegak hukum.

“Ini menunjukkan ketegasan institusi penegak hukum dalam memberantas tindak pidana kekerasan seksual,” ucap Bintang.

Baca Juga: Menteri PPPA Minta Belasan Pemuda Pemerkosa Anak di Aceh Diberi Sanksi Berat

Majelis Hakim menyatakan Roby terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar pasal 81 ayat (1), ayat (3) dan ayat (5) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Sebelumnya, hukuman maksimal telah dijatuhkan pada terdakwa Herry Wirawan dalam kasus kekerasan seksual terhadap 13 santriwati yang dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Tinggi Bandung dan kemudian diperkuat oleh Majelis Hakim Kasasi Mahkamah Agung (MA). rpblk

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here