Thursday, July 18, 2024
HomeBUMNEkonomi dan BisnisJaga Stabilitas Harga Ayam, NFA Naikkan Volume Penyerapan Ayam dari Peternak

Jaga Stabilitas Harga Ayam, NFA Naikkan Volume Penyerapan Ayam dari Peternak

Jaga Stabilitas Harga Ayam, NFA Naikkan Volume Penyerapan Ayam dari Peternak

Jakarta, Nawacita | Badan Pangan Nasional atau NFA naikkan volume penyerapan ayam hidup melalui kerja sama dengan BUMN serta Asosiasi peternak dan pedagang. Langkah ini untuk menjaga stabilitas harga ayam hidup di tingkat peternak yang akhir-akhir ini anjlok.

Kepala NFA Arief Prasetyo Adi, mengatakan, pihaknya sudah mulai menyerap 10 ton ayam hidup langsung dari peternak dalam dua hari ini seharga Rp 21.000 per kg. Jumlah ini masih akan bertambah seiring dengan upaya penyerapan yang terus dilakukan di bulan selanjutnya.

“Fasilitasi penyerapan ayam hidup ini merupakan salah satu langkah strategis untuk memberikan kepastian harga live bird di tingkat peternak. Ini merupakan upaya kongkrit dan akan terus dilakukan dengan menggandeng berbagai stakeholder peternakan,” ujarnya, Selasa (13/9/2022).

Arief menjelaskan, upaya fasilitasi ini merupakan hasil dari kolaborasi NFA bersama BUMN dan Asosiasi Perunggasan. BUMN melalui Perum Bulog dan Holding BUMN Pangan yang diwakili PT Berdikari, PT Perusahaan Perdagangan Indonesia, dan BGR Logistik Indonesia menyiapkan intrumen penyerapan dan logistiknya, sedangkan Asosiasi menyiapkan stok ayam hidup.

Asosiasi yang terlibat dalam kerja sama ini, diantaranya Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), dan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar).

ilustrasi peternakan ayam
ilustrasi peternakan ayam

“BUMN Pangan PT PPI dan PT Berdikari selaku offtaker melakukan pencarian dan pembelian live bird di lokasi sentra. Sedangkan, NFA memberikan fasilitasi distribusi pangan dari lokasi kandang ke rumah potong unggas atau RPU. Selanjutnya, BUMN Pangan menyalurkan hasil produsi daging ayam ke Horeka dan distributor lainnya,” jelasnya.

Arief mengatakan, penyerapan ayam hidup langsung dari peternak oleh BUMN Pangan dilakukan di harga yang wajar sesuai dengan Harga Acuan Pembelian dan Penjualan (HAP) daging ayam yang telah disusun dan disepakati bersama para stakeholder perunggasan.

Sebagai solusi jangka panjang, NFA bersama para stakeholder peternakan telah menyusun dan menyepakati bersama HAP daging ayam ras/live bird di tingkat peternak, yaitu Rp 21 ribu per kg sampai Rp 23 ribu per kg.

Level harga itu berdasarkan perhitungan berbagai komponen biaya yang membentuk harga pokok produksi, seperti harga DOC, pakan, rata-rata berat panen, obat dan vaksin, serta biaya operasional.

“Seluruh pelaku usaha dan stakeholder perunggasan nasional harus komitmen untuk menjalankan HAP tersebut, sehingga stabilitas harga daging ayam baik di tingkat peternak dan konsumen dapat terjaga,” ujarnya.

Arief juga menjelasakan solusi jangka panjang lainnya, yaitu membangun ekosistem perunggasan hulu-hilir, salah satunya dengan memastikan ketersediaan dan stabilitas harga jagung sebagai bahan utama pakan ternak unggas.

Baca Juga: Mendag Sebut Anjloknya Harga Ayam Akibat Ketidakmerataan Distribusi

Untuk menjaga pasokan jagung di sentra produksi unggas, sampai September ini, NFA telah memfasilitasi pendistribusian jagung dari NTB ke Kendal dan Blitar sebanyak 2,7 juta kg. Kedepannya, untuk menjaga stabilitas harga pakan, NFA akan menyusun HAP pakan ternak.

Berdasarkan data Panel Harga Pangan NFA, per 11 September 2022 harga rata-rata nasional ayam hidup tingkat produsen Rp 21.380 per kg, dengan harga tertinggi Rp 24.170 per kg di provinsi Kalimantan Selatan dan terendah Rp 17.000 per kg di provinsi Sumatera Selatan.

Untuk ketersediaan daging ayam ras, berdasarkan data Neraca Pangan Nasional, sampai akhir September 2022 diperkirakan stok daging ayam ras berada di 602 ribu ton, sementara sampai akhir Desember 2022 berada di angka 903 ribu ton.

Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan, mengatakan, pihaknya bersama NFA telah melakukan pertemuan dengan para pelaku usaha perunggasan baik dari BUMN maupun swasta, guna membahas solusi jangka pendek, menengah, dan Panjang.

Salah satunya, mendorong peningkatan kuota impor Grand Parent Stock (GPS) untuk BUMN Pangan agar dapat meningkatkan volume bisnis peternakannya, sehingga berkolerasi dengan peningkatan serapan ayam hidup peternak mitra.

Pihaknya juga optimistis, harga ayam hidup di tingkat peternak akan kembali naik hingga harga kembali stabil, sehingga tidak terlalu membebani peternak.

rpblk

RELATED ARTICLES

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Terbaru