Screen Time Berlebihan Bisa Picu Kesehatan Mental Anak

0
199
Screen Time Berlebihan Bisa Picu Kesehatan Mental Anak

Jakarta, Nawacita – Selama pandemi Covid-19, anjuran untuk lebih banyak di rumah turut dirasakan pula dampaknya oleh usia anak-anak. Namun sering kali momen di rumah ini dijadikan sebagai waktu melihat layar (screen time) yang cenderung berlebihan.

Peningkatan waktu layar elektronik kini dikaitkan dengan masalah kesehatan mental yang lebih buruk. Risiko ini lebih tinggi dibandingkan dengan yang memiliki tingkat waktu layar yang lebih rendah selama pandemi Covid-19, menurut makalah JAMA Network Open baru-baru ini.

Para peneliti melakukan studi kohort longitudinal antara Mei 2020 dan April 2021 di antara 2026 anak-anak Kanada berusia antara dua hingga 18 tahun. Studi mengukur hasil utama dengan depresi dan kecemasan dan hasil sekunder yaitu masalah perilaku, lekas marah, hiperaktif, dan kurang fokus.

Orang tua mengisi kuesioner tentang kesehatan mental anak-anak mereka selama pandemi. Mereka sekaligus mendokumentasikan berapa lama anak-anak menonton televisi atau waktu yang dihabiskan di perangkat elektronik. Itu termasuk waktu media digital, video game, pembelajaran elektronik, dan juga waktu video-chatting.

“Dibandingkan dengan anak-anak dan remaja dengan penggunaan layar lebih rendah, mereka yang menggunakan layar lebih tinggi memiliki tingkat gejala kesehatan mental yang lebih tinggi,” kata penulis studi Dr Catherine S Birken kepada United Press International (UPI), dilansir Fox News, Sabtu (1/1).

Semakin banyak waktu yang dihabiskan anak-anak di depan layar, semakin besar pula efek yang ditimbulkan. American Academy of Pediatrics dan Canadian Pediatric Society merekomendasikan tidak lebih dari satu hingga dua jam penggunaan layar per hari. Birken mencatat waktu layar harian di antara anak-anak dan remaja dalam penelitian ini secara substansial di atas batas yang disarankan yaitu kurang dari satu hingga dua jam per hari.

Pada mereka yang menonton televisi atau menggunakan perangkat elektronik lebih dari dua atau tiga jam per hari, anak-anak yang lebih muda (dengan usia rata-rata hampir enam tahun) lebih mungkin mengalami masalah perilaku, hiperaktif, dan kurang fokus. Sedangkan anak-anak berusia lebih besar lebih mungkin memiliki gejala depresi, kecemasan, dan kurang fokus.

Tingkat waktu video game yang tinggi dikaitkan dengan depresi, lekas marah, kurang fokus, dan hiperaktif, yang konsisten dengan beberapa penelitian pra-pandemi, menurut makalah tersebut.

Rpblk.

Facebooktwitterlinkedininstagramflickrfoursquaremail

LEAVE A REPLY