SDN Alun-Alun Contong Resmi Menjadi Salah Satu Sekolah Artefak dan Cagar Budaya

0
553

Surabaya, Nawacita – Bangunan SDN Alun-Alun Contong I-87 Surabaya merupakan salah satu cagar budaya. Sejumlah tokoh nasional pernah mengajar dan belajar di sekolah tersebut.

Tepat hari ini 20 Desember 2021 Bangunan SDN Alun Alun Contong I-87 ditetapkan sebagai Ruang dan Sekolah Artefak dan cagar budaya, dalam launcing tersebut dihadiri beberapa para Alumni baik siswa maupun guru yang pernah mengajar dan bersekolah di sana.

H. Tri Didik Adiono selaku Anggota Komisi A DPRD Kota Surabaya menjelaskan, hari Ini Senin 20 Desember 2021, SDN Alun Alun Contong  1/87 dilauncing menjadi Artefak cagar budaya karena memang sekolah ini mulai jaman dahulu sebelum menjadi SDN adalah Sekolah Rakyat.(SR)

“Yang dimana saat itu, Pahlawan Surabaya  bernama Ruslan Abdul Gani pernah mengenyam sekolah di SDN Alun-Alun Contong I-87, jadi saya selaku alumni disini juga ikut merasa sangat bangga dan senang,” terang Anggota Komisi A DPRD Surabaya Kota Tri Didik Adiono

Lebih lanjut, khususnya untuk guru bisa menjelaskan ini kepada anak didik ataupun kepada generasi penerus ataupun media sosial bahwa di tengah kota ada sekolah dasar Artefak cagar budaya,” imbuhnya

Sementara itu, Lurah Tegalsari  Setia Kustanto  SH yang juga kebetulan alumni SDN Alun Alun Contong Surabaya mengatakan, tentunya saya sebagai alumni disini sangat berbahagia dan sangat senang mengapresiasi kegiatan ini.

“Saya sendiri tidak menyangka bahwa disini dulu tempatnya cagar budaya dulu kami mengenyam pendidikan di SDN Alun-Alun Contong 1972 dan lulus tahun 1979, kebetulan kami juga tinggal di daerah sini juga ,” terang Alumni SDN Alun-Alun Contong Setia Kustanto

Pada waktu itu tidak ada pengarahan dari guru saya dulu bahwa disini dulu pernah sekolah tokoh nasional bernama Ruslan Abdul Gani, terus terang saya sendiri cukup kaget dengan munculnya Sekolah Artefak

Harapan kami,  tentu saja harus dipertahankan supaya nanti jika menghubungi teman teman mungkin ada kaitannya artefak atau peninggalan benda bersejarah yang ada kaitannya dengan SD Sulung (waktu Dulu), mohon untuk di sumbangkan,” tutur Lurah Tegalsari Setia Kustanto juga mantan Alumni SDN Alun-Alun Contong 1-87

Kemudian Kepala Dinas Kebudayaan kepemudaan dan Olah Raga Serta Pariwisata, Dra Wiwiek Widayati juga mengatakan, tujuan kegiatan ini adalah menjaga dan mempertahankan supaya sejarah dari SDN Alun-Alun Contong ini bisa diketahui banyak orang dan bisa menumbuhkan budaya nasionalisme anak anak untuk mencintai tanah air serta cinta akan bangsa dan negerinya.

“Jadi yang sudah dikomunikasikan kepada saya yaitu untuk pembelajaran tentang sekolah ini dimasukkan didalam sebuah kurikulum muatan lokal tetapi yang terintegrasi, dimana para guru semua disini harus tahu dan bisa mengajarkan hal itu,” ungkap Dra Wiwiek Widayati

Sehingga ada modul yang Multi seri, ini yang dalam proses dan sudah saya koreksi jadi ada modul multi seri yang menciptakan bagaimana artefak di sekolah ini, sehingga nanti anak anak yang baru maupun yang alumni ini bisa mengetahui. Dengan mengetahui sejarah di sekolah ini pertama dia mencintai sekolah ini dan kedua dia mencintai secara umum.

” kami ingin mengembangkan lagi dan kami sampaikan sekolah ini harus bisa membuat digitalisasi sekolah artefak, jadi supaya benda itu tidak aus oleh waktu tetapi kalau kita memakai digital insyaallah benda ini akan bisa bertahan,” ucapnya.

Sementara itu Muh.Yoyon Maryono, SH, Selaku Kepala Sekolah SDN Alun-Alun Contong I/87 menyampaikan, pada waktu saya datang kesini dikasih berita bahwa disini ada sekolah cagar budaya dan ternyata memang sekolah ini peninggalan salah satu pejuang dan bahkan Sukemi ayahanda Bung Karno mengajar disini juga.

” disini juga ada prasasti dari Ruslan Abdul Gani yang pernah menjadi menteri luar negeri saat itu dan beliau pernah datang kesini. dulu Sekolah ini memang mau dihancurkan ketika pada waktu itu Gubernurnya Basofi Sudirman (almarhum), sekolah ini mau dirobohkan dan ada investor yang mau,” terang Yoyon Maryono

Kemudian, beliau (Ruslan Abdul Gani) ” Wani Robohkan Sekolah ini tak jungkelno” begitu jawabnya, sehingga masih berdiri kokoh saat ini dan itu terjadi sebelum tahun 1990an.

“Terus kemudian sekolah dibangun hingga besar mulai tahun 2015 sampai 2017, dan saya sangat bersyukur sekarang bisa dikenal dan hebatnya lagi bisa dikenal lewat digital melalui youtube,” tutup Muh.Yoyon Maryono.

Facebooktwitterlinkedininstagramflickrfoursquaremail

LEAVE A REPLY