Mantan Presiden Korsel Chun Doo-hwan Meninggal di Usia 90 Tahun

0
90
Mantan Presiden Korea Selatan ke-5, Chun Doo-hwan

Seoul, Nawacita – Mantan presiden Korea Selatan, Chun Doo-hwan meninggal dalam usia 90 tahun pada Selasa (23/11). Kematian Chun terjadi sekitar sebulan setelah mantan presiden Roh Tae-woo dalam usia 88 tahun.

Kantor berita Korea Selatan Yonhap melaporkan, Chun menderita multiple myeloma, kanker darah yang sedang dalam pengobatan. Kesehatannya memburuk baru-baru ini. Dia meninggal di rumahnya di Seoul pada pagi hari.

Chun dikenal sebagai seorang mantan komandan militer yang memimpin pembantaian tentara Gwangju pada 1980 terhadap demonstran pro-demokrasi. Peristiwa ini menjadi sebuah kejahatan yang kemudian dia dihukum dan menerima hukuman mati yang diringankan.

Chun terkenal menyendiri. Ia menjalani persidangan pertengahan 1990-an dengan membela kudeta yang diperlukan untuk menyelamatkan bangsa dari krisis politik. Ia membantah mengirim pasukan ke Gwangju. “Saya yakin saya akan mengambil tindakan yang sama, jika situasi yang sama muncul,” kata Chun di pengadilan.

“Di depan organisasi paling kuat di bawah kepresidenan Park Chung-hee, itu mengejutkan saya betapa mudahnya (Chun) menguasai mereka dan betapa terampilnya dia memanfaatkan keadaan. Dalam sekejap dia tampak telah tumbuh menjadi raksasa,” kata bawahan Chun selama kudeta, Park Jun-kwang.

Chun mengundurkan diri dari jabatannya di tengah gerakan demokrasi nasional yang dipimpin mahasiswa pada 1987 menuntut sistem pemilihan langsung. Pada 1995, dia didakwa dengan pemberontakan, pengkhianatan, dan ditangkap setelah menolak untuk hadir di kantor kejaksaan dan melarikan diri ke kampung halamannya.

Chun kembali menjadi sorotan. Dia menyebabkan kehebohan nasional pada 2003 ketika mengklaim total aset 291.000 won uang tunai, dua anjing dan beberapa peralatan rumah. Sementara berutang sekitar 220,5 miliar won dalam denda.

Pada 2020, Chun dinyatakan bersalah dan menerima hukuman percobaan delapan bulan karena mencemarkan nama baik mendiang aktivis demokrasi dan imam Katolik dalam memoarnya pada 2017.

 

Rpblk.

LEAVE A REPLY