Soal Muktamar NU, KH Asep Saifuddin Chalim Beda Pendapat Dengan PWNU Jatim

0
233

Surabaya, Nawacita – Seperti sudah diprediksi sebelumnya, keputusan PWNU Jatim mendukung duet kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yakni KH Miftakhul Achyar (Rais A’am PBNU) dan KH Yahya Staquf Cholil (Ketum PBNU) ternyata mendapat penolakan dari sejumlah kiai pengasuh pondok pesantren di Jatim.

KH Asep Saifuddin Chalim pengasuh Ponpes Amanatul Ummah Pacet Mojokerto membenarkan kalau dirinya ada yang mendorong untuk maju di Muktamar NU di Lampung mendatang. Namun dia masih berat untuk meninggalkan pondok pesantren yang diasuh.

“Saya akan mendukung yang lain, tidak Gus Yahya tetapi kandidat yang lain. Cuman kalau saya sendiri yang maju, saya berat meninggalkan pondok pesantren saya. Tidak Gus Yahya, ada calon lain yang akan kita dukung karena akan mampu membawa citra NU, wibawa NU, kredibilitas NU maupun kemampuan NU menjadi lebih baik,” terang Kiai Asep saat dikonfirmasi Minggu (17/10/2021).

Menurut Kiai Asep, pencalonan Gus Yahya mendapat penolakan dari sejumlah kiai karena mendapat stigma kurang baik yakni temannya Yahudi. Bahkan orang NU itu punya syair, “Jangan tanya tentang seseorang, tanya siapa temannya. Maka sesungguhnya teman itu dengan bisanya berteman karena ada kecocokan (persamaan)”.

“Makanya harus hati-hati, semua pesantren NU hafal syair itu. La Tas’al ‘Anil Mar’i Wasal Qorinahu, Fainnal Qorina Bilmuqoronati Yaqtadi,” tegas kiai asli Jawa Barat ini.

Kalau bukan Gus Yahya, lantas siapa calon ketum PBNU yang berpotensi besar menang di Muktamar NU mendatang? Dengan santai KH Asep Saifuddin Chalim menyatakan, bahwa beliau itu bukan dari Jawa Timur. “Nanti NU akan berwibawa kalau dia yang memimpin. Bahkan menurut saya nanti beliau yang akan menang,” ungkapnya dengan penuh optimis.

Ditambahkan, KH Said Agil Siraj sesungguhnya masih bisa dijadikan calon alternatif pada Muktamar NU mendatang, seperti naik jabatan menjadi Rais ‘Aam PBNU. “Beliau itu pinter lho, kalau bicara keilmuan dibanding calon-calon yang lain, Kiai Said Agil lebih pintar, beliau itu Doktor Ummul Quro dan Tasawuf,” jelas Kiai Asep.

Menyangkut regenerasi pemimpin di NU maupun badan otonom NU, KH Asep Saifuddin Chalim memiliki pendapat tersendiri, bahwa regenerasi itu harus disesuaikan dengan waktu dan kebutuhan yang tepat.

“Regenerasi itu jangan dipaksakan, kalau regenerasinya bermasalah bagaimana, masak dipaksakan. Ya pada saatnya harus tapi bukan pada saat yang tidak tepat. Kalau kader generasi muda itu belum representatif ya jangan dipaksanakan, justru nanti kita tertipu oleh orang lain,” jelasnya.

Kiai Asep mengaku belum kenal dengan Gus Yahya termasuk belum tahu mukanya. Bahkan kalau ada orangnya namun tidak ada orang mengenalkan atau dikenalkan pasti saya tidak tahu. Termasuk ada yang bilang Gus Yahya itu kakaknya Menteri Agama.

“Dengan Menteri Agama lho saya juga tidak tahu. Kalau saya tidak tahu ya tidak tahu betul bukan mengada-ada,” dalih kiai yang juga Ketum PP PERGUNU ini.

Ia mengaku menyesal sekali kenapa Gus Yahya Staquf diisukan sebagai temannya Yahudi Israel. Tapi karena benar beliau pernah kesana maka hal itu tidak bisa terbantahkan.

“Kiai Said Agil itu pernah mengatakan saya pernah diundang kesana (Israel,red) tapi saya tidak mau datang karena Kiai Said tahu mereka itu Yahudi. Lha Yahya Staquf kok mau, itu lho padahal syair tadi sudah jelas melarang,” ungkap Kiai Asep.

Bagaimana jika Gus Yahya meniru langkah Gus Dur yang pernah menghadiri undangan PM Israil Simon Perez.

“Jelas berbeda, kalau Gus Dur itu sejajar. Orang akan mengatakan ketika Gus Dur ketemu dengan tokoh Yahudi, maka siapa yang dipengaruhi dan mempengaruhi itu tidak akan mau dipengaruhi. Tapi kalau Yahya Staquf belum sejajar dengan Benjamin Netayahu. Makanya harus hati-hati dalam melangkah,” ingat Kiai Asep

Ia meyakini syair yang sudah populer di kalangan pesantren itu sudah jelas memberikan warning (peringatan), sehingga harusnya kita tidak berani melanggar.

“Mungkin PWNU Jatim lupa atau tidak baca syair La Tas’al ‘Anil Mar’i Was’al Qorinahu, Fainnal Qorina Bilmuqoronati Yaqtadi,” kelakar kiai dermawan ini.

Renegerasi di Muslimat NU itu Belum Saatnya

Yang menarik, KH Asep Saifuddin Chalim juga menyatakan bahwa regenerasi kepemimpinan di Muslimat NU untuk saat ini bukan waktu yang tepat, sehingga harus menunggu dan dipersiapkan betul dengan baik.

“Kalau hanya sekedar regenerasi itu berbahaya sekali. Kalau hanya dilihat dari sisi managerial, saya kira siapa saja bisa bisa dengan mudah menggantikan. Tapi dari sisi konotasi marwah dan kepercayaan orang tidak bisa asal-asalan,” pungkas Kiai Asep Saifudin Chalim (tis).

LEAVE A REPLY