Di Pusvetma Surabaya, Mentan SYL Luncurkan 3 Vaksin Hewan

0
440
Menteri Pertanian SYL di Pusvetma Surabaya, Jumat (15/10/2021).

Jakarta | Nawacita – Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) menghadiri puncak hari rabies sedunia (world rabies day) yang digelar di Pusat Veteriner Farma (Pusvetma) Surabaya, Jumat 8, Oktober 2021. Dalam kesempatan ini, SYL mencanangkan Indonesia mampu bebas rabies pada tahun 2030 mendatang.

Menurut Mentan 3 vaksin yang dilepas hari ini merupakan hasil dari penelitian jajaran Kementan. Ketiganya adalah vaksin Neo Rabivet yang sudah terintegrasi, terverifikasi dan memenuhi persyaratan CPOHB. Kedua adalah vaksin Afluvet HiLow yang merupakan vaksin kombinasi antara H5N1 dan H9N2. Dan terakhir adalah serum Scovet ASF yang merupakan produk biologis berupa serum konvalescen African Swine Fever dari babi yang sembuh dari penyakit ASF.

“Ketiga produk hasil penelitian dan pengembangan Kementan tersebut sangat penting, mengingat Indonesia adalah negara pengekspor babi terbesar yang cukup diperhitungkan. Apalagi virus adalah lawan yang tidak kelihatan dan bisa masuk ke semua sektor,” kata politisi Partai Nasdem ini.

Mentan menilai ketiga produk yang dikeluarkan Pusat Veteriner Farma (Pusvetma) Surabaya ini sangat membanggakan, mengingat produk ini hasil karya pegawai Kementan, dan terutama produk serum ASF yang berdasar penelitian mampu meningkatkan kekebalan virus demam babi afrika hingga 52%. Produk ini menjadi solusi saat ini mengingat vaksin demam babi afrika belum ada di dunia.

Terkait penyakit rabies Mentan mengatakan penyakit ini masalah kesehatan besar yang harus ditangani bersama, termasuk para kepala daerah dan semua pihak yang terlibat di sektor peternakan maupun pemeliharaan. Caranya melalui program pengendalian yang mengedepankan implementasi one health.

“Karena penanganan hewan itu bukan sesuatu yang mudah. Kenapa begitu? Karena virus rabies itu bukan hanya kita yang kena, tetapi tetangga juga kena. Apalagi kalau di tempat wisata. Ini bahaya banget,” katanya. “Saya optimis tidak sampai 2030 kita bisa membebaskan Indonesia dari rabies,” imbuh mantan Gubernur Sulawesi Selatan ini.

Alokasi Vaksin Rabies Untuk Wilayah Resiko Tinggi

Sementara itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Kementan, Nasrullah menegaskan bahwa program pengendalian dan pemberantasan rabies merupakan komitmen kuat dari jajarannya untuk Indonesia yang lebih berkualitas. Sejauh ini, kata Nasrullah, Kementan telah mengalokasikan vaksin dan operasional pengendalian rabies, khususnya untuk wilayah tertular dengan risiko tinggi.

“Untuk daerah tertular risiko tinggi, kita upayakan alokasi vaksin sebanyak 70 persen populasi hewan penular rabies. Sedangkan untuk daerah risiko rendah dan bebas, alokasi vaksin cukup untuk vaksinasi tertarget dan vaksinasi darurat,” katanya.

Senada, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, Hadi Sulistyo menyampaikan terimakasih atas peluncuran vaksin yang kini telah bersertifikat. Sebab sebagaimana pengalaman sebelumnya, flu burung atau penyakit flu babi telah mengakibatkan kematian yang tinggi khususnya di Indonesia. “Dan sampai saat ini baru ada vaksin yang di buat oleh Negara selama lebih dari 50 tahun. Alhamdulillah kementan berhasil mendapatkan serum semacam antibody yang akan diberikan ke ternak-ternak babi yang sehat agar tidak terjangkit penyakit ASF,” tutupnya. bdo/kementan

LEAVE A REPLY