Krisis RS Rujukan Covid-19, Wacana Sekolah Jadi RS Darurat Menguat Di DPRD Jatim

0
101

Surabaya, Nawacita

Krisis rumah sakit rujukan Covid-19 akibat lonjakan sebaran kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di hampir seluruh wilayah Jatim sejak mulai diberlakukannya PPKM Darurat membuat sebagian kalangan DPRD Jatim berwacana atau mengusulkan sekolah memiliki gedung kosong karena kekurangan siswa untuk dialihfungsikan menjadi rumah sakit darurat.

Ketua komisi E DPRD Jatim Wara Sundari Reny Pramana mengaku mendukung dengan wacana tersebut jika memang kondisi darurat atau krisis. Namun sebelum menjadikan sekolah jadi rumah sakit darurat tentu harus dipastikan rencana pembelajaran tatap muka (PTM) ditunda terlebih dahulu karena saat ini pandemi Covid-19 masih tinggi.

Lebih jauh politikus asal PDI Perjuangan ini menjelaskan, jika nantinya sekolah dibuat untuk rumah sakit darurat, tentunya dengan ada catatan yang harus dibuat seideal mungkin mendekati Rumah Sakit yang standart.

“Saya prihatin sekali sekarang ini situasinya sudah tidak normal, banyak pasien tidak mendapatkan kamar dan pelayanan di rumah sakit sudah tak tersedia. Solusinya salah satunya yaitu menjadikan sekolah yang letaknya terdekat dengan masyarakat sebagai rumah sakit darurat,” harap Reny sapaan akrabnya, saat dikonfirmasi Minggu (11/7/2021).

Mantan ketua DPRD Kabupaten Kediri ini mengatakan jika nantinya benar-benar berfungsi sama dengan rumah sakit darurat, maka pemenuhan standart pelayanan Covid-19 di sekolah-sekolah tersebut juga harus tersedia dengan baik seperti ketersediaan tenaga medis dan peralatan medis yang memadai.

“Ketersediaan tabung oksigen dan yang lainnya harus terpenuhi. Jangan sampai masyarakat yang terpapar covid-19 kekurangan oksigen,” jelas kakak kandung Menteri Sekretris Kabinet Pramono Anung ini.

Pandemi Covid-19, lanjut perempuan berjilbab ini, merupakan ujian bersama untuk Bangsa Indonesia untuk bisa menumbuhkan kembali semangat gotong-royong di dalam masyarakat.

“Adanya covid-19 ini telah mengajarkan kepada kita untuk membangun peradaban yang selama ini terlupakan dan mulai menipis yakni budaya gotong royong, tidak semua Kepala Daerah care hanya bingung tidak tahu apa yang menjadi prioritas dalam menghadapi musibah ini, semua seakan menjadi beban dan tanggung jawab Pusat,” pungkasnya. (pun)

LEAVE A REPLY