Kampung Tangguh Sudah Mulai “Lelah”

0
108

Surabaya, Nawacita – Potensi penyebaran virus covid-19 di Surabaya terbilang cukup tinggi. Data dari Surabaya Lawan Covid-19 per 28 Juni 2021 kemarin menunjukan kenaikan harian kasus komulatif konfirmasi sebesar 0,28% atau sebesar 25.322 orang. Bahkan, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Surabaya menyebutkan, mayoritas penambahan kasus tersebut berasal dari kluster keluarga di beberapa kampung di Surabaya. Meningkatnya klaster keluarga, apakah menunjukkan Kampung Tangguh Jogo Suroboyo bentukan Tri Rismaharini sudah tidak tangguh lagi? Apakah para personel Kampung Tangguh di beberapa kampung di Surabaya sudah mulai ‘lelah’ untuk melawan Covid-19?

Seorang aktivis pemuda Surabaya menyebut beberapa temannya yang pernah aktif di kampung tangguh, kesal dan pegal. Selama tangani tak ada bantuan dari Pemkot. Sementara pendapatannya menipis, karena tak ada income lagi setelah di PHK. Eksesnya rasa solidaritas antar warga di kampungnya tergerus, sebab tidak tersedia anggaran operasional.

“Kerjaan pejabat kita gampang bikin slogan kampung tangguh, tapi gak mau mikir bagaimana merawat pemuda yang tangani kampung tangguh,” kata pria alumni Unair yang juga merasa pegal diajak hidupkan kampung tangguh di wilayahnya.

Berikut liputan lapangan tim wartawan Surabaya Pagi di beberapa Kampung Tangguh di Surabaya dalam dua hari Senin dan Selasa kemarin.

Klaster Keluarga mencuat, dari kurang lebih 379 pasien yang dirawat di Rumah Sakit Lapangan Indrapura, per 28 Juni kemarin, 256 pasien berasal dari kluster keluarga dan mandiri. Sisanya dari pekerja Migran Indonesia dan kluster Madura yang masing-masing berjumlah 65 pasien dan 58 pasien.

Naiknya jumlah kasus pada kluster keluarga menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah Surabaya. Kampung Tanggung ‘Wani Jogo Surabaya’ bentukan Tri Rismaharini Juli 2020 lalu, menjadi sorotan masyarakat. Dimanakah peran dari kampung tangguh, khususnya dalam menekan penyebaran virus pada kluster keluarga.

Hasil tinjauan lapangan wartawan Surabaya Pagi di lapangan, menemukan bahwa masih banyak kampung tangguh yang bergerak kurang optimal karena anggaran operasional yang diberikan pemerintah sangat terbatas. Beberapa pengurus RT dan RW menyebut, Kampung Tangguh mulai ambyar.

Salah satunya adalah kampung tangguh di wilayah RW I Asem Rowo. Ketua RW I kelurahan Asem Rowo, Hadi Soewarno menjelaskan, selama hampir 1 tahun kampung tangguh berdiri, tidak ada anggaran khusus operasional yang diberikan oleh pemerintah ke wilayah yang diampunya.  Padahal, kini, Asemrowo dari data Satgas Covid-19 Kota Surabaya, masuk dalam zona kuning.

“Ngak pernah ada. Cuman pernah dikasih dana 5 juta untuk beli tenda bukan operasional. Jadi yah gak terurus,” kata Hadi Soewarno kepada Surabaya Pagi, Selasa (29/06/2021).

Anggaran operasional yang dimaksudkan oleh Hadi berupa anggaran sosialisais, edukasi dan  kosumsi tim satgas kampung tangguh yang selalu stand by saban harinya. “Sering saya sampaikan kalau dana 5 juta tidak signifikan. Untuk wilayah RW 1 ada 9 RT. Semuanya ada pos jaganya, belum lagi di Balai RW ada poskonya juga. Untuk jaga tentu butuh kopi dan lain sebagainya. Nah anggaran ini tidak bisa mengcover itu,” katanya

sumber : Surabaya Pagi 

LEAVE A REPLY