Perkuat Basis Nahdliyin, Anwar Sadad Resmi Definitif Pimpin Gerindra Jatim

0
102

SURABAYA, Nawacita – Seperti sudah diprediksi banyak pihak, Plt Ketua DPD Partai Gerindra Jatim Anwar Sadad akhirnya berhasil mendapat kepercayaan penuh dari ketua Dewan Pembina DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto untuk mendapatkan mandat menjadi ketua definitif DPD Partai Gerindra Jatim.

Kabar penetapan Gus Sadad sapaan akrab Anwar Sadad menjadi ketua definitif DPD Partai Gerindra Jatim itu dibenarkan ketua harian DPP Partai Gerindra, Sufmi Dasco pada Selasa (22/6/2021) malam.

“SK definitif sudah diserahkan kepada Anwar Sadad sebagi ketua DPD Partai Gerindra Jatim. Dengan sekretaris Kharisma Febriansyah, bendahara Muhammad Fawaid dan ketua OKK Abdul Halim, serta ketua dewan pembina Bambang Haryo Sukamto,” ujar Sufmi Dasco.

Yang menarik, SK penetapan kepengurusan DPD Partai Gerindra Jatim periode 2021-2026 itu sudah ditandatangani cukup lama yakni 27 April 2021. Namun entah mengapa baru disampaikan oleh DPP Partai Gerindra saat ini.

Terpisah, pengamat politik Univeritas Trunojoyo Madura (UTM), Surokim Abdussalam menilai didefinifkannya Anwar Sadar merupakan bukti kalau dia sudah berhasil lolos ujian. Sekaligus menegaskan bahwa Partai Gerindra ingin ekspansi ke basis suara pemilih di Jatim yakni kelompok nahdliyin.

“Gus Sadad lulus ujian dan sudah mendapat kepercayaan penuh Pak Prabowo. Semua orang tahu bahwa tidak mudah mendapat kepercayaan dari Ketum Partai Gerindra dan masuk lingkar kekuasaan Pak Prabowo,” .

Dengan kepercayaan itu, peneliti senior Surabaya Survey Center (SSC) meyakini Gus Sadad sudah punya modal dan legitimasi formil maupun simbolik power untuk memimpin Partai Gerindra Jatim.

“Artinya, sudah tidak ada kendala lagi bagi Gus Sadad untuk bisa langsung tancap gas memaksimalkan semua bentuk optimalisasi sumber daya partai. Mengingat kompetisi di 2024 jelas tidak akan mudah bagi Partai Gerindra Jatim,” jelas Surokim.

Bahkan walaupun Partai Gerindra Jatim banyak diisi kader-kader potensial NU yang memiliki kekuatan kultural NU dengan basis pesantren, Surokim menilai peluang Partai Gerindra di pemilu 2024 cukup berat untuk bisa menggeser PDIP dan PKB yang selama ini menempati peringkat 1 dan 2 di Jatim. Alasannya, pendukung ideologis dan tradisional PDIP dan PKB itu sudah mengakar.

“Di Jatim masih dikuasai antara PDIP dan PKB. Jadi Partai Gerindra sulit bisa menggeser kedua partai itu karena pemilih tradisional dan ideologi PDIP dan PKB itu sudah mengakar sehingga sulit digeser. Paling realistis dan paling masuk akal menurut saya, target Partai Gerindra ya mempertahankan perolehan suara yang sudah ada menjadi pemenang ketiga itu sudah bagus,” dalih Surokim.

Pemilih tradisional dan ideologis itu, lanjut Dekan FISIB UTM punya prinsip tego larane gaak tego patine. Apalagi pemilih tradisional NU yang fanatik pasti tak akan tega meninggalkan PKB. “Jadi suara nahdliyin yang diperebutkan parpol-parpol di Jatim itu sejatinya suara swing votter pemiih NU, kaum urban dan suara pemilih nasionalis,” imbuhnya.

Masuknya kader-kader NU potensial di struktural DPD Partai Gerindra Jatim merupakan hal yang wajar karena itu bisa menjadi pintu masuk Partai Gerindra mengukuhkan diri sebagai partai yang mengakomodir kepentingan kelompok nahdliyin.

“Selain Gus Sadad (Ponpes Sidogiri Pasuruaan), juga ada Gus Fawaid (Ponpes Alqodiri Jember), Gus Barra (Ponpes Amanatul Ummah Mojokerto), dan masih banyak lagi santri alumni pesantren yang masuk struktural partai seperti Abdul Halim alumnus Ponpes Asembagus Situbondo,” ujar Surokim.

Namun cara yang dipakai Partai NasDem untuk meningkatkan suara di pemilu lalu juga mulai diadopsi partai lain termasuk Partai Gerindra yakni menggunakan cara instan dengan memasukkan votegetter yang efektif, seperti politikus yang sudah matang dan berpengalaman, pengusaha sukses hingga kalangan artis.

“Ada nama Agus Maimun mantan politikus PAN yang tiga periode menjadi anggota DPRD Jatim juga masuk dalam struktur wakil ketua DPD Partai Gerindra Jatim. Cara itu memang efektif tapi untuk bisa menggeser PDIP dan PKB masih sulit,” tegas Surokim.

Ia mengakui roh atau ID Partai Gerindra sebagai partai nasionalis tidak akan berubah. Sebab contoh ekspansi di Jatim merupakan bagian dari cara mengkombinasikan variabel-variabel untuk penguat suara di Jatim.

“Selain faktor mikro yang dapat mempengaruhi perolehan suara partai, faktor makro kontestasi politik nasional seperti Pilpres 2024 juga sangat menentukan perolehan suara partai,” pungkas Surokim Abdussalam. (tis)

LEAVE A REPLY