Kontol Kejepit Ahhh Mantap!

0
447

Bantul, Nawacita – Penganan khas Bantul ini ‘kontol kejepit’ atau yang kerap dikenal dengan kue adrem. Dulu kue tersebut disebut tolpit karena bentuknya menyerupai alat kelamin, lantas apa makna sebenarnya?

Salah seorang pembuat ‘kontol kejepit’ atau ‘tolpit’ Mardinem (66) mengatakan, bahwa dia sudah berjualan tolpit sejak usia 16-17 tahun. Hal itu karena Mardinem kerap membantu orangtuanya berjualan adrem dan kue cucur di Pasar Pleret.

“Terus saya kan sedikit-sedikit belajar membuatnya dan jualan sendiri,” katanya kepada detikcom, Sabtu (29/5/2021).

Warga Pedukuhan Ngunan Unan, Kalurahan Srigading, Kapanewon Sanden, Kabupaten Bantul ini melanjutkan, bahwa awalnya dia hanya berjualan tolpit selama 4 tahun di Pasar Niten. Pasalnya dia lebih fokus untuk menjual hasil bumi, terlebih saat itu yang lebih laku adalah hasil bumi.

“Saya jualan hasil bumi sampai tahun 90 an. Tapi akhirnya saya melanjutkan jualan adrem lagi mulai tahun 2002, pokoknya sebelum gempa (2006) sampai sekarang,” ucapnya.

“Tapi karena Corona ini jualan kalau ada pesanan saja mas. Kira-kira saya seminggu sekali saja membuat adrem,” imbuh Mardinem.

Menyoal asal muasal penamaan tolpit, Mardinem mengaku kurang begitu tahu. Namun, setahunya penamaan tolpit alias ‘kontol kejepit’ sudah sejak lama dan karena proses pembuatannya yang menggunakan teknik penjepitan.

“Saya juga kurang begitu tahu karena itu jenis makanan Bantul ya, dan orang kuno kasih nama gitu. Tapi nama sekarang diberi nama kue adrem,” katanya.

“Mungkin itu karena seperti dijapit itu mas, dijapit pakai sumpit 3 buah, lalu diangkat. Nah, kalau sudah dicur (adonan dituang ke dalam penggorengan) mlembung terus dijapit. Karena itulah namanya tolpit, jadi tidak karena itu (bentuknya menyerupai bagian kelamin),” lanjut Mardinem.

Terkait pembuatan tolpit alias kontol kejepit, dia menyebut ada 2 cara. Kendati demikian hasil pembuatan dari 2 metode ini sama.

“Sebenarnya ada 2 jenis pembuatan. Pertama yang encer, gula sekilo, tepung sekilo campur gandum dan kelapa 1. Kalau yang padat, itu tepung sekilo, gula 8 ons dan kelapa cuma seperempat,” katanya.

“Hasilnya sama tapi kalau orang kuno dulu buatnya padat semua. Untuk yang encer karena ada pelatihan itu. Pokoknya kalau adrem yang warna warni itu pakai gula pasir dan yang warna cokelat pakai gula Jawa,” imbuhnya.

Untuk tepung beras sendiri, Mardinem menggunakan tepung beras hasil gilingan sendiri. Setelah adonan tercampur nantinya didiamkan dari pagi hingga siang lalu berlanjut digoreng.

“Kalau rasanya cenderung manis,” katanya.

Sedangkan untuk harga, dia menyebut satu buah tolpit dipatok dengan harga Rp 1000. Sedangkan untuk 6 buah tolpit biasanya dijual Rp 5 ribu sampai Rp 6 ribu.

 

Pembuat kue tolpit lainnya, Kisminah mengatakan, bahwa nama tolpit memang muncul dari cara pembuatannya. Menurutnya, orang zaman dahulu sengaja membentuk tolpit sedemikian rupa untuk menarik perhatian pembeli.

“Jadi harus dijepit kalau tidak dijepit kan kurang menarik cuman kayak kue apem itu. Nah, ini kan cara menariknya harus dijapit dulu terus kelihatan menarik ada bentuknya,” katanya.

Sumber : Detik

 

 

 

 

LEAVE A REPLY