Bela Petani, Kementan Kaji Ulang Peraturan tentang Teknis Impor Tembakau

0
619
Cukai Rokok Naik, Petani Tembakau Menjerit.
Cukai Rokok Naik, Petani Tembakau Menjerit.

Jakarta, Nawacita – Pemerintah Indonesia terus berupaya meningkatkan penyerapan tembakau lokal ditengah gempuran tembakau impor. Salah satu upayanya adalah melakukan kaji ulang terhadap Peraturan Menteri Pertanian No 23/2019 tentang Rekomendasi Teknis Impor Tembakau.

Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI melalui Direktur Tanaman Semusim dan Rempah, Hendratmojo Bagus Hudoro mengungkapkan dalam rangka mendorong daya serap jual tembakau lokal, pemerintah sebelumnya telah mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 23 Tahun 2019. Namun, peraturan ini mendapat banyak masukan dari berbagai pihak.

“Peraturan Menteri Pertanian Nomor 23 Tahun 2019 yang mempersyaratkan boleh mengimpor tapi harus menyerap 2 kali dari produk dalam negeri. Tetapi dalam perjalanannya kita mendapat masukan dari Sekretariat Kabinet untuk ditinjau ulang karena kita tidak boleh memproteksi dalam bentuk penetapan jual beli,” ungkap Bagus, kepada nawacita.co, saat ditemui pekan lalu di kantornya, Kamis (22/4/2021).

Selain itu, masukan dari industri untuk tidak melakukan persyaratan dua kali serapan. Dengan adanya masukan tersebut, akhirnya kata dua kali serapan dirubah menjadi kemitraan atau kerjasama antara petani dengan industri.

“Kita Melakukan perbaikan Permen Nomor 23 tahun 2019, dengan pola mengganti kata-kata dua kali serap itu dengan kata-kata kemitraan (kerjasama). Jadi rohnya tetap sama,” jelasnya.

Seperti diketahui, aturan tersebut sebelumnya tercantum dalam Pasal 5 dari Permentan No 23/2019 ayat (3) yang berbunyi : Untuk membuktikan penyerapan Tembakau sebagaimana dimaksud pada ayat (2) importir Tembakau menyampaikan bukti serap Tembakau petani paling sedikit 2 (dua) kali dari jumlah yang dimohonkan sebagai bahan baku industri Tembakau.

Perubahan tersebut akan mengatur proses jual beli pemasaran dari prodak dalam negeri, sehingga bisa diserap oleh industri agar masing-masing pihak dapat memetakan jual beli produk.

“Namun kita berharap tidak aspek jual beli saja, karena akan ada harapan kita untuk pembinaan pendampingan oleh industri terhadap petani untuk budidaya tembakau,” ucap Bagus.

Ia mengungkapkan selama ini di lapangan produk tembakau dalam negeri sebenarnya secara akumulasi bisa terserap semua dalam setahun. Namum menurut petani, jual beli yang dilakukan belum sesuai. Terutama dalam masalah harga. Karena industri rokok merasa hasil tembakau tidak sesuai dengan yang dibutuhkan industri

“Maka dari itu, kita ketemukan pola kemitraan harapan industri ketika memerlukan persyaratan tertentu bisa melangsungkan pembinaan pengawasan walaupun tidak intensif. Tetapi minimal mereka juga menugaskan perusahaan itu untuk mengawal dalam proses budidaya yang diserapkan sehingga produk tembakau petani itu bisa sesuai apa yang diinginkan industri,” pungkas pejabat lulusan Universitas Sebelas Maret Surakarta ini.

Penulis: Alma Fikhasari

Facebooktwitterlinkedininstagramflickrfoursquaremail

LEAVE A REPLY