Filosofi Dibalik Kemewahan Pakaian Adat Aceh

0
232

Aceh, Nawacita – Pakaian adat merupakan suatu simbol atau identitas kebanggaan nasional yang merupakan jati diri dari suatu daerah. Maka tak heran jika pakaian adat sering digunakan untuk berbagai macam acara-acara penting dengan tujuan mewakili budaya daerahnya ataupun sebagai identitas suku bangsa.

Seperti halnya kota yang terkenal dengan sebutan Serambi Mekah yaitu Aceh. Suku yang terletak di ujung pulau Sumatra ini memiliki pakaian adat khas yang sangat unit. Pakaian ini sangat di pengaruhi oleh kebudayaan Melayu dan islam. Dalam hal ini pakaian adat biasa digunakan sebagai ajang pertunjukan suatu budaya sepertihalnya tarian adat ada pula digunakan dikala upacara perkawinan.

Pada mulanya baju adat Aceh ini hanya digunakan oleh keluarga raja saja namun seiring berjalanya waktu busana ini dijadikan sebagai pakaian adat tradisional orang Aceh. Mengenai baju adat Aceh ini kita ketahui bahwa baju untuk laki-laki dan perempuan memiliki nama yang berbeda. Biasanya baju adat Aceh ini di sebut dengan baju adat Ulee Balang. Yang dimana Linto Baro sebagai sebutan untuk pakaian laki-laki dan Daro Baro untuk pakaian perempuan

Makna di balik sebutan Linto Baro untuk pakaian laki-laki ini pada mulanya dipakai sebagai pakaian dalam kegiatan pemerintahan dan upacara adat sejak zaman kerajaan Samudra Pasai dan Perlak. Di pakaian ini juga di lengkapi dengan senjata tradisional sebagai pelengkap penampilan. Senjata ini terletak di bagian atas, tengan dan bawah. Di bagian atas terdapat meukeutop yang berfungsi sebagai penutup kepala yang pada umumnya berbentuk lonjong ke atas. Lalu untuk bagian tengah yaitu meukasah yang dibuat dengan menggunakan benang sutra yang ditenun. Baju meukasah ini pada umumnya dibuat dengan warna hitam sebagai makna simbol kebesaran menurut masyarakat Aceh. Kemudian dibagian bawah yaitu sileuweu yang lebih dikenal dengan sebutan celana cekak musangnya para pria. Sileuweu inimerupakan celana panjang yang berwarna hitam yang dibuat dari bahan katun yang ditenun. Dibagian bawah celana juga di lengkapi dengan hiasan pola yang terbuat dari benang emas.

Sileuweu biasa dilengkapi dengan sarung songket sutera yang dikenal dengan sebutan Ija Lamgugapyang nantinya akan digunakan dibagian pinggang dengan panjang rata-rata di atas lutut. Kemudian tak lupa pula dilengkapi dengan senjata tradisional Aceh yaitu Rencong.

Kemudian pakaian adat Daro Baru yang dikenakan oleh perempuan Aceh. Berbeda dengan pakaian untuk laki-laki yang menggunakan warna hitam sebagai simbol kebesaran Aceh, untuk perempuan memiliki warna yang cukup beragam seperti halnya, merah, kuning, hijau dan ungu. Selain itu Daro Baru juga memiliki banyak aksesoris berupa perhiasan sebagai pelengkap. Yang pertama yaitu baju kurung yang dipengaruhi dengan desain baju budaya arab, melayu dan cina sehingga baju ini agak sedikit longgar agar menutupi lekuk badan.

Bahan baju ini sama seperti halnya bahan baju untuk laki-laki yaitu terbuat dari hasil tenunan benang sutra. Dengan berbagai motif yang terbuat dari benang emas. Baju ini juga dilengkapi dengan kain songket yang bertujuan untuk menutupi bagian punggung wanita. Songket ini nantinya akan diikat dengan tali pinggang yang terbuat dari perak atau emas yaitu Taloe Ki leng Patah Sikureueng. Sedangkan dibagian leher atau kerah dikenakan perhiasan wanita khas Aceh yang bernama Boh Dokma.

Para wanita juga menggunakan celana cekak musang atau Sileuweu. Hanya saja untuk wanita memiliki beragam warna. Selanjutnya untuk perhiasan dibagian kepala wanita cukup banyak memakai hiasan yang beragam, seperti Patam Dhoe yang merupakan perhiasan berbentuk mahkota, subang atau anting-anting

Disini dapat kita simpulkan bahwa pakaian adat untuk pria Aceh memanglah lebih sederhana namun tetap terkesan berwibawa. Sedangkan pakaian adat untuk wanita lebih menyeluruh yang kaya akan keindahan serta pesona bagi pemiliknya.

Oleh : Tiara Dewi – IAIN Langsa

LEAVE A REPLY