Milenial Indonesia Dorong Pemerintah Temukan Model Baru Pengendalian Terorisme

0
266

Jakarta, Nawacita – Sejumlah aksi teror kembali mengguncang sebagian wilayah di Indonesia. Diketahui, beberapa pekan lalu ledakan bom bunuh diri terjadi di sekitar Gereja Katolik Katedral Makassar, Minggu (28/3), pukul 10.28 WITA, belum lama usai jemaat melaksanakan Misa Minggu Palma.

Tiga hari berselang, giliran seorang wanita berinisial ZA menyerang Mabes Polri di Jakarta pada Rabu sore (31/3). Dengan menggunakan senjata gas yang sudah dimodifikasi, wanita berusia 25 tahun itu menyerang polisi yang berada di dalam pos. Ia melepaskan setidaknya lima tembakan ke arah petugas.
Menyangkut dua aksi teror tersebut, Direktur Eksekutif Milenial Indonesia, Sureza Sulaiman, mengatakan pemerintah perlu mengevaluasi pengendalian terorisme. Sebab, menurut dia, terutama dalam satu dekade lebih pelaku aksi teror tidak sedikit datang dari kelompok usia muda.
“Meski persentase pelaku teror dari anak muda menurun, dari 22 persen di 2007 sampai 2009 dan sekitar 18 persen di 2019 hingga sekarang. Tapi, dua peristiwa ini menambah daftar panjang aksi teror yang dilakukan oleh anak-anak muda di Indonesia,” ujar dia di kantor sekretariat Milenial Indonesia di Jl. Menteng Raya No. 58, Jakarta Pusat.
Ia pun menambahkan, kurang lebih ada tiga hal yang memicu orang-orang kelompok usia muda tertarik ikut aksi terorisme. Pertama, kelompok radikal bisa merumuskan masalah yang tengah dihadapi anak-anak muda. “Setelah itu, kelompok radikal ini menawarkan solusinya dengan menggiring mereka ke arah aksi terorisme,” kata pria yang kerap disapa Reza itu.

Kedua, lanjut Reza, peran lingkungan sosial juga sangat menentukan mengapa anak-anak muda tergiring masuk ke dalam aksi terorisme. Ketiga, kondisi psikis mereka yang rentan dan labil berhasil diekspos oleh kelompok radikal.
“Jadi jangan heran kenapa anak-anak muda ini begitu loyal hingga mereka mau melakukan aksi teror itu. Sebab, kelompok radikal memang bisa akrab dengan mereka dan memberikan solusi secara nyata,” terang Reza.

Sementara itu, sebagai upaya membantu pemerintah untuk mencegah berkembangnya paham terorisme di tengah kelompok usia muda, Milenial Indonesia kerap menggelar diskusi publik. Teraktual, Milenial Indonesia berencana menggelar webinar nasional bertajuk “Milenial dan Jerat Radikalisme”.
“Agendanya, kegiatan ini akan diselenggarakan pada Selasa, 20 April mendatang. Adapun tema itu sengaja dipilih karena Milenial Indonesia memang fokus pada isu-isu pendidikan, politik, keamanan, dan kebudayaan anak-anak muda. Kebetulan juga pelaku aksi teror kemarin berasal dari kelompok usia muda,” pungkas Reza.

Laporan : Nurul Fazri

LEAVE A REPLY