Kemenkes Mendukung Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Bisa Di jalankan

0
613
Standar Protokol Kesehatan Sekolah, KPAI: Harus Ada Wastafel di Setiap Kelas.
Ilustrasi

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada kesempatan yang sama menyatakan bahwa Kemenkes mendukung adanya kegiatan belajar mengajar (KBM) bisa dijalankan. Alasannya adalah pendidikan merupakan investasi yang penting untuk Indonesia pada tahun-tahun mendatang. Yang perlu diingat, keputusan penyelenggaraan KBM harus dibarengi dengan strategi yang tepat.

”Setiap pandemi itu membuat perubahan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya. Dia mencontohkan setiap pandemi manusia dapat melalui. Caranya dengan adaptasi pada protokol kesehatan dalam seluruh kegiatan. Tak terkecuali pada KBM.

Budi membeberkan contoh kolera yang sampai sekarang masih juga ada yang mengidapnya. Pada 1800an di Asia ada wabah kolera. Lalu ada adaptasi yang dilakukan yakni menjaga sanitasi. ”Saya jangan melihat pandemi yang berjalan hanya setahun,” ujarnya.

Adanya penyakit tersebut lantas tak menghentikan aktivitas manusia. ”Terbukti (kita) survive. Yang dilakukan adalah perubahan perilaku,” katanya.

Pemerintah pun, menurut Budi, tak tinggal diam. Mereka menyusun strategi. Kemendikbud membuat tata cara KBM yang sesuai. Kemenkes memperkuat deteksi dini, vaksinasi, terapi, hingga pembenahan sistem kesehatan. ”Pandemi itu harus dihadapi,” tuturnya.

Dia mengingatkan vaksinasi bukan ujung pandemi. Dia menekankan tertib protokol kesehatan. Itu dilakukan sepanjang waktu Kemenkes pun telah menyusun time line untuk pemberian vaksinasi. Pendidik divaksin pada periode kedua. Dia menargetkan Juli selesai vaksinasi tahap kedua. ”Saya nanti minta staf saya untuk membuat program bersama Kemendikbud untuk penyuntikan vaksin ke pendidik,” katanya.

Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas menegaskan dukungan kebijakan PTM terbatas di tengah pandemi Covid-19. ”Kita berdoa supaya pandemi segera berakhir,” katanya kemarin. Sehingga siswa mampu beradaptasi dengan kebiasan baru.

Anak-anak dapat kembali ke kelas bermain bersama teman-teman dalam suasana yang riang. Dia berharap, penerapan kebijakan tersebut dijalankan dengan menempatkan aspek kesehatan sebagai prioritas utama.

Yaqut menuturkan, dirinya ikut merasakan betapa beratnya bagi kalangan tertentu utnuk mengikuti aktivitas belajar dari rumah di tengah pandemi Covid-19. Dia merasakan, kondisi kesedihan dan ketidaknyamanan dari berbagai pihak. Baik itu dari unsur siswa, mahasiswa, guru, dosen, orangtua siswa di lembaga pendidikan di bawah binaan Kemenag.

Meskipun begitu Yaqut menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh warga satuan pendidikan di bawah binaan Kemenag. Sebab sejak diterapkan pembelajaran jarak jauh sejak Maret tahun lalu, tetap bisa menjalankan pembelajaran dari rumah dengan beragam inovasi dan kreasi.

Para siswa dan guru tetap bisa menjaga kegairahan dalam belajar. Bahkan tidak sedikit siswa dan mahasiswa di bawah naungan Kemenag yang tetap dapat mengukir prestasi di tengah keterbatasan layanan pembelajaran. Selain itu, dia juga menyampaikan terima kasih kepada mitra Kemenag yang menyediakan layanan e-learning untuk madrasah.

Pengamat kebijakan publik dari Universitas Indonesia (UI) Lina Miftahul Jannah mengatakan di dalam penerapan PTM di tengah pandemi, orangtua harus diberikan otonomi. Khususnya dalam memilih apakah membolehkan anak mereka untuk mengikuti PTM atau tidak.

Sebab menurut dia, kondisi keluarga berbeda-beda. ”Apalagi misalnya keluarga yang masuk kategori rentan dan komorbit,” jelasnya. Keluarga seperti itu tentu berhak untuk melarang dahulu anaknya untuk ikut PTM. Bagi keluarga yang memilh tidak mengikuti PTM dahulu, juga tidak boleh mendapatkan diskriminasi dari sekolah atau madrasah.

jp

LEAVE A REPLY