Sejarah Hari Perempuan Internasional yang Diperingati 8 Maret

0
364

Nawacita – Internasional Women’s Day (IWD) atau Hari Perempuan Internasional diperingati seluruh perempuan di dunia setiap tanggal 8 Maret. Momen ini menjadi kesempatan bagi para perempuan untuk merayakan pencapaian dari segala aspek, mulai dari sosial hingga Politik, menyuarakan hak asasi sebagai seorang perempuan, dan masih banyak lagi.

Cara perayaan Hari Perempuan Internasional di berbagai tempat sangat beragam. Ada yang melakukannya dengan aksi Unjuk rasa, ada pula yang mengadakan Kampanye lewat Media sosial. Biasanya, kampanye ini dicetuskan oleh komunitas perempuan berupa posting foto atau video yang diunggah oleh selebriti, Influencer , maupun orang dengan jumlah follower yang banyak di media sosial.

Untuk Hari Perempuan Internasional tahun 2021 akan mengangkat tema #ChooseToChallenge. Dilansir dari laman resmi International Women’s Day )(IWD), tema ini diangkat sebagai penegasan bahwa perempuan dapat memilih untuk menantang serta menyuarakan ketidakselarasan gender.

Mengutip laman resmi IWD, Hari Perempuan Internasional diawali pada tahun 1908. Adanya penindasan pada kaum perempuan mendorong mereka untuk lebih vokal dalam menyuarakan perubahan. Ada sebanyak 15 ribu perempuan di New York City yang menuntut jam kerja yang lebih pendek, gaji yang lebih baik, dan hak suara.

Kemudian pada tahun 1909, sesuai dengan deklarasi Partai Sosialis Amerika, Hari Perempuan Nasional (NWD) pertama diperingati di seluruh Amerika serikat pada 28 Februari. Sejak itu, perempuan terus memperingati NWD setiap pekan terakhir Februari hingga tahun 1913.

Tahun 1910 saat Konferensi Wanita Buruh Internasional kedua diadakan di Kopenhagen, seorang wanita bernama Clara Zetkin yang merupakan Pemimpin ‘Kantor Wanita’ untuk Partai Sosial Demokrat di Jerman, mengajukan gagasan mengenai Hari Perempuan Internasional.

Ia mengusulkan agar setiap tahun di setiap negara harus ada perayaan pada hari yang sama untuk mendesak tuntutan mereka. Melalui konferensi tersebut, saran Clara Zetkin disetujui.

Hari Perempuan Internasional pun dirayakan untuk pertama kalinya di Austria, Denmark, Jerman, dan Swiss, pada 1911. Lebih dari satu juta perempuan dan laki-laki yang ikut dalam demonstrasi IWD. Saat itu, aksi tersebut mengampanyekan hak perempuan untuk bekerja, memilih, dilatih, untuk memegang jabatan publik, dan mengakhiri diskriminasi.

Namun, kemeriahan perayaan IWD tersebut sempat terhenti karena adanya kebakaran yang merenggut lebih dari 140 wanita pekerja. Peristiwa ini menarik perhatian terhadap kondisi kerja dan undang-undang ketenagakerjaan di Amerika Serikat yang menjadi fokus acara Hari Perempuan Internasional berikutnya.

Setelah melalui beberapa pergantian tanggal dan diskusi yang panjang, Hari Perempuan Internasional pun disepakati untuk diperingati pada 8 Maret setiap tahunnya.

Hingga akhirnya, pada 1975 untuk pertama kalinya Hari Perempuan Internasional dirayakan oleh PBB. Pada 1996, PBB mengumumkan tema tahunan pertama, yaitu “Celebrating the Past, Planning for the Future”, dan diikuti dengan “Women and Human Rights” pada 1998 dan “World Free of Violence Againts Women” di tahun 1999.

Atmosfer perayaan Hari Perempuan Internasional sempat meredup pada tahun 2000. Tidak banyak aktivitas yang terjadi untuk merayakan Hari Perempuan Internasional. Saat itu, dunia memang sedang berkembang di banyak bidang sehingga feminisme bukanlah menjadi topik yang populer.

Namun, semenjak situs resmi internationalwomensday.com diresmikan pada tahun 2001, Hari Perempuan Internasional kembali eksis. Sejak saat itu hingga saat ini, Hari Perempuan Internasional difokuskan untuk merayakan dan menunjukkan pencapaian wanita sambil terus menyerukan kesetaraan gender.

 

KMP

LEAVE A REPLY