KKP Identifikasi Penyebab Puluhan Paus Terdampar di Madura

0
187

Jakarta | Nawacita – Paus pilot terdampar di Pantai Modung, Desa Pangpajung, Kecamatan Modung, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (DJPRL) pun bergerak melakukan penanganan atas kejadian tersebut.

Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Dirjen PRL), Tb. Haeru Rahayu menjelaskan penyebab terdamparnya paus pilot akan didalami lebih lanjut. Salah satunya lewat nekropsi yang akan dilakukan oleh beberapa dokter hewan dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya dan dokter hewan dari Flying Vet Indonesia. Tim mengambil sampel sebanyak 3 ekor paus dan akan menentukan berapa yang akan dinekropsi.

“Dugaan sementara adalah salah satu paus, diduga pimpinannya sakit sehingga rombongan paus ini mengikuti pimpinan paus pilot yang sakit dan menunggu di pinggir pantai. Secara alamiah, paus yang sakit akan ke pinggir pantai dan akhirnya mati. Untuk diketahui, perilaku paus pilot adalah bergerombol, dipimpin oleh seekor pilot yang ukuran tubuhnya lebih besar,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (19/2/2021).

Baca Juga : Khofifah Cek Puluhan Paus Terdampar di Pantai Bangkalan

Sebagai informasi, tim yang terdiri dari BPSPL Denpasar Wilker Jawa Timur, Ditjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Surabaya, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur, Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga, Dinas Kelautan dan Perikanan Prov. Jatim, Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Bangkalan, TNI – POLRI (Polair Polres Bangkalan), Camat Modung dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendapat hasil paus yang terdampar di Madura berjumlah 52 ekor paus pilot jenis short-finned. Sebanyak 49 ditemukan dalam kondisi mati dan 3 ekor berhasil dilepasliarkan kembali ke Selat Madura.

Data KKP yang dihimpun BPSPL Denpasar mencatat kejadian terdampar terakhir terjadi pada tahun 2016 di Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur. Kala itu sebanyak 32 ekor paus terdampar dengan spesies sama, short-finned pilot whale.

Dari pengukuran lapangan, diperoleh panjang tubuh paus pilot terdampar antara 2-3,5 meter. Paus yang paling besar berjenis kelamin betina sepanjang 3,5 meter. Salah satu dugaan paus pilot berupaya ke Selat Madura adalah karena paus sedang migrasi di perairan tropis Indonesia dan salah satu daerah ruayanya adalah Selat Madura seperti yang terjadi pada 2016. Dugaan La Nina atau gelombang besar belum bisa dikonfirmasi menjadi penyebab, pasalnya menurut BMKG gelombang saat kejadian berkisar antara 0,5-1,5 meter.

Ia menjelaskan upaya yang dilakukan oleh tim mengacu pada pedoman Penanganan Mamalia Laut Terdampar yang diterbitkan oleh KKP. Kejadian kali ini dikategorikan kode 1, yaitu ada yang masih hidup dan kode 2, yaitu baru saja mati. Prinsip penanganannya adalah triase, yakni menyelamatkan yang hidup terlebih dahulu dan melakukan penanganan dengan cara menguburkan yang mati.

“Saat kejadian 52 ekor paus ditemukan, air laut sedang surut dan dasar pantai yang berpasir sehingga menyulitkan upaya evakuasi penyelamatan paus yang hidup. Tim mengumpulkan paus yang hidup berjumlah 3 ekor dan melepaskan ke laut dengan cara mengelompokkan dengan jarak tertentu. Bangkai paus akan dikubur di daerah yang aman. Tim akan mengupayakan mengangkut paus-paus tersebut dengan bantuan peralatan eskavator dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang ada dan dibantu masyarakat setempat,” imbuhnya.

Ahli Biologi Spesialisasi Cetacea, Danielle Kreb mengatakan kejadian paus pilot massal juga sering terjadi di Selandia Baru sejak dulu. Penyebabnya bisa karena getaran tektonik, badai solar atau penyakit yang menyerang satu atau lebih anggota dan membawa mereka ke perairan pesisir karena hidup di laut dalam. Penyebab perlu dipastikan oleh nekropsi.

Tim di lapangan dibantu aparat setempat, polisi, dan TNI mengupayakan langkah-langkah pencegahan, yakni dengan mengimbau masyarakat untuk tidak mendekati bangkai paus karena berpotensi ada penyakit yang menular ke manusia. Masyarakat juga diimbau tidak mengonsumsinya karena akan berdampak pada perpindahan penyakit ke manusia.

dtk

LEAVE A REPLY