Belajar di Rumah Bisa Bikin Bosan, Perlu Ada Inovasi Teknologi Pendidikan

0
62

Jakarta | Nawacita – Pandemi COVID-19 membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Anak-anak harus belajar dari rumah sehingga mengalami kebosanan dan rentan terkena masalah kesehatan mental, kata UNESCO.

Survei UNESCO pada Mei 2020 mencatat 66 persen pelajar Indonesia merasa tidak nyaman, sulit konsentrasi, dan tidak termotivasi selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan dapat berpotensi mengalami kecemasan dan depresi.

Menurut Founder Kode Kiddo (rumah belajar coding untuk anak), Melani Hendrawijaya,  kondisi ini menjadi tantangan bagi tenaga pengajar Indonesia untuk selalu siap beradaptasi, mampu mendeteksi kesulitan belajar siswa.

“Serta, membangun strategi inovatif dalam menghadapi era disrupsi di mana teknologi menjadi salah satu instrumen penting bagi masa depan baru pendidikan Indonesia,” katanya dalam webinar Sampoerna University, Jumat (5/2/2021).

Baca Juga : SEJARAH, LG Tinggalkan Bisnis Ponsel: Belajar dari Ericsson, Nokia, Siemens

Laporan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) pada Agustus 2020 juga menunjukkan kesulitan tidak hanya dialami oleh anak didik melainkan oleh tenaga pengajar. Mereka, mengalami kesulitan mengelola PJJ karena keterbatasan kapabilitas teknologi informasi dan akses komunikasi.

Maka dari itu, ia menyarankan penggunaan artificial intelegent (AI) atau kecerdasan buatan dalam pembelajaran di masa pandemi COVID-19. Penjelasannya tentang penggunaan AI akan ia jabarkan dalam acara “DisruptED 2021: BC to AD” dengan materi Perkenalan Artificial Inteligence dan Machine Learning untuk Anak-Anak: Kenapa Harus Dilakukan Sekarang?

MqMenjawab tantangan ini, Sampoerna University menghadirkan “DisruptED 2021: BC to AD” untuk mendukung tenaga pengajar siap menghadapi era disrupsi dengan berbagai inovasi dan teknologi baru.

Di dalam konferensi yang akan digelar selama 4 hari ini, tenaga pengajar, penyedia, pengamat, dan aktivis pendidikan diajak berdiskusi mengenai elemen penting dalam menciptakan pengalaman belajar inovatif, serta mendapatkan wawasan terbaru dari para ahli dan praktisi teknologi edukasi.

Dalam rentang waktu 5 hingga 8 Februari 2021, tenaga pengajar, penyedia, pengamat, dan aktivis pendidikan diundang berdiskusi mengenai elemen penting dalam menciptakan pengalaman dan program belajar kreatif dan inovatif di era disrupsi pendidikan melalui sesi Fireside Chats hingga meningkatkan kesehatan mental bersama instruktur mindfulness profesional dalam sesi Wellbeing.

Penggunaan teknologi dalam masa pandemi sangat diutamakan karena ”Teknologi telah memegang peran penting dalam pengembangan suatu industri, salah satunya dalam mendukung kemajuan masa depan pendidikan kita,” tambah Melani.

Konferensi DisruptED 2021 terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Untuk mendaftar dan mengetahui lebih lanjut dapat mengunjungi http://disrupted.id/DisruptED_ID/registration/ atau melalui media sosial Instagram @sampoerna.university.

Liputan6

LEAVE A REPLY