Berhentinya Gending Jawa Bikin Suasana Pendapa Hampa

0
76

Tulungagung | Nawacita – Sudah puluhan tahun kelompok karawitan Anggara Raras melengkapi Pendapa Kongas Arum Kusumaning Bangsa. Hal ini merupakan representasi perjalanan sebuah kehidupan. Apalagi bangunan ini adalah pusat pemerintahan di Tulungagung. Sayangnya, selama pandemi, mereka jarang bermain dan baru dimulai lagi pada Kamis lalu (28/1).

Malam itu, di salah satu sudut Pendapa Kongas Arum Kusumaning Bangsa terdengar lagi lantunan gending khas budaya Jawa. Setelah hampir empat bulan lamanya atau kedatangan Covid-19, membuat suara tersebut hilang dari pusat pemerintahan Kabupaten Tulungagung ini. Ya, mereka adalah kelompok karawitan Anggara Raras yang sudah puluhan tahun melengkapi rumah dinas bupati Tulungagung ini. Mulai dari generasi tua hingga muda, semua berbaur menjadi satu untuk melestarikan kebudayaan Jawa tersebut. Mereka kembali gumregah setelah empat bulan lebih vakum karena kasus terkonfirmasi positif Covid-19 terus meninggi.

Kabag Protokol dan Komunikasi Pimpinan Pemkab Tulungagung, Galih Nusantoro mengungkapkan, sejak 45 tahun lalu karawitan di Pendapa Kongas Arum Kusumaning Bangsa sudah ada, belum termasuk Tulungagung era lama. Meskipun, di beberapa momentum sempat berhenti, seperti pada 1965 dan kedatangan Covid-19. “Sejak dari leluhur kita karawitan ini sudah ada. Kalau dihitung dari era modern kurang lebih sudah 45 tahun berjalan. Namun, ada beberapa hal yang membuat karawitan ini berheti. Salah satunya adanya Covid-19,” ungkapnya.

Selama pandemi Covid-19, karawitan yang ada di pendapa sempat berhenti. Atau tepatnya ketika kasus Covid-19 di Tulungagung tengah tinggi. Terhitung empat bulan lamanya karawitan tersebut berhenti. Akhirnya pada awal tahun ini karawitan digelar kembali. Selama empat bulan tanpa karawitan, pendapa terasa kosong dan hambar. “Karawitan sempat berhenti selama empat bulan ketika kasus Covid-19 di Tulungagung tinggi. Ketika itu, pendapa serasa ‘hambar’ atau kurang nges,” ucapnya.

Galih, sapaan akrabnya menuturkan, karawitan ini digelar setiap malam Jumat. Mulai bada Isya hingga pukul 22.00 WIB. Namun ketika malam Jumat Legi biasanya ada tumpengan. Kelompok karawitan Anggara Raras ini berisikan generasi muda hingga tua atau setidaknya ada 20 personel. “Ada 20 orang mulai dari anak muda hingga orang tua. Mereka juga berprofesi macam-macam, mulai dari pegawai pemkab, pegiat seni, guru dan sebagainya,” tuturnya.

Karawitan ini juga memiliki makna tersendiri. Dalam satu penampilan karawitan itu menampilkan gending doa, cerita kehidupan, kegembiraan, dan gending perjalanan hidup manuisa sarat akan makna. Maka dari sinilah kenapa karawitan dilakukan di pendapa selama puluhan tahun ini. Tidak lain untuk melestarikan khazanah budaya luhur yang sudah seharusnya dilestarikan. “Bahkan, dulu itu ada kepercayaan, setiap malam Jumat harus dibunyikan meski hanya satu atau dua alat musik saja,” papar pria ramah itu.

Pria berkacamata itu mengingatkan, karawitan ini merupakan sebuah warisan. Salah satu cara untuk mempertahankan kebudayaan ini harus menyiapkan generasi penerus dan harus ditampilkan. Karena kebudayaan itu tidak cukup hanya diajarkan saja, tapi juga harus ditampilkan. “Jangan lupakan budaya. Adanya Tulungagung saat ini, salah satunya karena budaya. Bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa terpisahkan,” pungkasnya.

Baca : Kedekatan Bung Karno dengan para ulama NU

JP/RdrTulungagung

LEAVE A REPLY