BPBD Jember Tangani Banjir Tanpa Dukungan APBD

0
126

Nawacita – Kabupaten Jember, Jawa Timur, diterjang bencana angin puting beliung, banjir bandang, banjir genangan, dan tanah longsor di delapan kecamatan. Ribuan kepala keluarga terdampak akibat bencana yang terjadi sejak pertengahan Januari itu.
Berdasar data Pusat Pengendali Operasional (Pusdalops) BPBD Jember, tidak ada korban jiwa dalam bencana yang menerjang 18 desa di Jember tersebut. Jumlah warga yang terdampak sebanyak 4.178 kepala keluarga (KK).

”Ribuan rumah warga terendam banjir, 12 fasilitas pendidikan, tiga fasilitas umum, dan 42 hektare lahan pertanian juga ikut terdampak bencana alam yang terjadi lebih dari sepekan,” kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala BPBD Jember Satuki seperti dilansir dari Antara.

Dia menjelaskan, banjir bandang melanda Kecamatan Bangsalsari, kemudian banjir genangan meluas hingga Kecamatan Tanggul, Gumukmas, Puger, Tempurejo, Ambulu, dan Jenggawah. Sedangkan tanah longsor menerjang Kecamatan Patrang dan Tempurejo, dan angin puting beliung terjadi di Kecamatan Ambulu.

Satuki mengatakan, banjir yang terjadi di beberapa kecamatan tersebut akibat tingginya curah hujan dan jebolnya tanggul, sehingga rumah warga terendam banjir. Banjir terparah berada di Kecamatan Tempurejo dengan lima desa yang terendam yakni Desa Andongrejo, Curahnongko, Sidodari, Curahtakir, dan Desa Wonoasri, dengan jumlah warga terdampak sebanyak 2.069 KK, delapan fasilitas pendidikan dan satu fasilitas umum terendam banjir, serta satu jembatan rusak berat.

”Untuk longsor di Dusun Bandealit, Desa Andongrejo di Kecamatan Tempurejo berdampak pada akses jalan terputus karena tertutup material longsor hingga menyebabkan 500 KK terdampak banjir terisolir,” ujar Satuki.

Di tengah bencana alam yang membutuhkan bantuan logistik untuk para korban terdampak dan anggaran operasional penanganan bencana, Kabupaten Jember justru tidak memiliki peraturan bupati atau Peraturan daerah tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2021.

Banjir melanda Kabupaten Jember di tengah polemik tidak adanya APBD, habisnya bantuan bencana, dan belum cairnya gaji ASN, serta uang lelah untuk Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD. ASN dan honorer Pemkab Jember yang berjibaku membantu warga terdampak korban banjir bekerja tanpa gaji dan anggaran operasional sepeserpun. Namun, mereka tetap semangat bekerja secara maksimal tanpa kenal lelah.

Menurut Satuki, stok bantuan habis. Petugas di lapangan juga terbatas. Hal itu membuat BPBD Jember meminta bantuan logistik dan personel ke BPBD Jawa Timur untuk membantu bencana yang melanda di delapan kecamatan itu.

”Permintaan bantuan tersebut cepat direspons BPBD Jatim, sehingga kebutuhan logistik dan perlengkapan warga terdampak bencana dapat teratasi untuk sementara waktu,” tutur Satuki.

”Saat stok bahan pokok melimpah, justru tim dapur umum kekurangan elpiji karena ketiadaan anggaran, sehingga berbagai kalangan bahu membahu mulai dari komunitas warga, pengusaha, pejabat, mantan pejabat, hingga tokoh masyarakat patungan untuk menyuplai kebutuhan elpiji,” tambah Satuki.

Koordinator Tagana Jember Rudi Dwi Wanto mengatakan, kekurangan elpiji di dapur umum Desa Wonoasri terjadi sejak Sabtu (16/1). Setiap hari butuh 10 tabung elpiji 12,5 kg untuk memasak kebutuhan makanan bagi warga terdampak bencana banjir dengan menyediakan sebanyak 7.500 hingga 9.000 bungkus untuk setiap hari.

”Kami bersyukur atas bantuan banyak pihak yang telah mendukung kebutuhan dapur umum, agar tetap beroperasi untuk mendistribusikan makanan kepada warga korban banjir,” kata Rudi.

Tidak hanya itu, lanjut dia, TNI dan Polri pun ikut membantu dalam penanganan banjir dengan membantu BPBD dalam mengevakuasi korban banjir, kerja bakti membantu membersihkan rumah warga yang terdampak banjir dan memperbaiki tangkis sungai yang rusak akibat banjir, serta mendistribusikan bantuan.

JP

LEAVE A REPLY