Gunung Semeru Meletus, PVMBG Keluarkan Status Level Waspada

0
51

Bandung, Nawacita – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan status Level II (Waspada) terhadap aktivitas yang terletak di Kabupaten Malang dan Lumajang, Provinsi Jawa Timur itu, Sabtu (16/1/2021).

Kepala PVMBG, Kasbani mengungkapkan, aktivitas yang terjadi di gunung dengan puncak tertinggi Mahameru (3676 mdpl) itu berupa awan panas guguran dan guguran lava. Aktivitas terjadi pada pukul 17:24 WIB.

“Awan panas guguran dengan jarak luncur 4 kilometer ke arah Besuk Kobokan. Aktivitas guguran lava juga terjadi dengan jarak luncur antara 500-1000 m dari Kawah Jongring Seloko ke arah Besuk Kobokan,” ungkap Kasbani dalam keterangan resminya, Sabtu (16/1/2021).

Menurut Kasbani, aktivitas gunung api tipe strato dengan kubah lava itu kini memang terdapat di Kawah Jonggring Seloko yang terletak di sebelah tenggara puncak Mahameru yang terbentuk sejak 1913.

Menurut dia, letusan Gunung Semeru umumnya bertipe vulkanian dan strombolian berupa penghancuran kubah/lidah lava, serta pembentukan kubah lava/lidah lava baru.

“Penghancuran kubah/lidah lava mengakibatkan pembentukan awan panas guguran yang merupakan karakteristik dari Gunung Semeru,” jelas Kasbani.

Berdasarkan hasil pemantauan visual sejak 1-15 Januari 2021, Gunung Semeru terlihat jelas hingga tertutup kabut. Erupsi masih berlangsung tidak menerus, tetapi umumnya kolom erupsi tidak teramati karena tertutup kabut.

Selain itu, teramati juga asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 200 meter dari puncak.

Adapun kondisi cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah utara, timur laut, timur, selatan, dan barat daya dengan suhu udara sekitar 21-31°C.

Pada 1 Januari 2021 pukul 14:58 WIB, kata Kasbani, terjadi awan panas guguran dengan jarak luncuran dan arah luncuran tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut. Selama periode 1-15 Januari 2020, teramati aktivitas guguran lava pijar dengan jarak luncur 500-1000 meter arah Besuk Kobokan.

“Kolom asap letusan teramati dengan ketinggian 200-300 meter, warna asap
putih tebal condong ke arah utara. Sinar api teramati setingi 10 meter di atas puncak,” ujarnya.

Lebih lanjut Kasbani mengatakan, jumlah dan jenis gempa yang terekam periode 1-15 Januari 2021 didominasi oleh gempa guguran, gempa letusan, gempa hembusan, dan getaran tremor harmonik.

Gempa-gempa vulkanik (gempa vulkanik dalam dan vulkanik dangkal) terekam dengan jumlah rendah. Selama periode pengamatan, terekam juga gempa awan panas guguran sebanyak satu kali, sedangkan getaran banjir terekam sebanyak 14 kejadian.

“Pada tanggal 16 Januari 2021 pukul 17:24 WIB, terekam gempa awan panas guguran dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi durasi 4287 detik,” sebutnya.

Berdasarkan analisa pihaknya pasca kejadian awan panas guguran pada 1 Desember 2020, secara visual menunjukkan masih tingginya kejadian guguran lava pijar dengan jarak luncur berkisar antara 500-1000 meter arah Besuk Kobokan.

“Sedangkan Awan Panas Guguran masih teramati sebanyak 1 kejadian. Kegempaan masih berfluktuatif yang didominasi oleh gempa-gempa permukaan,” sebutnya.

Dia menerangkan, jumlah kejadian gempa guguran, gempa letusan, gempa hembusan, dan getaran tremor harmonik dalam periode ini masih tinggi. Hal ini mengindikasikan pergerakan magma ke permukaan masih terjadi.

Sindo

LEAVE A REPLY