Pandemi Belum Berakhir, Tetap Ada Cuan di Bisnis Perikanan

0
34
perikanan
ilustrasi

Jakarta, Nawacita – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia optimistis sektor usaha perikanan dan kelautan masih dapat tumbuh meski masih ada pandemi Covid -19 di tahun ini.

“Sebenarnya 2020 lalu geliat pasar menurun, sehingga ikut menurunkan daya beli. Walaupun begitu sektor ini masih mampu bertahan,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan, Yugi Prayanto dalam keterangan resmi, Kamis (14/1/2021).

Kadin mencatat pada tahun 2020 lalu ekspor produk perikanan naik 7% dibandingkan tahun 2019. Produk perikanan juga mampu menekan impor sebesar 12% di 2020 secara year on year (yoy), sehingga neraca produk perikanan naik lebih dari 9% yoy.

Yugi mengatakan ini menunjukkan kekuatan pada sektor kelautan perikanan Indonesia dalam mendongkrak ekonomi nasional di masa sulit akibat pandemic Covid-19. Dengan adanya vaksin dapat menjadi angin segar untuk pemulihan ekonomi dan iklim dunia usaha tanpa terkecuali sektor perikanan dan kelautan.

“Tentunya itu membawa harapan bagi kami, para pelaku usaha. Sekaranglah momen terbaik untuk memacu produk dari sektor perikanan, tidak hanya untuk optimalisasi pasar domestik tapi juga pasar internasional yang lebih luas,”katanya.

Perubahan tren saat ini semakin menguntungkan dengan peningkatan penggunaan teknologi yang semakin mendekatkan rantai suplai produk perikanan kepada pasar sehingga dapat meningkatkan pendapatan dari sektor ini dan peningkatan permintaan akan produk siap olah seperti produk dalam kemasan dan ikan beku.

Menurut Yugi, untuk tiga fokus utama itu dibutuhkan inovasi teknologi dan strategi pemasaran yang baik dalam pengelolaan hasil produksi sektor perikanan, sehingga ada lima komoditas yang dapat digenjot produksinya yaitu udang dan tuna-cakalang sebagai produk unggulan dan rajungan-kepiting, cumi-sotong-gurita dan rumput laut sebagai produk potensial lainnya.

“Harapannya di tahun 2021 ini pemerintah agar dapat ikut meningkatkan promosi ekspor produk perikanan Indonesia terutama pada lima komoditas ini dengan memperhatikan tiga fokus utama yang dijadikan dasar pengembangan produk perikanan ini,” katanya.

Pendapatan Turun

Pendapatan pembudidaya ikan pada kuartal IV 2020 mengalami penurunan akibat pandemic Covid-19. Jika dihitung rata-rata pendapatan saat ini hanya sebesar Rp 3,5 juta per bulan per pembudidaya.

Dari catatan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pendapatan pembudidaya ikan pada kuartal IV 2020 rata-rata sebesar Rp 3,5 juta per bulan, tidak mengalami kenaikan jika dari kuartal III sebelumnya. Tapi jika dibandingkan kuartal II 2020 mengalami kenaikan 7,58%.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan memasuki kuartal III 2020 ekonomi pembudidaya mulai membaik selama masa pandemic Covid-19.

“Ya. Ada kenaikan daya beli masyarakat pembudidaya, dimana indeks harga yang diterima pembudidaya lebih besar dibanding indeks harga yang dikeluarkan baik untuk konsumsi maupun produksi budidaya,” katanya.

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat adanya perbaikan struktur ekonomi masyarakat pembudidaya ikan di penghujung tahun 2020. Kenaikan nilai tukar

Tercatat Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) bulan Desember 2020 senilai 101,24 naik 0,58 poin dibanding bulan November yang mencapai 100,65. Di samping itu, Nilai Tukar Usaha Pembudidayaan Ikan (NTUPi) juga naik 0,77 poin dari periode November sebesar 100,94 menjadi 101,72 di bulan Desember lalu.

Slamet mengatakan, peningkatan angka NTPi menunjukkan adanya perbaikan efisiensi usaha yang dipicu oleh semakin membaiknya harga komoditas utama budidaya. Padahal inflasi pada bulan Desember 2020 secara nasional mengalami peningkatan 1,68% dibanding periode sama tahun sebelumnya.

Namun karena usaha budidaya semakin efisien, maka pembudidaya merasakan adanya nilai tambah ekonomi. Ia berharap indikator ini terus naik, sehingga ada peningkatan kapasitas usaha melalui re-investasi yang dilakukan secara mandiri.

“Triwulan IV, sistem distribusi dan transportasi serta serapan pasar secara perlahan mulai pulih mengikuti kondisi new normal sehingga sumbatan supply & demand mulai terurai. Hal ini menurutnya menjadi pengungkit nilai jual beberapa harga komoditas utama,” katanya.

cnbc

 

LEAVE A REPLY