Cerita Rombongan Presiden Soeharto Disuntik Vaksin

0
68
Presiden Soeharto menerima kunjungan kenegaraan Presiden Tanzania Julius Nyerere. (kepustakaan-presiden.perpusnas.go.id).

Jakarta, Nawacita – Presiden Joko Widodo dan para pejabat negara serta figur publik menerima vaksinasi Covid-19 pada 13 Januari 2021. Vaksinasi ini untuk meyakinkan masyarakat agar bersedia divaksin yang akan diberikan dalam dua tahap. Tahap pertama (Januari–April 2021) vaksinasi diberikan kepada petugas kesehatan, petugas publik, dan lansia. Sedangkan tahap kedua (April 2021–Maret 2022) vaksinasi diberikan kepada masyarakat rentan dan masyarakat lainnya.

Melihat ke belakang, Presiden Soeharto dan rombongan juga pernah menerima vaksin dalam kasus khusus. Saat itu, Soeharto tengah mengadakan kunjungan kenegaraan ke beberapa negara.

J. Osdar, wartawan senior Kompas yang bertugas meliput kegiatan kenegaraan, menyebut perjalanan Soeharto itu terlama selama 25 hari dari 19 November sampai 14 Desember 1991. Negara-negara yang dikunjungi adalah Meksiko, Venezuela, Zimbabwe, Tanzania, dan Senegal. Persinggahan pertama perjalanan itu adalah Honolulu, Amerika Serikat. Tempat lain yang disinggahi adalah Cancun, Meksiko, dan Las Palmas.

Osdar dalam tulisannya di Kompas.com menyebutkan Soeharto melakukan kunjungan resmi di Mexico City (Meksiko), Harare (Zimbabwe), dan Tanzania. Di Senegal, dia memimpin delegasi Indonesia mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Konferensi Islam. Di Caracas (Venezuela), dia memimpin delegasi untuk KTT G-15 untuk Kerja Sama Selatan-Selatan ke-2. Perjalanan ke negara-negara anggota Non-Blok itu berkaitan dengan kampanye tuan rumah KTT Non-Blok di Jakarta, September 1992.

Salah satu anggota rombongan adalah Umang Pradana Suweli yang bekerja di lingkungan keluarga Presiden Soeharto sejak 1970-an.

“Suatu ketika saya turut serta dalam rombongan kerja presiden ke Afrika. Karena di kawasan itu sedang berkembang suatu penyakit yang pada masa itu obatnya belum ditemukan, yaitu HIV/AIDS, setiap orang di dalam rombongan Presiden RI harus disuntik agar tidak tertular,” kata Umang dalam tulisannya “Agar Bapak Semakin Handsome” termuat dalam Pak Harto: The Untold Stories.

Kasus HIV/AIDS pertama ditemukan di Amerika Serikat pada 1981. Setelah itu, kasus-kasus baru dilaporkan dari berbagai negara, termasuk Indonesia pada 1987. Jumlah penderita terinfeksi HIV/AIDS terus meningkat di seluruh dunia. Laporan UNAIDS menyebutkan epidemi tertinggi terjadi di kawasan Afrika.

Pada penerbangan antara Senegal-Tanzania, Umang ditanya oleh seorang dokter apakah sudah disuntik vaksin. Dia menjawab sudah dengan menyebut nama dokter lain. Begitu pula ketika dokter lain menanyai apakah sudah disuntik, dia mengaku sudah dengan menyebut anggota tim dokter lainnya.

“Saya memang luar biasa takut disuntik sehingga saya berupaya untuk menghindar sana-sini,” kata Umang.

Umang bisa berbohong kepada para dokter, tetapi kepada Pak Harto dan Ibu Tien, dia tak berkutik. Sehingga, dia berharap Pak Harto dan Ibu Tien tidak menanyainya apakah sudah disuntik vaksin.

Setibanya di negara tujuan, ketika masih di hotel dan di sela-sela persiapan menjelang acara, Soeharto bertanya, “Kamu sudah disuntik, Mang?”

Mana berani Umang tidak jujur kepada Pak Harto. Dengan takut-takut, dia mengaku, “Belum, Pak.”

Ibu Tien kemudian berkata, “Sebentar lagi dokter akan datang untuk menyuntik kamu.” Apa boleh buat, Umang tidak bisa menghindar. Dokter tiba dan Ibu Tien memerintahkannya menyuntik Umang.

“Sayang (atau malah untung), ternyata serum sudah habis karena banyak staf KBRI yang juga minta divaksin. Selamatlah saya dari terjangan jarum suntik yang mengerikan itu,” kata Umang.

Osdar menyebut Soeharto tiba di Jakarta pada 11 Desember, lebih cepat dari rencana tanggal 14 Desember. Dia mempercepat kepulangannya karena masalah Timor Timur semakin memburuk.

Historia

 

 

LEAVE A REPLY