Raja Salman Berlakukan Jam Malam di Arab Saudi

0
168
Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud.
Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud.

RIYADH, Nawacita – Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud dari Kerajaan Arab Saudi mengeluarkan perintah pemberlakuan jam malam di seluruh wilayah kerajaan mulai Senin (23/3/2020) malam. Perintah yang dikeluarkan hari Minggu tersebut sebagai perlawanan untuk menghentikan penyebaran wabah virus corona baru, COVID-19.

Sebuah pernyataan kerajaan yang diumumkan kantor berita negara setempat, Saudi Press Agency (SPA), mengatakan jam malam akan dimulai pukul 19.00 malam hingga pukul 06.00 pagi setiap hari selama 21 hari sejak malam 28 Rajab 1441 Hijriah atau 23 Maret 2020 Masehi.

Perintah Raja Salman keluar setelah Kementerian Kesehatan melaporkan 119 kasus baru COVID-19 pada hari Minggu. Angka kasus baru itu menambah jumlah kasus infeksi di Arab Saudi menjadi 511 orang dengan 17 pasien berhasil disembuhkan. Perintah sang raja memerintahkan warga lokal dan warga asing berstatus residents untuk tinggal di rumah mereka selama jam malam demi keselamatan mereka sendiri.

Baca Juga: Arab Saudi Hentikan Izin Umrah Terkait Virus Corona

Ada beberapa pihak yang terbebas dari jam malam, yakni karyawan industri sektor publik dan swasta vital yang pekerjaannya membutuhkan kinerja yang berkelanjutan. Selain itu, karyawan dari sektor keamanan, militer, media, serta pekerja di sektor kesehatan dan layanan yang sensitif bebas dari jam malam.
Baca Juga: Inilah Sosok Adik Raja Salman dan Eks Putra Mahkota yang Ditangkap Arab Saudi

Pernyataan kerajaan menambahkan Kementerian Dalam Negeri akan melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk menerapkan jam malam, dan semua otoritas sipil dan militer diperintahkan untuk bekerja sama sepenuhnya.

Banyak negara telah mengadopsi aturan yang lebih ketat karena COVID-19 yang sangat menular telah menjadi pandemi. Hingga saat ini (23/3/2020), tercatat ada 336.838 kasus infeksi COVID-19 di 192 negara dengan jumlah orang meninggal sebanyak 14.616 dan 97.636 pasien disembuhkan.

Di Italia terdapat 59.138 kasus dengan 7.024 pasien disembuhkan dan jumlah korban meninggal 5.476 orang, angka kematian terbanyak di dunia. Sedangkan di China ada 81.054 kasus dengan 3.261 orang meninggal dan 72.440 pasien disembuhkan.

sdnws.

LEAVE A REPLY