Keris Pangeran Diponegoro Naga Siluman Dikembalikan Belanda ke Yogya

0
1400
keris Kyai Naga Siluman milik Pangeran Diponegoro.
keris Kyai Naga Siluman milik Pangeran Diponegoro.

YOGYAKARTA, Nawacita – Penemuan keris Kyai Naga Siluman milik Pangeran Diponegoro di Belanda melalui penelitian panjang. Bahkan, dimulai dari penelitian tiga keris yang diduga milik Diponegoro sebelum menentukan keris milik pahlawan nasional yang sangat terkenal saat perang Jawa tersebut.

Anggota Tim Verifikasi Keris Pangeran Diponegoro Sri Margana mengatakan, museum Volkenkunde di Leiden, Belanda, sudah lama mencoba mencari Keris Diponegoro yang ada di koleksinya sejak tahun 1984.

Orang pertama yang melakukan upaya ini adalah Pieter Pott, kurator museum dan kemudian menjadi direktur Museum. Penelitian tersebut diikuti oleh Prof Susan Legene dari Frije Universiteit Amsterdam, Johanna Leifeldt (1917), dan Tom Quist (2019).

“Dari penelitian empat peneliti itu, ditemukan ada tiga keris yang diduga milik Pangeran Diponegoro,” terang Sri Margana kepada wartawan, Kamis (5/3/2020).
Baca Juga: Mahkota Abad 18 Pulang ke Ethiopia Setelah Hilang di Belanda

Dia menjelaskan, pada tahun 2019 peneliti lain, Tom Quist sepakat dengan pendapat Johanna Leifeldt bahwa dua keris yang lain yang ditemukan oleh Pieter Pott dan Susan Legense dipastikan bukan keris Pangeran Diponegoro.

Kepastian bahwa keris Diponegoro ada di Belanda dibuktikan dari tiga dokumen penting, yaitu korespondensi antara De Secretaris van Staat dengan Directeur General van het department voor Waterstaat, Nationale Nijverheid en Colonies antara tanggal 11-15 Januari 1831.

Dalam korespondensi itu, disebutkan bahwa Kolonel JB Clerens menawarkan kepada Raja Belanda Willem I sebuah keris dari Diponegoro. Keris tersebut kemudian di simpan di Koninkelijk Kabinet van Zelfzaamheden (KKVZ). Setelah itu pada tahun 1883 keris ini diserahkan ke Museum Volkenkunde Leiden.

Dokumen kedua adalah kesaksian dari Sentot Prawirodirjo yang ditulis dalam Bahasa Jawa kemudian diterjemahkan dalam Bahasa Belanda. Dalam surat itu, Sentot menyatakan bahwa ia melihat sendiri Pangeran Diponegoro menghadiahkan Keris Kyai Naga Siluman kepada Kolonel Cleerens.

Dokumen ketiga adalah catatan dari Raden Saleh, pelukis yang pernah tinggal di Belanda dan melukis penangkapan Pangeran Diponegoro. Catatan Raden Saleh ini, dituliskan di bagian sisi kanan surat kesaksian Sentot Prawirodirjo.

Dalam catatan itu, Raden Saleh yang telah melihat dengan mata kepala sendiri keris itu di Belanda menjelaskan makna Keris Naga Siluman dan ciri-ciri fisik keris itu. Dari ketiga dokumen itu para peneliti di Belanda yakin bahwa keris koleksi Museum Volkenkunde Leiden dengan nomor seri 360-8084 lah yang dianggap paling mendekati dengan kesaksian tiga dokumen itu.
Baca Juga: Raja Belanda Bakal Pelesiran ke Danau Toba

Pada bulan Januari 2020 Tim verifikasi dari Viena, Austria, Dr Habil Jani Kuhnt-Saptodewo yang diminta memverifikasi temuan tim Belanda menyatakan yakin bahwa Tom Quist dan Johanna Leijfeldt telah menghadirkan dokumen dan arsip arsip yang meyakinkan untuk menyatakan bahwa keris itu milik Pangeran Diponegoro.

Bulan Februari 2020 lalu, dia diminta oleh Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan kebudayaan untuk memverifikasi hasil temuan Provenance Research di Museum Volkenkunde Leiden itu, untuk memastikan bahwa keris itu milik Pangeran Diponegoro.

“Dalam proses verifikasi itu, saya memiliki sedikit perbedaan pendapat dengan tim peneliti Belanda tentang salah satu dari tiga binatang yang diukirkan pada keris itu. Tim sebelumnya menyatakan bahwa binatang ketiga itu adalah singa, harimau atau gajah. Namun setelah saya melihat langsung objeknya, saya dapat memastikan bahwa binatang yang diinterpretasikan sebagai gajah, singa atau harimau itu sebenarnya adalah Naga Siluman Jawa, “ tutur sejarawan UGM ini.

Sri Margana melanjutkan, dari ukiran Naga Siluman Jawa ini, keris Naga Siluman adalah keris Pangeran Diponegoro. “Keris itu yang dinamai Naga Siluman. Kesimpulan saya, diamini oleh Dirjen Kebudayaan Dr Hilmar Farid, yang juga seorang sejarawan, Duta Besar RI untuk Belanda, dan juga saudara Bonnie Triyana sejarawan yang juga jurnalis yang menjadi bagian dari delegasi Indonesia” pungkasnya.

sdnws.

LEAVE A REPLY