Tren Hepatitis Menurun, Pemkot Surabaya Tetap Waspada

0
138

Surabaya, Nawacita- Meski menderita hepatitis A di Surabaya mengalami penurunan setiap tahunnya, namun Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya terus melakukan antisipasi.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, Febrica Rachmanita mengatakan pada tahun 2018 jumlah warga yang terkena hepatitis sebanyak 1.372 orang, sedangkan pada tahun 2019, menurun menjadi 1.109.

“Dari data itu membuktikan bahwa penderita hepatitis A mengalami penurunan. Terbukti perbandingan di tahun 2018 dan 2019,” katanya pada Kamis (26/2).

Walaupun demikian, Pemkot tetap waspada dan memantau dalam mencegah penyakit ini. Tindakan antisipasi didasarkan pada surat edaran yang dikeluarkan Walikota Surabaya Tri Rismaharini nomor 443/1664/436.7.2/2020 tentang Kewasapadaan Terhadap Penyakit Penyakit Hepatitis A.

“Pemkot tetap antisipasi terhadap penyakit ini,” ujarnya.

Feni sapaan akrab Febrica Rachmanita menjelaskan, penyakit ini disebabkan oleh virus bernama hepatitis yang menular secara oral facial. Artinya, penularan dari makanan, minuman atau alat makan yang tercemar oleh virus yang berasal dari faeces (penderita hepatitis).

Menurut Feni, ada beberapa langkah pencegahan yang harus dilakukan agar terhindar dari virus tersebut. Pertama, menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), yaitu dengan mencuci tangan menggunakan air mengalir, memakai sabun baik saat sebelum atau sesudah mengolah makanan. Kedua, selalu memasak makanan sampai matang dan merebus air sampai mendidih.

“Langkah berikutnya hindari jajan di tempat yang kurang terjaga kebersihannya. Kemudian hindari penggunaan barang pribadi seperti sikat gigi, handuk, dan peralatan makan,” ujarnya.

Selain itu, kata Feni menyarankan untuk menghindari kontak langsung dengan penderita hepatitis A. Selalu Buang Air Besar (BAB) pada jamban yang sehat. Namun demikian, ia juga mengimbau kepada masyarakat agar melakukan vaksin hepatitis A supaya terhindar dari virus tersebut.

“Kami juga mengimbau warga agar tidak mengunjungi daerah berisiko tinggi saat terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB),” terangnya.

Kendati demikian, apabila ditemukan tanda dan gejala hepatitis A, Feni berharap, warga tersebut agar segera berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat dan lapor ke Dinkes.

“Tidak lupa untuk meningkatkan penyebarluasan informasi kepada masyarakat tentang upaya pencegahan penularan penyakit Hepatitis A,” pungkasnya.

(and)

LEAVE A REPLY