Membangun Sikap Masyarakat untuk Peduli Kanker Paru-Paru

0
130
Ilustrasi

Jakarta, NAwacita – Dalam rangka memperingati Hari Kanker Dunia pada 4 Februari 2020, Merck Sharp and Dohme (MSD) Indonesia bekerja sama dengan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) menyelenggarakan diskusi media berjudul “Pendekatan Baru Pengentasan Kanker Paru”, New Approach in Cancer Management di Hotel Grand Hyatt, Jakarta Pusat pada Rabu (05/01).

Peringatan Hari Kanker Dunia tahun 2020 mengusung tema “I am and I Will”. Tema tersebut mengajak seluruh pihak untuk berpartisipasi dalam mengambil tindakan nyata dalam memerangi kanker.

“Kita semua patut waspada dengan jumlah penderita kanker yang terus meningkat di Indonesia, termasuk kanker paru,” kata ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Prof. Dr. dr. Aru Wicaksono Sudoyo, Sp.PD., KHOM., FINASIM., FACP.

Dokter spesialis paru konsultan, dr. Elisna Syahruddin, Ph.D., Sp.P (K) juga mengatakan bahwa saat ini jumlah penyintas kanker paru Indonesia berada diurutan ke-4 dari seluruh negara di dunia. “Semakin banyak orang, semakin banyak juga beban penyakitnya,” kata dr. Elisna pada kesempatan yang sama.

Meskipun kanker paru baru bisa menunjukkan gejala-gejalanya dan dideteksi ketika sel kanker sudah tumbuh sepanjang 1 cm dalam 10 tahun, masyarakat tetap perlu memahami upaya-upaya pencegahan kanker, terutama kanker paru.

Pada dasarnya kanker paru dapat dicegah dengan menghindari risiko penyebabnya serta mengubah pola hidup masyarakat. Perokok pasif, polusi udara, radiasi, riwayat kanker dalam keluarga, atap asbes, dan radon tak dapat dimungkiri telah memiliki korelasi dengan kanker paru.

“Jika dalam keluarga seorang suami merokok meskipun tidak di dalam rumah, dapat juga menyebarkan asap rokoknya melalui rambut dan baju kepada istri dan anaknya. Istri dan anaknya tersebut juga bisa dikatakan perokok pasif,” kata dr. Elisna

Ternyata rumah yang memiliki atap asbes juga dapat menyebabkan kanker paru. “Hati-hati yang rumahnya beratapkan asbes, karena asbes juga dapat menyebabkan kanker paru. Tak hanya penghuni rumah, pekerja pabrik dan tukang bangunan yang menjual asbes juga dapat menderita kanker paru,” dr. Elisna mengingatkan.

Dokter Elisna juga mengatakan bahwa sebenarnya radon belum populer di Indonesia, tetapi masyarakat juga perlu mengetahui radon itu seperti apa. “Radon adalah gas bumi yang berada di bawah tanah. Oleh karena itu, ketika ingin membeli sebuah rumah harus dihitung terlebih dahulu radonnya berapa, terutama rumah dengan lantai satu,” dr. Elisna menambahkan.

Selain itu, masyarakat juga harus mengubah pola hidup menjadi lebih sehat dengan olahraga yang teratur, mempertahankan berat badan yang ideal, mengonsumsi makanan yang baik, aman, dan sehat. Hal tersebut dapat mengurangi risiko terkena kanker sebanyak 30 sampai dengan 35%.

lp6

 

LEAVE A REPLY