Sejuta Kisah Setahun Gempa Palu Menunggu Normal

0
510
Setahun pascagempa yang meluluhlantakkan kota, warga Kota Palu, Sulawesi Tengah mulai kembali membangun hunian di pesisir Teluk Palu yang notabene masuk dalam zona rawan tsunami. (KOMPAS.COM/VITORIO MANTALEAN)

Nawacita, Palu – Tanggal 28 September 2019, tepat satu tahun lalu, musibah gempa dan tsunami menerpa warga Palu, Sigi Sulawesi Tengah dan sekitarnya. Kini kita coba telusuri sudah sejauh apa nasib para korban yang mengungsi berbulan-bulan dan sebagian kehilangan sanak saudara.

Laporan - Vitorio Mantalean - Kompas

Jalan Poros Palu-Kulawi-Sigi tak lagi beraspal di ujung jalan. Ban mobil kami berderak seketika memasuki tanah lapang di bekas Dusun Jono Oge di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Rabu (25/9/2019) siang.

Debu beterbangan. Jalanan tak lagi mulus.

“Dulu, Jalan Poros tadi itu aspal semua. Mobil bisa lari 80 (km/jam) di sini,” ujar Thomas, sopir kami siang itu.

Sebelum masuk Jono Oge, mobil yang kami tumpangi mesti berkali-kali mengerem saat melesat. Rata-rata karena aspal jalan sudah bergelombang dan berlubang di beberapa titik usai gempa 28 September 2018 lalu.

Sisanya, mobil kami harus berhenti demi menanti kawanan sapi kurus tanpa gembala melenggang.

Kanan-kiri Jalan Poros masih berdiri rumah-rumah warga. Satu-dua masih berpenghuni, lebih banyak sisanya ditinggal pergi.

Kebanyakan rumah dindingnya telah jebol, sebuah lanskap yang merekam nelangsa gempa setahun silam.

Memasuki Jono Oge, lanskap berubah menjadi tanah lapang, seperti tanpa batas.

Sekilas, Jono Oge biasa saja. Wilayah ini tidak menyajikan jejak yang cukup dramatis sebagai bukti dampak gempa berkekuatan 7,4 SR yang meluluhlantakkan Palu, Sigi, dan Donggala tahun lalu.

 

Saat itu, tidak muncul pilu di batin saya waktu memasuki Jono Oge, berbeda saat menyaksikan kanan-kiri Jalan Poros.

Yang saya ingat, saya hanya menggumam, “Di luar panas betul, pasti.”

Akan tetapi, perasaan berubah drastis ketika Thomas kembali bicara.

“Pohon-pohon kelapa ini dulu tidak ada. Masih rumah semua,” ujarnya sambil berjibaku mengendalikan setir yang membuang ke sana-sini akibat medan yang buruk.

“Di sini likuifaksi paling parah, selain di Sibalaya (juga di Kabupaten Sigi),” Thomas menambahkan.

Warga Sulawesi Tengah tahun lalu dirundung tiga petaka sekaligus saat gempa menimpa sebagian besar Palu, Sigi, dan Donggala.

Di mana-mana, tanah berguncang. Di pesisir, tsunami menyapu segala yang ada di hadapan pantai.

Di Petobo, Balaroa, Jono Oge, dan Sibalaya, fenomena likuifaksi menggulung segala benda di atas tanah, termasuk 366 rumah di Dusun Jono Oge.

Lapisan tanah yang rupanya memendam air bergolak bersama gempa, menimbulkan pusaran yang tak sampai berapa menit melumat dusun.

Banyak keluarga berpisah tiba-tiba pada peristiwa luka di batas senja itu.

“Tujuh hari setelah gempa saja, so (sudah) tiada rumah berdiri. Becek-becek berlumpur saja. Bau mayat itu di mana-mana,” kata Thomas lagi.

Intinya, Dusun Jono Oge ada di bawah tanah. Mobil kami melintas di atas perkuburan massal.

Setahun tunawisma

Sigi dan Donggala adalah dua kabupaten yang mengepung Kota Palu. Kita bisa menerka bagaimana pemulihan pascagempa di sana dengan bercermin pada pemulihan pascagempa di Kota Palu, ibu kota provinsi, yang luasnya kurang dari seperlima Donggala maupun Sigi.

Di Kelurahan Balaroa, Kota Palu, perasaan siapa pun akan teriris menyaksikan jejak gempa yang masih telanjang.

Tanah yang bergelombang di sana-sini berselimut puing-puing rumah.

Saya tak sengaja bersua Tune (39), warga Balaroa pada Selasa (24/9/2019).

Sore itu, kami berdua bersanding memandangi puing-puing yang menghampar luas, dengan latar siluet perbukitan.

Kami berdua bicara banyak soal nasib para penyintas gempa Sulawesi Tengah di Balaroa.

Obrolan itu lepas ke udara tepat di seberang rumah yang sudah jebol, dengan dinding berpiloks hitam: “Palu kuat. Huntaranya mana”.

Kabar burung bertiup, hamparan puing di Balaroa sengaja dibiarkan agar warga tak membangun lagi rumah di titik rawan likuifaksi itu.

Saat ini, sebagian penyintas di Balaroa, kata Tune, sudah tinggal di hunian sementara (huntara) seperti dirinya.

Akan tetapi, banyak yang juga masih harus terlelap di tenda pengungsian akibat belum kebagian huntara dari pemerintah.

Tune mengaku, mereka pernah tiga kali unjuk rasa, namun nasib tak kunjung mujur.

“Masyarakat sini dulunya orang berada karena pekerjaan PNS. Tetapi, setelah gempa, sudah tiada harta benda, habis semua. Itu kita turun demo sudah tiga kali kalau tidak salah, karena kita memang minta janji (pemerintah) kemarin, minta dorang (mereka) kasih kepastian. Demo lagi tidak ada untung. Empat bulan saya tinggal di tenda, baru kemudian dapat huntara tapi bukan dari pemerintah,” ucap Tune.

Selama berdiam di tenda pengungsian tanpa pekerjaan, Tune paham betul perasaan tersiksa para penyintas yang mesti tidur di tenda tiap hari selagi digentayangi trauma akan gempa.

“Terus terang saya tidak mampu tidur di tenda. Biar kata tetangga punya spring bed, itu tidur di bawah dengan ada air. Memang ada air di bawah, tanah ini kan isi air makanya dia likuifaksi. Macam tidur di atas bak kosong lagi diisi,” kata Tune.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palu, Presly Tampubolon membenarkan bahwa masih banyak penyintas gempa di Palu yang belum kebagian huntara.

Namun, ia mengklaim bahwa pemerintah sudah menyiapkan jumlah huntara yang cukup.

“Kesannya memang belum tertangani optimal. Cuma, kesulitan sekarang ini adalah bagaimana proses meratakan (puing-puing). Harus dipersiapkan peralatan beratnya, kemudian harus dihitung juga pembiayaannya menggunakan apa. Itu yang dipertimbangkan terus,” jelas Presly melalui telepon, Jumat (27/9/2019).

Presly menjelaskan, berdasarkan data termutakhir di instansinya, masih ada setidaknya 473 KK yang masih menempati tenda pengungsian di Masjid Agung Balaroa dan Balaroa Sports Center.

Pemerintah telah menyetop bantuan rutin buat mereka.

Di sisi lain, jumlah huntara yang belum berpenghuni ada di kisaran 300 bilik, dengan tiap bilik seluas 3×4 meter.

Masalahnya, seluruhnya berada di Palu bagian utara, sedangkan Balaroa berada di wilayah barat Kota Palu.

“Kalau semua bisa kita masukkan ke sana, tinggal 100. Nah, kita carikan huntara kosong di wilayah Palu barat lagi,” ungkap Presly.

Di atas kertas, saat ini huntara-huntara di wilayah barat Palu sudah penuh. Akan tetapi, Presly mengklaim, fakta di lapangan menunjukkan bahwa beberapa huntara tersebut tak berpenghuni.

“Kita masih terus koordinasi dengan lurah yang ada huntara di wilayahnya. Karena ada yang sudah terdaftar namanya, bawa kunci huntara, tapi mereka tidak datang mengisi itu. Itu yang saya katakan agar ditertibkan, diambil kuncinya. Manakala mereka enggak menghuni, masukkanlah mereka yang masih di tenda. Tapi kan kuncinya masih harus dicari, mana yang mendaftar tapi tidak menghuni itu,” ia menjelaskan.

Presly menuding bila keberadaan sejumlah organisasi nirlaba yang masih menyuplai bantuan bagi para penyintas gempa di tenda pengungsian Balaroa menyebabkan mereka kerasan mengungsi di tenda.

Membangun kembali

Sebelum menuju Balaroa, saya sempat singgah di bibir pantai di Kota Palu. Di sana masih berdiri kokoh pilar terakhir bekas jembatan kuning ikon Kota Palu.

Jembatan itu kini sudah putus, ambrol ke laut usai diempas gempa pada 28 September 2018. Angin laut menampar pipi bersama butir-butir air laut.

Jalan di pesisir Teluk Palu itu kini sudah ramai. Di beberapa titik, lahan di tepi jalan raya tampak lengang dengan sisa-sisa puing di atasnya.

Akan tetapi, di titik-titik lain, bangunan-bangunan baru tampak dalam proses pengerjaan. Tiang-tiangnya berdiri tepat di pesisir.

Beberapa bangunan baru sudah siap huni; spanduk penanda bengkel maupun warung makan menggantung di atapnya.

“Masih ada masyarakat yang memanfaatkan ruang-ruang itu, walaupun sudah kita arahkan bahwa itu tidak boleh menjadi hunian. Cuma, definisi dari hunian itu jadi problem. Mereka katakan, bukan hunian (yang dibangun) di sini, hanya untuk warung, misalnya. Ini problem kita untuk jangka panjang. Sementara dia bilang warung tapi nanti jadi hunian, kan repot,” jelas Presly, Kepala BPDB Kota Palu, Jumat.

Presly mengaku, pemerintah sudah mengerahkan aparat untuk meminta wilayah-wilayah di sekitar pesisir Teluk Palu bebas dari bangunan.

Total, ada 13 wilayah zona rawan tsunami di sepanjang pesisir Teluk Palu yang mesti steril. Akan tetapi, upaya itu tampaknya tak banyak berarti.

Jika begini, maka upaya pemerintah menggodok rancangan tata ruang dan wilayah (RTRW) berbasis mitigasi bencana boleh jadi menghadapi tantangan berat.

Padahal, kata Presly, RTRW baru ini harus menjadi acuan pembangunan Kota Palu kelak. Tidak boleh ada bangunan yang berdiri di atas zona rawan bencana, baik rawan tsunami, rawan likuifaksi, maupun radius 20 meter di atas jalur sesar Palu-Koro yang memanjang di 6 kelurahan di Palu.

“Kita sudah survei mikrozonasinya,indeks kerentanan, indeks rentan geser, indeks seismiknya. Itu sudah kita masukkan ke bahan dasar menentukan zona tata ruang untuk bangunan yang baru akan dibangun. Ke depan, harus sudah menganut revisi tata ruang terbaru. (Bangunan) yang lama tetap, tidak dipindah,” Presly menjelaskan.

Sebagian Palu kembali dibangun, warganya mulai berderap lagi, kendati meninggalkan para penyintas yang masih tertatih di tenda pengungsian.

Di Donggala dan Sigi, warga-warga kecil mulai menggapai asa dari keterpurukan. Harapan akan nasib yang baru mulai bertunas di pekarangan hari-hari mereka.

Desa Wombo Kalongo di perbukitan Donggala, kini warganya menekuni potensi ekowisata yang baru dilirik dalam pencarian suplai air bersih yang terhenti pascagempa.

Mereka membangun playground di desa mereka, menelurkan ragam kerajinan tangan, dan coba membangkitkan lagi “ekonomi bawang goreng” yang sempat mati suri.

Pascagempa, warga Desa Wombo Kalongo kehabisan ladang menanam bawang merah.

Lenyapnya mata pencaharian juga jadi soal, sebab warga tak mampu menghimpun modal demi menebus bibit bawang merah unggul yang kian mahal.

Terpaksa, ibu-ibu di desa ini kini jadi pegawai upahan demi mengolah bawang merah menjadi bawang goreng, oleh-oleh khas Sulawesi Tengah.

Mereka dibayar Rp 35.000 per keranjang untuk mengolah bawang merah yang dulu dipanen di belakang rumah sendiri.

“Kesulitan di permodalan karena bibit mahal. Kalau dulu, kita beli bibit paling hanya satu kali. Tanam, yang besar kita jual, yang kecil kita jadikan bibit. Sekarang bibit harga sudah Rp 35.000 per kg, itu kalau dia tumbuh bagus cuma bisa jadi 10 kg. Padahal bawang di sini lebih bagus dari mana pun,” ujar seorang ibu, Masturi (56).

Dalam sehari, ibu-ibu seperti Masturi sanggup mengolah 4 keranjang atau setara 16 kilogram bawang merah.

Sementara itu di Sigi, tak jauh dari Dusun Jono Oge yang terkubur selamanya di perut bumi, anak-anak SD Inpres Watunonju mulai belajar tata cara mitigasi kala gempa bumi mengguncang.

Kini, SD Inpres Watunonju dicanangkan jadi sekolah aman gempa. Beberapa gedung baru yang dibangun oleh Wahana Visi Indonesia berbahan papan ringan sehingga tak akan parah melukai murid andai rubuh oleh gempa.

Papan penunjuk arah evakuasi serta titik kumpul juga dibuat.

Di samping itu, lembaga ini bersama sekolah turut menyiapkan tim siaga bencana gempa yang terdiri dari berbagai unsur.

Sebab, pada dasarnya, memang tiada jaminan bila sekolah mereka akan sanggup berdiri tegak ketika gempa yang sudah langganan mengguncang kembali datang sewaktu-waktu.

“Timnya terdiri dari guru, kepala sekolah, siswa. Bahkan penjaga kantin kami masukkan. Kita tidak tahu kapan bencana gempa terjadi. Siapa tahu gempa terjadi saat anak-anak makan, mereka juga bisa tangani,” ujar Gisman, Kepala SD Inpres Watunonju, Rabu (25/9/2019).

Dua puluh murid jadi bagian dari tim siaga bencana ini. Mereka terbagi jadi kelompok pertolongan pertama, kelompok evakuasi, dan kelompok peringatan dini seandainya gempa mendera.

Mereka sudah hafal betul prosedur keselamatan kala sekolah mereka bergoyang karena gempa.

Pendidikan mitigasi bencana itu dikerjakan sekolah, bersama lembaga Wahana Visi Indonesia, melalui lagu anak-anak.

“Kalau saya tim evakuasi, tidak boleh takut lihat darah, harus berani!” ucap salah satu murid, Wahyu, dengan bangga. kompas

LEAVE A REPLY