Mengenal Istilah Catcalling, Kebiasaan yang Sering Dianggap Biasa

0
277
Mengenal Istilah Catcalling, Kebiasaan yang Mesti Segera Punah.
Mengenal Istilah Catcalling, Kebiasaan yang Mesti Segera Punah.

SURABAYA, Nawacita ISTILAH catcalling mungkin masih terdengar asing di telinga. Tapi kalau kamu lihat praktiknya, hal tersebut malah sudah dianggap lumrah di Indonesia.

Bahkan pelakunya merasa tidak berdosa! Anindya Restuviani, co-director Hollaback! Jakarta, gerakan yang berfokus mengakhiri pelecehan di ruang publik, mengatakan bahwa catcalling adalah sebuah kekerasan yang dilakukan secara verbal.

“Enggak harus kekerasan seksual. Biasanya bentuknya berupa shouting, bersiul ataupun manggil-manggil di jalan, itu yang disebut catcalling,” jelas Anindya, akrab disapa Vivi. Karena menggoda di pinggir jalan sudah jadi kebiasaan, sudah jadi ‘budaya’, maka akhirnya sering didiamkan.

Padahal, jelas-jelas catcalling merupakan sebuah pelecehan. Vivi menganalogikan catcalling seperti ‘memanggil kucing di jalan’. “Sebetulnya tidak ada bentuk atau istilah secara eksplisit apa perkataan mereka (pelaku), tapi saat mereka melakukan itu di ruang publik kepada orang asing, maka itu juga disebut catcalling,” tambahnya.
Baca Juga: Mengenal Nomophobia, Ketakutan Berlebihan Saat Jauh Dari Ponsel
Dia berpendapat bahwa istilah catcalling tidak memiliki batasan yang pasti. Fenomenanya di Indonesia memang sudah lama terjadi, tapi Vivi berpikir bahwa terminologi itu baru muncul belakangan ini lantaran tidak adanya terjemahan ke dalam bahasa Indonesia secara literal.

Catcalling juga kerap kali dianggap sebagai candaan belaka. “Saat kita ngomongin kekerasan seksual, maka kunci utamanya adalah korban itu tidak menginginkan. Jadi, kalau si korban merasa itu hanya bercanda dan ia baik-baik saja, memang bisa dibilang itu bukanlah kekerasan, tapi tetap saja dinamakan catcalling,” tandas Vivi.

“Karena catcalling bentuk kekerasan verbal yang dibiasakan, walaupun korban yang di-catcalling ini cuek, tapi tetap yang perlu dilihat lagi adalah dia sadar enggak kalau itu kekerasan verbal?” imbuhnya. Vivi berspekulasi, bahwa para pelaku pun ada yang tidak paham alasan mereka melakukannya.

“Pasti jawabannya, ‘Ya, karena yang lain juga seperti itu’. Jadi, catcalling sudah menjadi budaya. Karena didiamkan dan akhirnya menjadi sebuah budaya,” jelasnya.

Pelaku Anggap Biasa 

Dugaan Vivi ada benarnya. Seorang pelaku berinisial MFN yang diwawancarai Gen Sindo menganggap bahwa catcalling yang dilakukannya adalah candaan semata. Ia mengatakan bahwa catcalling merupakan hal biasa di lingkungannya.

“Jujur, saya baru tahu istilah catcalling. Saya enggak menganggap itu sebuah pelecehan, kalau saya lihat dari sudut pandang lingkungan saya. Karena catcalling itu bukan hanya sebatas merayu atau menggoda seseorang, tapi punya arti luas.

Ini harus diberitahu secara meluas,” kata MFN. MFN juga mengakui kalau ia sering ‘bercanda’ semacam itu kepada teman ataupun adik kelasnya. “Saya cuma memanggil namanya terus senyum, atau memanggil sambil bilang ‘Sstt… sstt..’ dan lain-lain.

Respons mereka enggak ada yang ilfeel atau marah, karena memang saya hanya bercanda, bahkan kadang direspons senyum,” jelasnya lagi. Sementara perempuan berinisial MA yang kerap jadi korban catcalling sering merasa kesal dan sedih saat hal itu terjadi.

Baca Juga: Waspada Gejala Distimia, Depresi Kronis yang Sering Tidak Disadari

“Biasanya kejadian di jalan, di pasar, dan di kereta. Meski cuma perkataan, yang namanya pelecehan tetaplah pelecehan!” katanya sambil mengatakan bahwa para pelaku yang menggodanya biasanya berusia sekitar 20 tahun ke atas. Saat ditanyai apakah ia pernah melawan balik pelaku, MA menjawab biasanya tidak secara langsung.

“Saya hanya menatap tajam, lalu berlari ke tempat keramaian atau berjalan dengan cepat. Beda lagi kalau kondisinya dia berani menyentuh, saya bakalan melawan!”

Semua Bisa Jadi Korban dan Pelaku 

Menurut Vivi, tidak ada ciri atau profiling yang jelas untuk para pelaku. Siapa pun bisa menjadi pelaku dan siapa pun juga bisa menjadi korban. “Kenapa kesannya catcalling ini (identik) dilakukan oleh mas-mas tukang ojek? Ya, karena mereka yang ada di jalan.

Padahal, kekerasan seksual yang terjadi, seperti di tempat kerja, itu kebanyakan adalah mereka yang berpendidikan tinggi. Jadi, kembali lagi, tidak ada profiling yang pasti dalam pelaku kekerasan seksual,” kata Vivi menegaskan.

sdnws.

LEAVE A REPLY