Destinasi Wisata Dengan Kualitas Udara Paling Baik di Dunia

0
699
Pulau Gili Iyang terdapat di Desa Dungkek, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep.
Pulau Gili Iyang terdapat di Desa Dungkek, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep.

SURABAYA, Nawacita Ada dua wilayah yang memiliki kualitas udara terbaik di dunia, dan bisa dinikmati umat manusia untuk memperpanjang usia. Yakni, di Yordania, dan Pulau Gili Iyang.

Pulau Gili Iyang, merupakan gugusan pulau di perairan Pulau Madura, yang secara administratif masuk wilayah Kabupaten Sumenep.

Menjelang senja, Kiki Dian Permatasari (20), duduk di teras sebuah rumah kos di Kampung Gebang, Kota Surabaya. Ini hari keduanya di Kota Surabaya, setelah sehari sebelumnya datang ke kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, untuk daftar ulang di Jurusan Fisika.

Tangannya lincah berselancar di ponsel, sesekali senyum teduh mengembang ketika menjumpai teman-temannya memasang foto selfie di media sosial. Ada temannya berada di gunung yang indah di Bromo, Pantai Papuma di Jember sampai jalanan ramai di Yogyakarta.
Baca Juga: Destinasi Wisata di Bukittinggi Untuk Liburan keluarga
Perempuan yang memiliki rambut sebahu itu harus bisa selektif kalau ingin bepergian. Penyakit asma yang dideritanya kerap menjadi pertimbangan. Liburan yang diidamkan dan petualangan seperti teman-temannya harus dipikirkan dengan matang.

Saat matahari mulai menutup diri dan langit sore yang memerah di Kota Surabaya, Kiki mulai menemukan sebuah tempat yang menyita perhatiannya. Sebuah postingan pantai di Gili Iyang yang dipasang @exploresumenep. “Kata dokter saya butuh banyak menghirup udara yang bersih dan segar,” kata Kiki, Rabu (31/7/2019).

Tangannya bergerak cepat ketika memeriksa satu persatu objek wisata di Gili Iyang terdapat di Desa Dungkek, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep. Hamparan pasir putih, kumpulan tebing, perkampungan yang teduh, rumah warga yang bisa ditinggali serta perjumpaan dengan warga yang memiliki usia panjang.

Senyumnya kini mulai mengembang, tujuan yang diharapkan semakin nyata ketika rentetan destinasi baru di Pulau Madura yang tersembunyi ditampilkan begitu eksotis di Instagram @exploremadura. Ragam kebudayaan dan kuliner yang menggugah selera juga tak luput dari informasi yang diberikan.

Petualangan pun dimulai. Saat temaram malam mulai menyergap, Kiki mulai mempelajari cara dirinya bisa sampai di Sumenep. Pulau yang belum pernah ia kunjungi maupun tersimpan dalam memorinya.

Segera saja ia mengajak Artika Putri, teman satu kost yang sama-sama dari Kediri untuk ikut petualangannya.
Baca Juga: Destinasi Wisata Menakjubkan Yang Wajib Dikunjungi
Dari ponselnya, ia melihat ada dua pilihan transportasi yang mengantarkannya ke Sumenep. Dari Surabaya jarak yang ditempuh mencapai 171 kilometer. Yang bisa ditempuh dengan bus selama 4-5 jam. Naik bus dari Terminal Bungurasih menuju Terminal Arya Wiraraja Sumenep.

Namun, katanya, ada alternatif kedua yang lebih nyaman dan juga murah.  Ia bisa naik pesawat dari Bandara Internasional Juanda ke Bandara Trunojoyo Sumenep yang hanya menghabiskan waktu 35 menit. “Saya akhirnya memilih naik pesawat dengan pertimbangan waktu dan kenyamanan ketika liburan,” katanya.

Malam itu juga, ia memesan tiket pesawat lewat aplikasi penjualan tiket di ponselnya. Untuk sekali perjalanan pesawat, Kiki mengeluarkan kocek Rp269.000. “Nggak jauh beda kok kalau naik bus harganya,” jelasnya.

Setelah semalaman istirahat, besok paginya Kiki memulai petualangan mencari tempat wisata yang membuat awet muda. Dari rumah kos yang ada di Gebang, ia mencoba untuk naik Suroboyo Bus dengan memakai aplikasi Go Bis yang disediakan Dinas Perhubungan.

Ia pun tak perlu mengeluarkan uang dari dompet karena tiga botol bekas air mineral cukup untuk pengganti biaya perjalanannya ke arah bandara Juanda. Kehadiran bus pun bisa dipantau dari aplikasi Go Bis yang memudahkan semua warga di Surabaya mengetahui posisi bus.

Tepat pukul 13.15, Kiki sudah tiba di Sumenep. Ia sudah janjian dengan personil dari @exploresumenep yang didapatnya dari Instagram. Mereka pun naik kendaraan menuju Pelabuhan Dungkek.

Ketika sampai di pelabuhan, perjalanan ke Gili Iyang ditempuh dengan perahu yang menyeberangi perairan Pulau Garam. Butuh waktu 45 menit di atas perahu untuk sampai ke Gili Iyang.

Sejak di atas perahu, ia terus menghirup nafas dalam-dalam. Merasakan kelegaan udara yang masuk di rongga hidungnya. Sesekali sambil memejamkan mata, Kiki melepaskan udara itu dengan pelan dan desis suara yang senyap.

Balai Besar Teknis Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jawa Timur menyebutkan kalau kadar oksigen yang ada di Gili Iyang mencapai angka 20 persen lebih. Kandungan oksigen itu tertinggi kedua di dunia setelah Yordania. Di perkampungan yang ada di Gili Iyang, para wisatawan mudah menjumpai penduduk yang sudah berusia satu abad lebih.

Udara Gili Iyang tidak berbalut polusi seperti di kota-kota lainnya di Indonesia. Lihat saja kandungan karbondioksida di wilayah ini hanya 265 PPM, serta tingkat kebisingan cuma 36,5 db. “Rasanya seperti di desa, tapi lebih sepi dan tenang,” ungkapnya.

Di sepanjang pulau mudah ditemui hamparan pasir putih yang masih alami. Pohon-pohon berukuran raksasa dan rindang ada di berbagai titik. Suara angin yang berhembus tipis melewati telinga dan meninggalkan kenangan di kepala.

Di Gili Iyang tak ada hotel berbintang. Hanya ada ruang kesederhanaan yang terus dipertahankan di sana. Para wisatawan yang ingin menginap dan ingin menghirup udara segar semalaman bisa menginap di homestay warga.

Di depan homestay warga biasanya diberikan bangku panjang yang bisa dipakai duduk maupun rebahan sambil menghirup udara segar sembari ngobrol dengan penduduk setempat yang ramah

Sarapan pagi pun disediakan pemilik rumah. Makanan sederhana yang tetap memanjakan lidah. Sayur pecel dengan irisan pepaya muda. Beberapa rumah lainnya juga berjualan menu sederhana dengan sajian nasi serta makanan ringan. Semua harga yang dipatok pun bersahabat dengan isi dompet.

Pagi harinya,  para wisatawan yang datang ke Gili Iyang bisa menikmati keindahan bawah laut di sekitar pantai berkarang. Selain pasir putih, bibir pantai di Gili Iyang memiliki pesona batu karang yang terhampar di sela mata memandang.

Jelajah pantai pun bisa dilanjut ke kawasan Ropet. Di sana, para wisatawan akan menjumpai fosil ikan paus yang masih meninggalkan jejaknya. Fosil ini memang dirawat penduduk setempat sebagai penanda kedatangan satwa raksasa di sana.

Para wisatawan juga berkesempatan mengunjungi goa legendaris di sana. Setidaknya ada 10 goa yang bisa dijadikan petualangan baru dengan stalaktit dan stalakmit yang memanjakan mata.
Baca Juga: Bali Kalahkan Phuket dan New York, London Destinasi Terbaik
Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa beberapa waktu lalu menyebut Gili Iyang sebagai tempat wisata yang istimewa di Jawa Timur. Wisata kesehatan seperti ini banyak dicari wisatawan yang ingin melancong ke Jatim

Gili Iyang harus terus dikenalkan. Adanya percepatan teknologi menambah informasi lebih masif. Pihaknya juga ingin terus memperbaiki sarana pendukung di sekitar Dungkek.

“Pulau ini memiliki kadar oksigen terbaik kedua di dunia. Akses untuk transportasi ke lokasi kami benahi terus,” katanya.

Melalui wisata kesehatan, ragam wisata memiliki banyak harapan. Tentu saja dengan keinginan untuk terus hidup sehat. Melalui oksigen terbaik bagi umat manusia.

sdnws.

LEAVE A REPLY