Bendahara ESDM Jatim Ditahan Kejari Terkait Suap Izin Pertambangan

0
311
Bendahara ESDM Jatim Ditahan Kejari Terkait Suap Izin Pertambangan.
Bendahara ESDM Jatim Ditahan Kejari Terkait Suap Izin Pertambangan.

SURABAYA, Nawacita – Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya menerima pelimpahan tahap dua (barang bukti dan tersangka) dari Polda Jatim kasus dugaan suap di lingkungan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jatim dengan tersangka Ali Hendro Santoso.

Ali merupakan Bendahara Pengeluaran Dinas ESDM Jatim. Tersangka datang ke Kejari Surabaya sekitar pukul 09.00 WIB dengan menggunakan baju biru serta celana hitam. Tersangka datang ditemani kuasa hukumnya Hadi Aprihandoko untuk menjalani tahap dua di Kejari Surabaya.

Sekitar pukul 15.46 WIB, tersangka keluar dari ruang Pidana Khusus (Pidsus). Saat itu juga pelaku langsung menggunakan rompi tersangka dan dibawa ke Rutan Kejati Jatim. “Tersangka kami tahan di Rutan Kejati Jatim untuk 20 hari kedepan. Penahanan dilakukan agar tersangka tidak melarikan diri dan menghilangkan barang bukti,” kata Kasi Intelijen Kejari Surabaya, Fathur Rochman, Kamis (1/8/2019).

Baca Juga: Direktur Keuangan Angkasa Pura II di Tangkap KPK

Kasus ini bermula setelah adanya operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan Satgas Saber Pungli Polda Jatim pada akhir 2018 lalu. Ali ditangkap bersama kasi  evaluasi dan pelaporan pertambangan Dinas ESDM Jatim, Cholik Wicaksono saat menerima suap Rp30 juta dari pengusaha tambang di Aula Kantor Dinas ESDM Jatim Jalan Tidar. Uang itu ditemukan polisi dari saku celana Cholik. Uang suap itu diduga dari pengusaha tambang asal Pasuruan bernama Nurul Andini.

Pungutan itu dilakukan Cholik Wicaksono untuk memperlancar proses Izin Usaha Pertambangan (IUP) pasir dan batu seluas 1,2 hektare di Sungai Regoyo Desa Gondoruso, Kecamatan Pasiran, Kabupaten Lumajang. Dalam kasus ini, Cholik Wicaksono dinyatakan terbukti bersalah melanggar pasal 11 UU tentang Tindak Pidana Pemberantasan  Korupsi, Juncto Pasal 55 KUHP.
Baca Juga: Fakta Taufik Hidayat Legenda Badminton yang Diperiksa KPK
Hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Cholik, menjatuhkan vonis pidana penjara selama 1 tahun, denda Rp50 juta, subsider 1 bulan kurungan untuk Cholik. Vonis yang dijatuhkan ke terdakwa Cholik Wicaksono ini lebih rendah dari tuntutan Kejari Surabaya yang sebelumnya menuntut agar terdakwa dihukum 1,5 tahun penjara, denda Rp50 juta,subsider 1 bulan kurungan.

sdnws.

LEAVE A REPLY