Aktivasi Rel KA Gerbangkertosusila Plus Bakal Butuh Dana Besar

0
423
Ilustrasi

Nawacita -Pemerintah menyatakan bahwa pengembangan jaringan transportasi berbasis kereta di wilayah Gerbangkertosusila plus sudah waktunya dimulai. Hanya, proyek tersebut butuh dana besar.

Selain untuk penyediaan fasilitas (baik moda angkutan maupun fasilitas lain), rencana aktivasi rel-rel mati membuat proyek itu butuh anggaran jumbo. Bahkan, dari perhitungan awal, kebutuhannya mencapai 25 persen dari total anggaran.

Berdasar hasil studi pengembangan jalur kereta api (KA) Gerbangkertosusila yang dilakukan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bersama operator kereta asal Prancis, proyek tersebut diperkirakan butuh dana 1,055 miliar euro atau sekitar Rp 16 triliun. Sebanyak 250 juta euro di antaranya diproyeksikan dipakai untuk menghidupkan rel-rel mati yang masuk rencana bakal dilintasi. “Karena itu, saat ini pemerintah pusat sedang mendalami skema pendanaan yang feasible untuk merealisasikannya,” kata Kepala Dishub Jatim RB Fattah Jasin.

Koneksitas jaringan angkutan masal berkonsep rail transport system (RTS) di Jawa Timur tersebut bakal menggunakan jalur KA di wilayah ring satu. Meliputi Gresik-Bangkalan-Mojokerto-Surabaya-Sidoarjo-Lamongan plus Tuban-Babat-Jombang.

Namun, hingga saat ini hanya beberapa daerah yang infrastruktur jaringan keretanya sudah siap. Di antaranya adalah jalur kereta Surabaya-Lamongan-Babat. Jalur kereta di wilayah itu malah sudah double track. Demikian juga halnya di wilayah Surabaya. Mayoritas jalur rel yang bakal dipakai berfungsi. “Tinggal nanti di beberapa ruas akan ada pembenahan. Selain itu, di sejumlah ruas di Surabaya direncanakan nanti menggunakan sistem elevated (rel melayang),” katanya.

Jalur lain yang juga sudah bisa dipakai adalah ruas Mojokerto arah Surabaya-Sidoarjo serta jalur Porong mengarah ke Surabaya. “Untuk ruas ini, mungkin yang akan dibenahi hanya Porong. Ada rencana nanti dipindah menjauh dari kawasan semburan lumpur,” ucap Fattah.

Sedangkan jalur-jalur lain butuh aktivasi. Yakni jalur KA di wilayah Gresik serta eks jalur KA yang menghubungkan Tuban-Babat-Jombang. Di luar itu, ada juga jalur di wilayah Jombang ke arah Mojokerto, yakni di wilayah Ploso. Berdasar peta PT KAI Daop 8, dulu terdapat jalur kereta di sisi utara Sungai Brantas.

Rutenya dimulai dari Ploso (Jombang) menuju Kudu hingga wilayah Mojokerto di Desa Ngares lanjut ke dekat Pabrik Gula Gempolkrep. Setelah itu jalur kereta tersebut mengikuti alur sungai ke arah Lespadangan, Kecamatan Gedeg, Mojokerto. Kondisi yang sama terlihat pada jalur kereta di sisi utara sungai itu, yang mengarah ke beberapa stasiun lawas seperti Perning serta Krian.

Satu lagi yang perlu diaktivasi adalah wilayah Madura. Di sana sebenarnya sudah ada jalur rel KA yang menghubungkan seluruh kabupaten di pulau tersebut. Mulai Bangkalan-Sampang-Pamekasan-Sumenep. Jalur kereta di pulau Garam itu dibangun pada 1897 hingga 1913.

Khusus Bangkalan, jalur relnya sudah komuter (memutar) dari Kamal-Bangkalan-Tanah Merah. Karena jumlah rel yang tak aktif itu cukup banyak, ada sejumlah opsi yang disiapkan pemerintah. “Untuk jalur yang memungkinkan diaktivasi, maka dihidupkan. Tapi, untuk yang sudah sulit hidup, opsinya adalah membuat jalur baru,” terang Fattah.

Hal itu pula yang membuat proyek tersebut butuh ikhtiar luar biasa. Tak hanya dari segi pendanaan, tapi juga keterlibatan seluruh stakeholder. “Saat ini pemerintah sedang mengkaji lebih detail bagaimana realisasinya nanti,” ucapnya.

Sejauh ini, kata Fattah, opsi paling memungkinkan untuk realisasi program tersebut adalah sharing pendanaan antara pemerintah dan investor. Persentasenya masih dikaji. Nanti seluruh elemen pemerintah dilibatkan. Bukan hanya pusat, tapi juga pemprov serta seluruh pemkab/pemkot di wilayah Gerbangkertosusila plus

jp

LEAVE A REPLY