Pakar Hukum Tata Negara Menilai Tim Prabowo Tidak Konsisten

0
263
Sidang perdana sengketa hasil Pilpres 2019 di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta.
Sidang perdana sengketa hasil Pilpres 2019 di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta.

JAKARTA, Nawacita – Pakar hukum tata negara dari Universitas Bengkulu, Juanda menilai tim hukum Prabowo Subianto-Sandiaga Uno justru menggiring hakim konstitusi menjadi Mahkamah Kalkulator.

Padahal, kata dia, ketua tim hukum Prabowo-Sandi, Bambang Widjojanto (BW) pernah menyampaikan harapan agar MK tidak menjadi Mahkamah Kalkulator dalam memutus perkara sengketa hasil Pilpres 2019.
Baca Juga: Sidang Sengketa Pilpres Prabowo-Sandi Batal Hadir
Adapun pernyataan itu disampaikan BW saat menyerahkan berkas permohonan kepada Mahkamah Konstitusi (MK) pada tanggal 24 Mei 2019 yang lalu. “Nah kemarin (sidang perdana-red), mau tidak mau pasangan 02 melalui kuasa hukumnya juga menerapkan persoalan ada 37 ribu TPS yang akhirnya memengaruhi 8 juta suara. Nah ini kan menggiring supaya hakim konstitusi juga bicara kalkulator sebenarnya,” tutur Juanda dalam diskusi Polemik Trijaya Network bertajuk Mahkamah Keadilan untuk Rakyat di d’Consulate Cafe dan Lounge, Jalan Wahid Hasyim, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (15/6/2019).

Untuk itu, tim hukum pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 itu tidak konsisten. “Artinya ada ketidakkonsistenan 02 dalam hal memegang prinsip awalnya juga. Agak tercoreng saat itu,” tuturnya.
Baca Juga: MK Siap Terima Pengajuan Sengketa Pemilu
Di samping itu, dia memastikan hakim konstitusi memiliki pandangan yang berbeda. “Tapi saya lihat kemarin itu semua hakim menggunakan paradigma berkeadilan,” ujarnya.

Mengenai gugatan tim hukum Prabowo-Sandi, dia melihat ada upaya untuk meyakinkan hakim dan masyarakat agar apa yang didalilkan bisa diterima. “Persoalannya, mampukah mereka buktikan dalil ini?” ungkapnya.

sdnws.

LEAVE A REPLY