Menurunnya Musik Underground di Malang

0
324

Kepanjen Nawacita – sebuah daerah yang sempat identik dengan musik underground. Tapi, kini sudah sangat jarang menemui alunan musik cadas menggema di sudut-sudut kota.

Ya, kini, tidak setiap pekan ada pertunjungan musik underground.”Sekarang sudah jarang acara, susah dapat ijin. Kalau dulu bisa satu bulan 4 kali main,” kata anggota Komunitas Kepanjen Underground Galih Fathurohman kepada Tugu Malang.

Menurutnya, kejayaan musik bawah tanah sempat cukup hits pada tahun 2010 hingga 2015. Di tahun itu gedung Korpri yang berada di kawasan Pasar Sumedang selalu jadi pilihan. Setiap minggu ratusan muda-mudi selalu memenuhi gedung tersebut. Dengan berjingkrak dengan alunan musik keras, mereka seolah mempunyai cara merayakan hidup, yang juga keras ini.

“Ya setiap minggu pasti ramai, jumlah ratusan. Band-band lokal juga punya tempat untuk beraksi,” jelasnya.

Namun kini pecinta musik underground seperti terpinggirkan. Cap pembuat rusuh sudah kadung melekat di pihak kepolisian. Itu yang membuat mereka kesulitan mendapatkan ijin menggelar acara. “Beberapa kali kerap rusuh, ya namanya banyak orang. Dari situ dapat ijinnya jadi susah, itu jadi awal sepinya,” kata Galih yang juga memiliki band cadas.

Meski tak lagi ramai, tapi ada efek bagus yang muncul. Band-band underground kini lebih fokus membuat karya. Bahkan, mereka mulai melalukan rekaman lagu. Banyak juga yang mulai berpikir untuk menjual karya hingga merchandise. “Mungkin acara tidak ramai, tapi teman-teman jadi berpikir untuk berkarya. Mereka sekarang banyak yang bikin album, jadi lebih hidup,” ungkapnya.

Meski begitu dirinya berharap agar iklim musik semakin hidup di Kepanjen. Tidak hanya underground musik lainnya juga harus punya ruang. Ini sebagai wadah untuk menaungi anak-anak muda. Jangan sampai mereka tidak bisa menyalurkan hobinya dalam bermusik. “Ya jangan hanya underground. Semua jenis musik juga harus di wadahi, ini yang akan membuat musik berkembang,” tutupnya.

kmprn

LEAVE A REPLY